
"Tuan, bisakah kau tenang. Kau membuat kami pusing karena mondar-mandir seperti ini terus.
"Diam kau!"
"Lebih baik Anda kembali ke kantor."
"Apa!"
"Bukankah Clarisa sedang menunggumu? Dia bahkan sudah mengundurkan Rapat dua jam untuk mu. Biarkan aku saja yang berjaga di sini."
Randika tersenyum miring, sedetik setelahnya dia menatap kesal. "Kau sudah berani memberi perintah rupanya."
"Bukan begitu Tuan, tapi proyek kali ini sangat penting, jika kita gagal mengambil investor, Tuan Besar akan sangat marah kepadamu.
Randika kini semakin menatap tajam ke arah sekretaris andalannya itu, sekarang dia malah membuatnya terpojok. Dia menekuk dahi bimbang. Kedua pilihannya saat ini sama-sama sangat penting.
"Lebih baik kau saja Rilan, lihatlah pria ini sangat gelisah dia bisa mati penasaran jika memaksa untuk ke kantor."
"Tutup mulutmu bangsat! Ini semua ulah mu."
"Baiklah aku saja yang kembali."
"Sungguh," ujar Randika memastikan.
"Iya tentu saja, Kau Tuanku, mana mungkin aku melawan," jawab Rilan dengan wajah yang sedikit kesal.
"Kau memang selalu menjadi andalan ku" ujar Randika menepuk bahu sahabat karibnya itu.
Rilan memutar kedua bola matanya. Sejujurnya dia enggan kembali. Namun melihat kegelisahan pria berkulit putih itu membuat dia luluh dan memilih kembali ke kantor. Dan proyek ini sangatlah penting untuk keduanya. Jika dia tidak kembali, pilihan terberat adalah dia harus kembali ke Prancis karena dipecat oleh Tuan Amirta. Sebelum pergi dia memberi wejangan panjang untuk Randika dan Brian. Randika terlihat mengernyitkan dahi mendengar semua ocehan sahabatnya.
•
•
•
__ADS_1
"Air, Ran aku haus."
"Sepertinya Arumi berteriak."
"Tidak! aku tidak mendengarnya." Brian berbohong.
"Dia meminta Air Brian? apa kupingmu bermasalah."
Randika berlari kecil menuruni tangga dan kembali dengan segelas air. Dia bergegas membuka pintu untuk melihat apakah benar Arumi butuh air atau tidak.
"Habislah sudah riwayatku," Rintih Brian pelan.
"Ran ... bukankah gadis ini yang selalu membuatmu jengkel, lalu kenapa kau peduli padanya," tanya Brian dengan wajah panik saat langkah pertama Randika mulai melewati pintu.
"Dia memang sering membuatku kesal, tapi bukan berarti aku harus mengabaikannya Brian. Jika sesuatu terjadi padanya kedua orang tuaku akan membunuh ku."
"Tapi Ran."
"Sudahla Brian. jika kau terus menahanku gadis itu akan mati kehausaan."
"Tapi." Brian menahan pintu.
"Randika!"
Pria bermanik hitam itu memalingkan wajah saat langkah keduanya. Tubuh mulus Arumi terlihat jelas olehnya. Gadis itu hanya berbalutkan pakian dalam saja. Susah susah payah Randika menelan saliva nya karena gugup.
"Apa Kau sendiri yang membuka semua baju mu mu?"
"Aku haus."
Dia memberikan gadis itu segelas air dan segera berbalik keluar dari kamar. namun langkahnya terhenti saat merasakan ada tangan dingin yang menyentuh lengannya.
"Mau ke mana?"
Brian yang mendengar suara wanita dengan cepat meraih pintu. Namun tangannya kalah cepat Randika sudah lebih dulu menutup pintu. "Tetaplah di luar."
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kalau begitu biarkan Aku masuk." Brian mengambil kembali gagang pintu memutarnya untuk membuka pintu. Namun Randika menahan gerakannya memutar kunci hingga pintu tertutup rapat.
"No! Jangan sekarang."
"Jangan macam-macam Randika. Obat yang Arumi minum sangat kuat. Dia tidak mungkin bisa melewatinya tanpa berhubungan," teriak Brian keceplosan.
"Apa maksudmu?" tanya Randika, yang muncul dari balik pintu dan menatap Brian dengan gusar.
"A-aku tidak sengaja memberikan ba--"
"Berengsek!"
Bughh ... bugh ....
Randika memukul Brian tanpa Ampun. Dia bahkan lupa sedang berada di mana sekarang.
Berulang kali pukulan itu mendarat di wajah Brian, hingga membuat Pria bertubuh semampai itu tersungkur dengan ujung bibir dan hidung yang mengeluarkan darah.
"Ran, maafkan aku."
"Kau bisa membunuhnya."
"Aku menyesal Ran, maafkan aku." Dia mengatup kedua tangannya didepan dada untuk memohon ampunan sahabatnya.
"Ran ... R-an."
"Pergilah!"
"Tapi Ran Aruimi-"
"Aku bilang pergi sekarang!"
__ADS_1
"Demi Tuhan Ran, tidak ada niat buruk sedikitpun untuk Arumi. Tapi jika kau masuk semuanya akan hancur."
Randika bergeming tanpa menatap Brian, dia benar-benar ingin menghabisi sahabatnya saat ini juga. Namun dia tidak mungkin. Satu-satunya jalan, dia harus mengusir sahabatnya itu pergi agar amarahnya bisa meredam.