Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
109. Masa Ngidam


__ADS_3

*Flashback


Saat itu usia kandungan Annisa memasuki bulan ketiga.


Entah kenapa setiap hari selalu ada saja keinginan-keinginan aneh yang tiba-tiba Annisa minta pada suaminya.


Seperti malam itu, tepatnya pukul 11 malam.


"Mas..."


Annisa menguyel pipi suaminya yang baru saja terlelap.


"Hmmm.."


Reyhan membuka sebelah matanya.


"Nisa pengen rujak mangga muda.."


Ujar Annisa dengan nada manja.


"Besok aja ya sayang.. tengah malam begini mau cari mangga muda dimana coba.."


Bujuk Reyhan.


"Tapi Nisa pengennya sekarang.."


Rengek Annisa.


Reyhan menghela napas panjang.


"Yaudah, mas cari dulu mangga mudanya.."


Kemudian Reyhan bangkit dari kasur, meraih ponsel dan kunci motornya.


Tak lupa Reyhan menggunakan hodie untuk menghindari dinginnya udara malam.


Pukul 12 malam, namun Reyhan belum juga menemukan yang dicari. Bahkan supermarket dan toko buah semuanya sudah tutup.


Tak kehabisan akal, Reyhan meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Dennis.


"Broo.. gue perlu bantuan.. siaga tiga nih.."


Ucap Reyhan.


"Ada keperluan penting apa sehingga paduka menghubungi hamba selarut ini..?


tanya Dennis dengan gaya sengaknya.


"Annisa ngidam mangga muda.. aku udah cari ke beberapa supermarket dan toko buah, tapi gak ketemu.."


jawab Reyhan polos.


Dennis tertawa mendengar jawaban Reyhan.


"Yaela boss.. lu kira ini di Indonesia, yang memang salah satu negara gudangnya mangga.. Ini Jepang bos, buah mangga bisa dikatakan langka disini.."


Ujar Dennis.


"Iya gue tau panjullll... makanya gue butuh bantuan lu.."


Omel Reyhan.


"Oke, oke.. aku akan minta bantuan temen-temen lain juga."


Jawab Dennis kemudian mematikan ponselnya.


Cukup lama mereka mencari, hingga pukul 2 dini hari barulah salah seorang anak buah Dennis menemukannya dan segera memberikannya pada Reyhan.


Reyhan tiba dirumah pukul setengah 3 pagi dan langsung menuju dapur untuk meracik bumbu rujak.


Untungnya bahan-bahan bumbu rujak masih tersedia di kulkas, karena sebelumnya Annisa juga pernah meminta rujak nanas.


Pukul 3 pagi, Reyhan membawa seporsi rujak mangga muda kedalam kamarnya untuk Annisa.


Namun ternyata istrinya sudah terlelap.


Reyhan mengecup kening Annisa, dan wanita itu tersadar dan mengambil posisi duduk bersandar pada kepala kasur.


"Mas... kok lama..?"


tanya Annisa.


Reyhan memberikan rujak mangga muda yang tadi dia racik sendiri.


"Maaf ya sayang.. disini cari mangga itu susah.."


Jawab Reyhan.


Annisa memandang Reyhan dengan tatapan merasa bersalah.


"Mas.. maafin Nisa ya.. karena keinginan Nisa yang aneh mas jadi kerepotan.."


gumam Annisa sambil menundukkan wajah.


Reyhan duduk di sisi kasur, kemudian memegang tangan Annisa.


"Mas gak pernah merasa direpotkan sayang.. Kamu adalah tanggung jawab mas, dan udah jadi kewajiban mas untuk memberikan segala kebutuhan kamu.."


"Mas gak marah..?"


Tanya Annisa.


"Kenapa mas harus marah..? Mas ikhlas melakukan ini semua, demi kamu dan anak kita.."


jawab Reyhan sambil tersenyum mengelus perut Annisa.


Kemudian Reyhan meraih seporsi rujak yang tadi dia letakkan diatas nakas.

__ADS_1


"Selamat menikmati, tuan putri..."


Ujar Reyhan sambil menyerahkan rujak tersebut ke tangan Annisa.


Annisa tersenyum haru. Dalam hati dia merasa sangat bersyukur, memiliki suami seperti Reyhan yang rela melakukan apa saja demi dirinya.


"I love u my zauji.."


ujar Annisa sambil mengecup pipi Reyhan.


"Love u too my zaujati.."


jawab Reyhan sambil tersenyum mengelus kepala Annisa dengan lembut.


Akhirnya Annisa menikmati rujak mangga muda tersebut sampai tak bersisa.


Keesokan paginya, Reyhan sudah bersiap akan berangkat ke kantor.


Tiba-tiba Annisa memelukya dari belakang dengan manja.


"Masya Allah.. istri mas sejak hamil kayaknya senang banget manja-manja sama suami.."


Ujar Reyhan sambil terswnyum dan membalikkan badannya.


"Ya habisnya mau manja sama siapa lagi kalo gak sama suami..?


sama tukang kebun..?"


jawab Annisa sambil manyun.


Reyhan tertawa geli melihat reaksi Annisa, kemudian menarik Annisa kedalam pelukannya.


"Mas.. jangan lama-lama perginya.."


ujar Annisa dengan nada manja.


Reyhan mengecup kening Annisa sambil tersenyum.


"Mas kan superman.. saat kamu butuhkan, mas akan datang secepatnya.."


jawab Reyhan.


"Iya.. tapi cukup jadi superman untuk Nisa dan anak kita aja, jangan untuk yang lain.."


Ujar Annisa.


Reyhan tergelak.


