
Senyuman menghiasi wajah Arumi saat Aurela menghampirinya. "Kau terlihat sangat bahagia pagi ini Arumi, bisa aku tebak?"
"Katakan."
"Randika melamarmu?"
Wanita berwajah pucat itu mengangguk. "Tapi kurasa dia hanya bercanda."
"Kau bahagia saat dia mengatakannya?"
"Ya, aku sangat bahagia," ucapnya dengan mata berbinar.
"Kalau begitu itu adalah benar, kau akan segera menjadi Nyonya Randika Garret."
Arumi memasang wajah datar. "Dia tidak akan melakukannya."
"Pourquoi? (Kenapa?) Kau beruntung memiliki Randika, Rumi. Dia sangat mencintaimu."
Arumi tidak menjawab, dia memilih fokus pada perban yang sedang di lepaskan Aurela. "Kau tidak tahu bagaimana dia memperlakukanku sebelum ini."
"Bukankah semua sudah terbayarkan, kau punya orang tua dan kekasih yang sangat menyayangimu. Randika menjagamu seperti berlian."
"Yah, dia baru sadar setelah mengira aku batu."
Aurela terkekeh. "Luka di kakimu sudah lebih baik, apa kau masih merasakan sakit saat berdiri?"
"Non, hanya sedikit nyeri saat aku berjalan."
__ADS_1
"Aku menyarankanmu untuk menjalani terapi, kau tahu bukan aku seorang dokter hewan, jika hanya memar atau luka luar, aku bisa mengobatinya."
"Merci, (Terima kasih,) aku akan mengikuti saranmu."
"Baiklah, sudah selesai. Kau bisa pulang siang ini, katakan pada tunanganmu agar dapat membayar ku."
Arumi tertawa di ikuti kekehan Aurela. "Aku hanya bercanda Rumi. Jika itu kulakukan, Brian akan mengomeliku dan mengatakan aku dokter dolar."
"Dia teman yang baik."
"Tentu saja, dia adalah pria yang baik. Sayangnya dia tidak bisa menaklukan satu wanita pun sampai sekarang."
"Kau benar, dia mengatakan kalau semua wanita yang mendekatinya hanya menginginkan kekayaannya tidak dengan ketampanan yang dia miliki."
"Itu karena dia hanya ingin bersenang-senang dengan mereka, sejak kapan dia akan benar-benar mencintai satu wanita."
"Apa kau menyukai kak Rilan?
"Butuh bantuanku?"
"Rilan bukan tipe pria yang akan berubah pikiran karena rayuan org lain Arumi, dan aku menyukainya karena itu."
"Kau mengenalnya dengan baik."
"Tentu saja, aku menyukainya lebih dari 4 tahun. Tapi pria dingin itu sangat susah untuk di taklukan." Aurela manrik napas dalam, wanita itu tampak sangat berusaha untuk mendapatkan hati Rilan.
"Baiklah Rumi, aku harus melihat hewan-hewan kesayanganku. Jika Randika bertanya padamu tentang pernikahan, jawablah kau menginginkannya. Jangan menolak jika ada pria yang serius menyatakan cinta padamu, atau kau akan berakhir seperti ku."
__ADS_1
Tidak ada jawaban, Arumi hanya melihat wanita itu pergi dan kembali berbaring saat suara pintu tertutup kembali. Di saat yang sama Randika membuka pintu menuju tepi ranjang dengan membawa paperbag di tangannya. "Apa yang kau bawa?"
"Beberapa baju untuk mu, kau harus mandi sebelum pulang Arumi."
Arumi mengambil paperbag dan melihat ada beberapa potong pakaian untuknya, matanya membulat saat melihat ada beberapa pakaian dalam yang ukurannya sangat pas dengan miliknya. Dia menatap pria yang sibuk dengan surat kabar itu dengan tatapan intimidasi.
"Aku meminta bantuan Aurela untuk membelikannya," ucapnya saat menyadari tatapan tunangannya.
Wajah Arumi terlihat terkejut dan salah tingkah hingga menarik manik hitam itu untuk mendekat. Keterdiaman Arumi membuat Randika bertanya sambil menahan tawanya. " Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Ti-tidak." lalu dia bergegas turun dari ranjang, kakinya yang baru saja melepas perban membuat gerakannya lebih leluasa.
"Apa kau butuh bantuanku?"
"Tidak, aku bisa sendiri."
Saat Arumi hendak melangkah, Randika mencegatnya untuk tidak banyak menekan kakinya. Dengan sigap pria itu menggendong kekasihnya menuju kamar mandi. "Apa yang kau lakukan, turunkan aku!"
"Aku hanya ingin membantumu membersihkan diri."
"Non, aku bisa melakukannya."
"Kau masih sakit Arumi, jangan membantah."
"Hanya kaki yang sakit tidak dengan tanganku."
Randika tampak berfikir sejenak. "Kau benar." Randika lalu menurunkan Arumi pada bathtup yang ada di dalam sana dan keluar meninggalkan wanita itu untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Arumi menggeleng di buatnya, dia selalu pintar memanfaatkan keadaan, otaknya selalu berfikir tentang mesum. Padahal dia suda tahu Arumi sedang sakit. Seakan tahu apa yang di pikirkan Arumi, pria itu tertawa keras sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
.