
"Kau tidak tidur? ini sudah sangat malam."
"Aku takut kau akan meninggalkanku setelah tertidur."
Randika tertawa dan memeluk tubuh mungil kekasihnya. dia menaikan selimut untuk menutupi keduanya hingga batas dada. "Apa kaki mu masih sakit?"
"Tidak, hanya sedikit nyeri pada bagian pahaku."
Arumi memukul tangan Randika yang hendak menyentuh bagian itu, meski pernah melihatnya rasanya aneh jika dalam keadaan sadar.
"Kenapa? kau malu?"
Pipi Arumi memerah, dia menyembunyikan wajahnya di balik selimut membuat Randika kembali terkekeh dan mengeratkan pelukannya. Dia mengecup puncak kepala Arumi cukup lama. Randika yang bersandar di kepala ranjang itu menunduk mengelus lembut jemari Arumi dimana cincin pertunangan mereka tersemat di sana.
Dari semua ini, Randika belajar bahwa jujur adalah nomor satu. Apapun yang akan terjadi, dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada Arumi. Sebab kejujuranlah yang membawa mereka bisa sampai ke titik ini. Mungkin, jika Randika mengatakan semuanya sejak dulu, dia akan merasakan kebahagiaan ini lebih awal. Atau jika dirinya lebih cepat mengetahui kelicikan Evanya tidak akan ada pertengkaran dan Arumi tidak akan terluka.
Tidak pernah sekalipun Randika berfikir akan mencintai Arumi seperti ini, kepergian Evanya membuat dia mendapatkan yang lebih berharga meski di awali dengan perjodohan dan ketidak sukaan. Yang jelas, dia bahagia saat ini.
"Bagaimana kalau kita menikah."
"What?"
"Kenapa kau begitu kaget, bukankah kota sudah bertunangan, lagi pula aku tidak tahan jika hanya memeluk seperti ini."
"Otak mesum, aku pikir kau benar-benar mau menikah karena mencintaiku, ternyata kau menginginkannya," decaknya dengan nada kesal.
__ADS_1
"Hei, kau marah."
Arumi terdiam dia kembali menenggelamkan wajahnya di bawah selimut, hal itu membuat Randika kebingungan. Entah apa yang harus dia katakan untuk mengembalikan mood wanita ini.
"Arumi maafkan aku, aku hanya bercanda, mana mungkin aku menikahimu karena menginginkan itu, aku membutuhkan yang lain juga."
"Yang lain?"
"Yah seperti anak, aku ingin anak pertama kita adalah seorang gadis yang cantik sepertimu."
"No, kita tidak akan melakukannya."
"Hei, setelah kita menikah nanti, semua harus berjalan seperti itu Arumi, kita akan melakukan adegan itu."
"No! aku tidak mau."
"Itu akan terasa sakit."
"Aku tahu, tapi memang harus seperti itu rasanya."
"No!"
Randika tertawa keras. "Aku akan melakukannya dengan pelan."
Arumi terkekeh dia merebahkan kepalanya di dada Randika, menenggelamkannya di sana karena malu. "Pria robot yang mesum."
__ADS_1
Kini keduanya bertatapan kerinduan terlihat jelas dari pandangan masing-masing hingga akhirnya Randika menunduk dan mencium kening Arumi cukup lama menyalurkan kerinduan yang dia rasakan. "Aku mencintaimu Arumi."
"Apa kau akan menjelaskan semua padaku?" Arumi menengadah dengan tubuhnya yang masih di dekap Randika yang mengalirkan kehangatan satu sama lain.
"Itu ...." Randika terdiam ragu untuk mengatakannya, dia malah memeluk Arumi lebih erat dari pada sebelumnya.
"Kau tidak ingin mengatakannya?"
"Arumi sebenarnya aku ...."
"Aku?" ucap Arumi mengulangi.
"Sebenarnya, aku bukannya ingin kembali bersama Evanya, tapi karena Evanya berbohong tentang Mom, membuat aku salah mengira bahwa dia menyakiti Evanya karena ingin memisahkan hubungan kita."
"Lalu?"
"Aku berjanji akan kembali padanya tapi, hanya untuk membuat dia menjadi seorang pianis terkenal, kau tahu bukan pamorku bisa menaikan popularitasnya." Randika menghembusakan napas kuat.
Ada sedikit keraguan di manik cokelat Arumi membuat Randika kembali melanjutkan-nya. "Tapi aku tidak bermaksud untuk kembali mencintainya, hanya kau satu-satunya wanita gang aku cintai Arumi."
"Baiklah, aku percaya."
"Aku sungguh menyesal."
"Aku tahu." tangannya terangkat mengelus dagu Randika. "Kau melakukan hal yang benar."
__ADS_1
Randika merasa legah karena telah mengatakan-nya. Namun, dia berfikir sejenak mengingat dia belum mengatakan semua rahasianya. "Rumi, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu. Ini tentang Evanya."