Semenjak hamil, tampaknya Annisa jauh lebih sensitif.


sikapnya semakin manja, bahkan rasa cemburunya terkadang tidak bisa dia kendalikan.


Mungkin inilab yang disebut hormon kehamilan.


tiba-tiba ponsel Reyhan berdering.


Wanita itu bermaksud membuat pertemuan dengan Reyhan untuk membahas kerja sama perusahaan mereka.


Setelah Reyhan selesai berbicara dengan investor tersebut, Annisa tampak memanyunkan bibir.


"Siapa mas..?"


Tanya Annisa.


"Oh, barusan investor asing sayang. Kemarin mas kirimkan proposal untuk mengajukan kerja sama dengan perusahaan mereka, dan alhamdulillah diterima.


Dia meminta mas menjadwalkan pertemuan hari ini untuk membahas rencana kerja sama itu.."


jawab Reyhan panjang lebar.


"Dia perempuan..?"


tanya Annisa lagi.


"Ya, dia perempuan.."


Jawab Reyhan polos.


"Cantik..?"


tanya Annisa.


"Sayang.. yang namanya wanita pastilah cantik, masak iya mas mau bilang tampan.."


jawab Reyhan lagi.


"Kapan pertemuannya..?"


"Siang ini, sekaligus makan siang.."


"Kalo gitu Nisa ikut.."


Ujar Annisa.


Reyhan mengernyitkan kening.


"Sayang, kamu yakin mau ikut..?"


"Yakin.."


jawab Annisa datar.


Akhirnya tiba waktu pertemuan dengan investor tersebut.


Mereka bertemu di salah satu restoran mewah di Kobe.


"Rehan ssi, mannaseo bangawoyo ..."

__ADS_1


(Tuan Reyhan, senang bertemu dengan Anda.)


Sapa seorang wanita yang telah menunggu Reyhan di salah satu meja yang sudah mereka pesan.


Wajah khas Korea terpancar dari wanita tersebut.


Kulitnya putih mulus, badan ramping dan kaki jenjang dengan rambut panjang bergelombang namun tampak terawat.


99% pria pasti akan berkata : "sempurna"


(Dan Reyhan, masuk dalam kategori 1% nya.)


Wanita itu tersenyum manis dihadapan Reyhan, dan itu membuat Annisa merasa tak nyaman.


Bahkan wanita itu menatap Reyhan dengan intens, sepertinya dia tertarik dengan Reyhan.


"Yura ssi, olaesdong-an dangsin-eul boji moshaessseubnida. eotteohge jinae?"


(nona Yura, aku sudah lama tidak melihatmu. Apa kabar?)


Tanya Reyhan.


"joh-eun sosig dangsin-eun jigeum maeu siwonhabnida."


(Kabar baik


Kamu sangat keren sekarang.)


Beruntunglah Annisa tidak mengerti apa yang mereka katakan, jika tidak mungkin dia akan bertindak bodoh mendengar wanita itu memuji suaminya.


Namun, Annisa merasa tidak nyaman dengan cara wanita itu menatap suaminya.


Kemudian Annisa melingkarkan tangannya dilengan Reyhan.


"Mas, ini klient kamu..?"


bisik Annisa.


"Iya sayang, dia dari korea.."


jawab Reyhan


"Yura ssi sogaehabnida. geunyeoneun nae anae geuligo jigeum geunyeoneun imsinhaessseubnida."


(Nona Yura, perkenalkan. Ini istriku. Dan dia sedang hamil sekarang.)


Yura menjabat tangan Annisa sambil memperkenalkan diri.


"museullim yeoseong-eul mannaseo maeu gippeubnida .."


(Saya sangat senang bertemu dengan seorang wanita muslim)


Ucap Yura sambil tersenyum.


"Mas.. dia bilang apa..?"


Bisik Annisa.


"Dia bilang dia sangat senang bertemu seorang wanita muslim.."


jawab Reyhan.


Annisa tersenyum senang.


Akhirnya mereka menikmati makan siang, sambil membahas rencana kerja sama mereka.


"Rehan ssi, jeoneun uliui gwangyega bijeuniseu pateuneo isang-idoegileul balabnida."


(tuan Reyhan, tadinya kuharap hubungan kita menjadi lebih dari sekadar mitra bisnis.)


"museun tteus-iya?"


(apa maksud anda?)


Yura tersenyum kecut.


"naneun dangsin-eul joh-ahabnida geulaeseo naneun dangsin-ui hoesawa pateuneoswib-e dong-uihabnida."


(Aku menyukaimu


Jadi saya setuju untuk bermitra dengan perusahaan Anda.)


"dangsin-eun boji moshabnida, naneun anaewa hamkke wassseubnida. geuligo naneun geuleul maeu salanghabnida. geunyeoneun naega salanghaneun yuilhan yeojaibnida."


(Anda tidak melihat, saya datang dengan istri saya. Dan aku sangat mencintainya. Dia adalah satu-satunya wanita yang kucintai.)


jawab Reyhan dengan wajah serius.


Annisa yang tidak mengerti ucapan mereka menduga suaminya sedang membahas bisnis dengan Yura.


"gihoega eobs-seubnikka?"


(Apakah tidak ada kesempatan untukku?)


"joesonghabnida, Yura ssi hyeoblyeog gyehoeg-i chwisodoeeossseubnida."


(Maaf nona Yura Rencana kerja sama dibatalkan.)


Jawab Reyhan dengan nada dingin.


Reyhan menarik tangan Annisa yang sedang memainkan ponselnya.


"Sayang, kita pergi sekarang.."


Kemudian Reyhan memeluk bahu Annisa, untuk memberi penegasan kepada Yura.


akhirnya, Yura hanya bisa menatap punggung Reyhan sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2