
Quebec, Kanada.
.
.
Pagi itu burung berkicau mengiringi kedipan mata seorang gadis yang baru saja terbangun dengan selimut yang masih melekat erat pada tubuhnya. Musim gugur di Quebec telah tiba. Bagi sebagian orang musim gugur atau fall di Kanada adalah yang paling indah. Dimana pohon-pohon mapel akan berubah warna dari hijau menjadi kuning lalu orange.
Gadis itu menatap ke arah halaman belakang yang tertancap beberapa pohon mapel yang rindang dan kokoh. Pohon dengan warna daun yang indah itu kini berguguran di hempas angin yang meniupnya seolah mereka tahu akan kesedihan yang tengah di rasakan gadis itu.
Arumi kembali menarik selimut. Saat mendengar derap langka mendekat ke arah kamarnya.
"Nona!"
"Nona, apa kau sudah bangun," teriak Minora dari balik pintu.
"Siapa?"
"Aku, Minora."
Ketika Arumi membuka pintu, dia melihat bukan hanya Minora di sana tapi juga Tuan Muda rumah ini. Kening Arumi berkerut hingga menampakan ekspresi aneh.
"Maaf Nona," ujarnya saat menyadari tatapan Tuannya.
"Minora, aku putuskan untuk tidak menjadikanmu pelayan pribadiku lagi."
__ADS_1
"Tapi Nona, Ini permintaan Tuan Muda. Aku hanya menuruti saja."
"Jika kau ingin tetap menjadi pelayanku, maka ikuti aturanku."
"Baik Nona."
"Pergila."
Arumi kembali melangkang meninggalkan pintu saat Minora sudah pergi. Randika yang masih terlihat kaget dengan perubahan sikap kekasihnya beberapa hari ini pun ikut mendekat.
"Apa kau baik-baik saja Sayang."
"Kau terlihat aneh beberapa hari ini," tanya Randika.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud." Arumi berpaling begitu melihat Randika berjalan ke arahnya. Dia tidak berniat untuk melihat atau bicara kepada kekasihnya.
"Sepertinya kita harus bicara Arumi," ujarnya menahan lengan gadis di depannya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan." Arumi mencoba melepaskan tangan Randika yang menahannya.
"Ada apa denganmu, tidak biasanya kau seperti ini. Katakan apa aku membuat kesalahan?"
"Untuk apa kau datang ke kamarku," ujar Arumi datar, sedatar ekspresi wajahnya saat ini.
__ADS_1
"Je suis seul chéri. C'est comme si tu m'évitais."
"Kau bisa mengajak Kasihmu. Siapa namanya itu ... ah Evanya, Kau bisa bersama untuk menghilangkan kesepianmu," ujarnya dengan penuh penekanan.
Randika tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Berbeda dengan Arumi yang tampak biasa saja. "Dari mana kau mendengar nama itu. Apa yang kau ketahui tentang aku dan Evanya."
Arumi menggeleng kuat merasakan sesak dan sakit secara bersamaan. Kejadian semalam membuatnya menjadi saksi bagaimana besarnya rasa cinta Randika untuk Evanya.
"Arumi, aku bisa jelaskan."
"Kau tidak perlu menjelaskan." Arumi merai pakiannya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak! ini hanya salah paham kami sudah berakhir." sela Randika mencoba menghentikan langkah Arumi.
"Aku harus mandi Randika," jawabnya menepis tangan kekasihnya.
"Arumi, Arumi tunggu! Arumi."
Gadis itu mengabaikan suara panggilan Randika. Dia lebih dulu menutup pintu sebelum mendegar penjelasan dari tunangannya.
Hal itu membuat Randika mendesah pelan. Wanita keras kepala. "Kau mengabaikanku dan mengurung diri karena hal ini," teriaknya ke arah kamar mandi.
"Kau tahu jawabnnya, Randika. Lebih baik kau keluar, Aku akan bersiap dan ikut sarapan nanti."
Setelah Randika keluar Arumi membersihkan diri di bawah guyuran Air hangat. Gadis itu kembali mengingat semua yang di ucapkan Randika saat berada di bawah mimpinya.
"Apa dia memilihku karena kesepian? huh, dasar Pria Robot. Dia seharusnya menjelaskan tanpa harus menungguku bersikap seperti ini. Aku memberinya waktu beberapa hari ini dan dia malah bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Arumi mendesah, ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin hingga suaranya menggema dan merusak pendengaran Randika.
__ADS_1