
"Bobby.. kamu ngapain disini..?"
Annisa menatapnya dengan sinis.
"kebetulan aku ada urusan disekitar sini, dan tadinya aku sekalian mau silaturahmi kerumah kamu..
eeh gak taunya malah ketemu kamu disini..
kamu apa kabar..?"
"alhamdulillah kabar baik.. gimana kabar istri kamu..?"
Annisa mencoba untuk bersikap wajar karena saat ini mereka sedang berada dilokasi umum.
"aku.... sedang proses sidang cerai sama Desy Nis.."
Bobby menunduk dalam.
"maaf, aku gak bermaksud menyinggung.."
"gak apa kok.. oia, maaf aku juga turut berduka atas meninggalnya ibu kamu.. aku baru tau kabarnya dari tante Inggrid.."
"iya.. kalo gak ada yang perlu dibicarain lagi, aku duluan Bob.. soalnya banyak yang perlu aku urus.
assalamualaikum.."
kemudian Annisa berjalan meninggalkan Bobby.
"Nisa... apa kita masih bisa kembali seperti dulu..?"
tanya Bobby saat Annisa sudah beberapa langkah didepannya.
Annisa terus berjalan tanpa menoleh, dan berpura pura tidak mendengar ucapan Bobby.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sore itu perjalanan bis ke rumahnya terasa begitu lambat. banyak hal yang mengganjal dipikiran gadis itu.
siapa, dan apa niat seseorang yang dengan sukarela membantunya mengatasi masalah di resto.
dan...
Bobby...
setelah 2 tahun berlalu, Annisa berusaha untuk mengikhlaskan apa yang pernah terjadi.
dan kini tiba-tiba pemuda itu hadir kembali.
dan heii... apa maksudnya dengan kembali seperti dulu..?
*dulu dia sudah menipuku dan keluargaku, dan sekarang dia justru mengharapkan hal yang sama terulang kembali..?? aku tak sebodoh itu Bobby... lantas bagaimana dengan Desy..?
bahkan dia menceraikan istri yang sudah memberikannya keturunan..
pria brengsek itu, dia pikir wanita adalah barang mainan yang bisa dia beli dan dia buang seenaknya..jangankan untuk kembali, aku bahkan sudah tak sudi melihatnya lagi..*
Annisa membatin.
Akhirnya Annisa tiba dirumahnya, dan Reyhan sudah menunggunya diteras.
"Rey.. udah lama..?"
sapa Annisa
"baru aja kok Nis.. tadi aku singgah ke resto kamu, tapi kata mbak Diana kamunya udah balik, jadi aku susulin kesini.."
"kamu mau jemput Reyna..?"
"hemmm... si anak manja itu, kalo udah ngerasa betah mana mau dia pulang.."
jawab Reyhan sambil tertawa kecil.
"yaa... meskipun manja, tapi sebenernya Ina adik yang luar biasa kan.. dia bahkan bisa bersikap lebih dewasa dari usianya dalam situasi tertentu.."
ujar Nisa.
"jelas dongg... siapa dulu kakaknya..."
Annisa tergelak melihat tingkah Reyhan.
"aku kesini cuma mau lihat Ina kokk.. apa dia ngerepotin kamu..?"
"sama sekali gak kok Rey.. malah aku senang ada Ina disini.. apalagi sejak Ibu gak ada, Lisa dan Ina yang nemenin aku.."
jawab Annisa sambil menghela nafas, teringat almarhumah ibunya.
"ehmmm.. maaf Nis, aku gak maksud untuk menyinggung.."
"gak apa kok Rey.. makasih banget ya, kamu ijinin Ina untuk nemenin aku disini.. kalo gak ada Ina dan Lisa, aku gak tau deh harus gimana.. mereka banyak menghibur dan nguatin aku disituasi terburukku.."
