
"Bagaimana, kau berhasil?"
"Biarkan aku mengambil napas."
Keduanya pun terdiam. Pria bermanik biru itu menyalakan mesin mobil dan melaju sebelum Randika menemukan mereka.
"Kau berkeringat Nona."
"Aku sangat gugup tadi" Arumi menarik napas panjang dan mengembuskan-nya kembali. "Apa pakaian ku pantas?"
Pria yang sedang menyetir itu terkekeh "Kau terlihat sangat seksi."
Arumi menatap tajam sesaat "Dasar pria mesum."
"Hei, santai. Jangan terlalu marah, itu akan membuatmu semakin seksi."
Bugh ... plak ... bugh ....
"Auh, sakit Arumi. Hentikan!"
Bugh ... plak ... bugh ....
"Hentikan, atau kita akan menabrak."
"Baiklah." Arumi kembali menghembuskan napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat sebelum lanjut berkata.
"Antar aku ke tempat di mana aku bisa mengganti pakaian ku, ini sangat tidak nyaman."
"Bisakah kau gunakan itu sebentar lagi, kau terlihat sangat cantik dengan itu."
"Brian!"
"Okey ... okey .... Maaf."
"Berhenti menggangguku dan fokuslah menyetir."
Brian tertegun, dia tidak menyangka akan keluar permintaan maafnya untuk seorang wanita. Karena pada kenyataannya belum pernah ada yang menolak gombalannya. Arumi adalah wanita pertama yang melakukan itu padanya.
"Aku yakin, Randika menggila saat melihat mu seperti ini, tadi."
"Dia hampir menyeret ku untuk mengganti baju yang aku pakai."
Brian seketika tertawa dengan keras. "Kau beruntung memilikinya Arumi. Sejujurnya, dia sangat mencintaimu."
"Semoga itu adalah keberuntunganku."
Pria bermata minimalis itu membuang napas berat. Di dalam hati dia bergumam, Randika akan menyesal jika menyia-nyiakan wanita sebaik Arumi.
***
Sepanjang jalan keduanya hanya diam, sampai Brian berbelok pada jalanan yang sempit hingga akhirnya dia menghentikan mobil di sebuah butik yang tersembunyi di tengah-tengah kota. "Turunlah, ganti bajumu di sana. Katakan kau bersamaku."
Arumi menatap Brian sesaat, dia mengisyaratkan agar pria itu menunggu. "Aku akan segera kembali."
•
__ADS_1
•
•
"Dari mana saja kau, kenapa ponselmu tidak aktif."
"Maaf Tuan, aku lupa mengaktifkannya setelah mengisi baterai."
"Lupakan itu. Katakan, di mana Arumi sekarang."
"Aku tidak tahu Tuan."
"What! Bukankah kau selalu bersamanya?"
"Benar, tapi sudah dari semalam aku memutuskan untuk tidak menghubunginya.
"Kau tidak sedang membodohiku bukan."
"Aku tidak berani Tuan."
"Apa kau benar-benar Rilan?"
"Yes it's me."
"Lalu kenapa kau terlihat begitu bodoh!"
"Aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan Tuan."
"Oh shit, Rilan!" teriaknya dengan begitu keras hampir memecahkan gendang telinga Sekretarisnya itu.
"Tuan Baik-baik saja?" tanya Rilan dengan begitu polos.
"Anda tidak ikut Tuan?"
"Berhenti bicara dan pergi sekarang!" ucap pria bermanik hitam itu, seakan ingin menerkam.
"Ba-baik Tuan."
"Dasar aneh."
Randika menatap punggung Rilan sesaat sebelum pria bermanik cokelat itu masuk ke mobil. Dia benar-benar tidak percaya jika pria yang baru saja pergi adalah sahabat sekaligus sekretaris yang selalu dia andalkan dalam segala hal. "Apa benar itu dia?"
🍂
🍂
🍂
Hampir 1 jam Arumi melakukan pencarian di dalam butik, hingga akhirnya wanita itu keluar dengan tampilan yang cukup membuat Brian tidak sempat berkedip.
Arumi menggunakan setelan jas hitam berpadukan kaso putih tipis dari dalam. Rambut panjangnya pun di biarkan tergerai di tiup angin musim gugur. Dengan ukuran tubuh Arumi yang di atas rata-rata, set jas hitam itu terlihat sangat pas. Dia terlihat dewasa dan juga menawan.
"Kendalikan matamu atau akan aku keluarkan dari sana."
"Benar kata Randika, kau mengerikan."
__ADS_1
"What?" Arumi melotot dengan tangan yang siap menjambak rambut Brian.
"Tenanglah. Maksudku cakaran-cakaran itu, bukan yang lain."
Arumi menyimpan kembali tangannya, memperbaiki posis duduknya dan memilih menatap langit dari balik jendela.
"Jadi kita akan kemana Nona," tanya Brian saat ketegangan mulai tercipta.
"Bisa antarkan aku ke bukit?"
"Bukit?"
"Hmm, aku ingin bercerita di sana."
"Dengan siapa?"
"Orang-orang yang aku rindukan."
"Baiklah. Berpeganglah, kita akan segera berangkat Nona."
"Apa kau pikir kita akan menaiki roler coaster."
"Aku hanya bercanda Nona. kau serius sekali."
"Jiwa bercandamu sungguh tidak asyik."
"Aku hanya pandai merayu Nona."
Arumi tersenyum lebar. "Wanita yang mencintaimu akan bahagia dengan jiwa humor mu itu. Setidaknya kalian tidak selalu berakhir di ranjang."
Wanita itu berkata dengan mata yang masih melihat ke arah langit biru, dia seolah menatap hampa tanpa tenaga. Sadar dengan keadaan yang membisu membuat gadis itu menoleh dan mendapati Brian yang terdiam di sana.
"Apa kau takut dia meninggalkanmu?" ujar Brian saat manik keduanya beradu.
"Apa aku terlihat egois jika mengatakan iya?"
"No! You say according to your heart, not because you have to. (Tidak! Kau mengatakan sesuai dengan hatimu, bukan karena kau harus.)"
"Thank you."
"Bagaimana jika Tuhan memberimu satu kesempatan untuk mencintai orang lain."
"Tidak mungkin ada kesempatan seperti itu Brian."
"Kau ingin mencobanya?"
"Apa?
"Keahlian ranjangku."
"DASAR PRIA MESUM!"
Plak ...
Bugh ...
__ADS_1
Plak ....