"syukurlah kalo gitu.. setidaknya aku juga bisa tenang kalo Ina sama kamu.. karna kalo Ina dirumah dia justru kesepian.. dan biasanya untuk ngatasin rasa kesepiannya, dia ngajakin Grace ngemall atau hang out..
sebenarnya kalo dia bareng Grace juga aku gak masalah.. tapi kamu tau sendiri kan, Grace itu salah satu orang kepercayaan mama aku. jadi gak bisa selalu nemenin Ina.. dan kalo gak ada Grace, dia justru pergi dengan teman2nya yang setelah aku cari tau ternyata bukan anak baik2.. aku takut Ina terjerumus.."
"hemm... ternyata kamu perduli banget yaa sama adik kamu.. tadinya aku kira, kamu orang yang cuek dan gak mau tau.."
__ADS_1
ujar Annisa
"Reyna itu adikku satu2nya Nis..itulah alasannya kenapa aku minta papa sama mama untuk carikan orang yang tepat untuk jadi guru pembimbing Ina.. bukan hanya untuk membantu pelajarannya, tapi juga untuk merubah dia..."
"kak Rey,, udah lama..?"
Reyna baru saja kembali dan langsung ikut bergabung duduk diteras bersama Annisa dan Reyhan.
"gak, kakak juga baru sampe kok.. tadi cuma mau lihat kamu aja.."
"hemmm.. mau lihat aku,, atau mau ketemu kak Icha..."
ledek Reyna.
Reyhan dan Annisa langsung salah tingkah, bahkan wajah Annisa memerah bak tomat.
"Ina.. apaan siih.. yaudah, kakak masuk dulu ya.. kalian lanjutin ngobrolnya.."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annisa menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. kepalanya terasa berat, terlebih dengan banyaknya peristiwa yang terjadi belakangan ini.
dicobanya untuk memejamkan mata, dan akhirnya gadis itu terlelap.
"dasar perempuan gak tau malu...!!! bisa2nya kamu bersedia menikah dengan dia.. kamu tau gak kalo dia sudah beristri..hahh..???
dasar kamu perempuan j****g...!!!"
"astaghfirullah...."
Annisa terbangun dari tidurnya.
Reyna yang baru saja akan terlelap terkejut dan duduk disamping Annisa.
"kak Icha kenapa..? kakak mimpi buruk..?"
Reyna memberikan segelas air putih yang terletak diatas meja dekat tempat tidur Annisa.
"gak ada apa2 kok Na.. mungkin kakak cuma kecapean aja.."
jawab Annisa berbohong
*aneh.. padahal tadi aku dengar sendiri kak Icha mengigau dalam tidurnya sambil terisak..
batin Reyna
Annisa melirik jam, tepat pukul 01.30 dini hari.
dia bangkit dari tidur, hendak melaksanakan sholat tahajud untuk menenangkan pikirannya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
tak seperti biasa, Reyna sudah bangun lebih awal dan baru saja pulang jogging pagi saat Annisa baru selesai sholat subuh.
"udah sholat Na..?"
tanya Annisa
"iya ini juga mau sholat kak.. aku bersih2 dulu yaa.."
Annisa menuju ke dapur. hari ini hanya ada dia dan Reyna dirumah, karna Lisa sudah kembali kerumah orangtuanya.
"Na, sarapan dulu yuk.. kakak udah masak nih.."
Reyna yang baru selesai bersiap langsung menuju meja makan.
dan saat mereka hendak makan, tiba2 terdengar suara ketukan pintu.
"assalamualaikum.."
"waalaikumsalam..."
jawab Annisa, kemudian dia saling berpandangan dengan Reyna bertanya tanya, siapa gerangan yang datang bertamu sepagi ini, di hari senin pula.
"Reyhan bukan siih..?"
tanya Annisa
"kayaknya bukan kak,, suaranya beda.."
"kakak lihat dulu ya Na.."
kemudian Annisa berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Bobby.. kamu ngapain..?"
Annisa membulatkan matanya seolah tak percaya.
ternyata tamu tak diundang itu adalah orang yang paling tidak ingin dia temui.
"hei Nis.. aku ganggu yaa..?
tadi aku gak sengaja lewat sini, jadi aku sekalian mampir karna aku mau ke kantor, aku rasa gak ada salahnya kan bareng kamu sekalian.. toh kantor aku juga searah sama kampus kamu.."
"siapa kakk..?"
__ADS_1
tanya Ina yang muncul dari belakang.
"bukan siapa2 kok Na, cuma orang salah alamat."
spontan Annisa langsung menutup pintu, namun ditahan oleh Bobby.
"Nis.. tolong kasih aku kesempatan.. aku sayang sama kamu Nis.. dan sampai detik inipun aku masih berharap kamulah yang menjadi pendamping aku.."
Ina yang sudah berada tepat dibelakang Annisa terkejut menyaksikan adegan didepan matanya.
namun bukannya membantu Annisa untuk mendorong pintu, Ina justru menariknya hingga terbuka.
"maaf yaa mas, kak Icha udah punya calon suami. jadi lebih baik mas pergi dan mulai sekarang tolong jangan ganggu kak Icha lagi kalo mas gak mau kena masalah.."
ucap Ina lantang
Annisa menutup mulutnya dengan tangan, tidak menduga apa yang dilakukan oleh Reyna.
"kamu siapa..? beraninya mengancamku dasar anak ingusan..!!"
bentak Bobby.
"mas yakin mau cari masalah sama aku..? jangan nyesal loh,, aku bahkan bisa bikin mas kehilangan pekerjaan..!!"
balas Ina tak mau kalah
"Bob, dia bener. aku udah punya calon suami dan akan segera menikah. jadi tolong jangan pernah muncul dihadapanku lagi, apalagi sampai mengusikku.
apa yang terjadi antara kita, itu hanya masa lalu.."
"gak mungkin... aku gak percaya Nisa.. dan sampai kapanpun aku gak akan pernah rela kalo kamu sampe nikah sama orang lain.. ingat itu.."
kemudian Bobby pergi dari rumah Annisa dengan amarah yang masih memuncak.
Annisa sama sekali tak menduga hal ini akan terjadi.
lututnya terasa lemas, hingga dia terduduk di lantai.
"kakak gak apa2..?"
tanya Reyna sambil membantu Annisa berdiri.
Annisa menggeleng.
"Na.. makasih yaa kamu udah nolongin kakak.. untung aja ada kamu disini.. kalo gak, kakak gak tau harus gimana.."
ucap Annisa yang mulai terisak.
"kalo kakak mau cerita,, aku siap kokk dengerin kakak..
tapi,, ceritanya nanti aja yaa..
soalnya aku udah telat.. kak Rey juga udah otewe kemari mau jemput.."
tak berapa lama kemudian Reyhan sampai, dan terkejut melihat Annisa yang terduduk di sofa dengan wajah yang sembab.
"Nisa, kamu kenapa..?"
"gak ada apa2 kok Rey.."
jawab Annisa sambil menggeleng.
"kakak yakin gak apa2 ditinggal sendiri..?"
tanya Reyna dan dibalas dengan anggukan oleh Annisa.
"yaudah deh.. ntar kakak langsung kunci pintunya ya.. dan kalo ada tamu, sebaiknya kakak intip dulu dijendela.. barangkali orang gila itu datang lagi.. bila perlu jangan terima tamu sampe Ina pulang.."
ucap Reyna mengingatkan
akhirnya Reyna dan Reyhan berangkat, dan Annisa langsung mengunci pintu rapat2.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Na.. sekarang coba kamu cerita sebenarnya apa yang terjadi sebelum kakak datang tadi.."
kemudian Reina menceritakan peristiwa yang terjadi pagi tadi.
bahkan Reyhan ikut terkejut mendengarnya.
*siapa orang itu.. aku harus cari tau.. jika dia berani mengusik Annisa, jangan harap dia bisa hidup tenang..
batin Reyhan
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
assalamualaikum temen2...🤗🤗🤗
mohon dukungan kritik dan sarannya untuk novel perdana author ini yaa..😊😊
dan semoga kalian suka dengan alurnya..
kasih like, dan favorit biar kamu tetap dapat notif yang Insyaa Allah akan UP setiap hari..😊😊😊
kamu juga bisa kepoin author di akun IG @tara_ramadhanie
__ADS_1
gomawoooo😊😊😊