
Sore itu hujan deras mengguyur Kobe, salah satu kota terbesar di Jepang.
Dennis dan keluarga Kirana baru saja tiba di Kobe setelah menempuh perjalanan dengan pesawat, dan saat ini mereka sedang berada didalam satu mobil menuju ke salah satu apartemen milik Dennis.
Ibu dan adik-adik Kirana tampak tertidur lelap karena kelelahan diperjalanan.
Saat menatap keluar jendela, mendadak Kirana terpekik kaget.
"Mbak Annisa.."
Dennis yang mendengar teriakan Kirana mendadak menekan rem.
"Ada apa Kirana..?"
tanya Dennis.
"Mas.. sepertinya itu mbak Annisa.."
Kirana menunjuk ke salah satu halte bis yang terletak agak jauh dari posisi mereka.
Namun sayangnya, dikarenakan rabun jauh yang dideritanya Dennis tidak dapat melihat dengan jelas.
"Ngaco kamu.. gak mungkinlah Annisa ada ditempat seperti ini, apalagi cuaca sedang buruk. Kamu pasti salah lihat.
Paling juga Annisa lagi tarik selimut dirumah."
Kemudian Dennis melajukan mobilnya.
"Apa gak sebaiknya kita cek dulu mas..? Aku rasa itu memang mbak Annisa.."
Namun saat Dennis menghentikan mobilnya, sebuah bis berhenti di halte yang ditunjuk oleh Kirana.
Dennis memberikan sebuah payung pada Kirana.
Kemudian Kieana keluar dari mobil dan bermaksud menghampiri wanita yang dia yakin adalah Annisa.
Namun saat bis di halte tersebut berangkat, wanita itu sudah tak ada disana.
"Mas.. coba ikuti bis itu.."
Ujar Kirana sambil menunjuk sebuah bis yang sudah mendului mereka.
"Kirana.. mungkin kamu salah lihat. mana mungkin Reyhan membiarkan Annisa berkeliaran sendiri, apalagi dikota ini. Kamu tahu sendiri kan, Annisa tidak bisa berbahasa Jepang. Dia juga tidak tahu daerah ini."
Kirana menghembuskan napas panjang.
"Iya, semoga aja aku salah lihat mas.."
jawab Kirana.
Dennis kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Kirana menyalakan ponselnya, dan mencoba menghubungi Annisa.
Namun panggilannya tidak tersambung.
"Mas, coba hubungi tuan Reyhan.."
pinta Kirana.
Meski merasa janggal dengan permintaan Kirana, namun Dennis tetap melakukannya.
Namun sama seperti Annisa, ponsel Reyhan juga tidak bisa dihubungi.
"Aneh, ponsel Reyhan juga gak bisa dihubungi. Aku coba hubungi kerumahnya."
guman Dennis.
Dennis menghubungi nomor telepon kediaman O-Bachan, yang kemudian dijawab oleh salah satu ART.
setelah berbicara sebentar dengan ART tersebut, Dennis mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Reyhan dan Kirana ada dirumah sakit XXX.
semalam Annisa tiba-tiba pingsan."
Ujar Dennis.
"Astaghfirullah.. Yaudah, kita kerumah sakit sekarang mas.."
Tanpa berpikir panjang Dennis memutar balik mobilnya dan segera menuju ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari halte tersebut.
Setibanya dirumah sakit, Dennis langsung menanyakan ruangan Annisa kepada pihak administrasi.
Setelah mengetahui ruangan tempat Annisa dirawat, Dennis dan Kirana bergegas menuju ruangan tersebut.
Namun setibanya mereka disana, ruangan itu justru kosong. Tak ada seodangpun didalamnya.
Dennis melihat ponsel milik Reyhan terletak diatas nakas. Itu artinya Reyhan ada dirumah sakit ini.
tapi, dimana mereka?
Saat mereka sedang kalut, tiba-tiba Reyhan muncul dengan wajah yang sedikit kusut.
"Rey, dimana Annisa..?"
tanya Dennis.
Reyhan membulatkan mata, tak menduga jika Dennis ada disana.
"Dia ada didalam.."
jawab Reyhan datar sambil menunjuk pintu ruangan dimana Annisa dirawat.
"Gak ada siapa-siapa didalam, ruangannya kosong."
jawab Kirana.
Reyhan tampak terkejut, kemudian dengan sigap masuk kedalam ruangan dan mencoba mencari Annisa. Namun dia tidak menemukannya, bahkan toilet juga kosong.
Tanpa berbicara panjang lebar Reyhan langsung meninggalkan Dennis dan Kirana.
Saat Dennis akan mencari Annisa, Kirana menahan lengannya.
"Mas.. jangan-jangan, orang yang aku lihat tadi benar mbak Annisa.."
gumam Kirana.
Wajah Dennis tampak menegang.
"Kita coba cari disekitar sini, semoga aja kamu salah lihat."
Ujar Dennis.
Namun diam-diam Dennis mengirimkan pesan kepada Aldo.
Dia meminta Aldo untuk melacak keberadaan Annisa.
*barangkali yang Kirana lihat memang benar Annisa
batin Dennis.
Reyhan sudah bertanya kepada beberapa orang security, namun tidak seorangpun melihat Annisa.
merasa mulai putus asa, Reyhan meminta pihak keamanan rumah sakit untuk membuka rekaman CCTV.
Dan betapa terkejutnya Reyhan, saat salah satu rekaman CCTV memperlihatkan Annisa yang berjalan terhuyung keluar dari area rumah sakit sendirian.
Reyhan meminta copian rekaman tedsebut kepada pihak keamanan, kemudian mengirimkannya kepada Dennis.
"Mas... benar dugaanku.. wanita yang ada dihalte tadi adalah mbak Annisa..
pakaiannya sama persis..!!"
__ADS_1
Pekik Kirana saat melihat rekaman CCTV yang dikirimkan oleh Reyhan.
Dennis segera memberitahukan hal tersebut kepada Reyhan.
Dia juga meminta Aldo untuk melacak bis yang ditumpangi Annisa.
"Apa sebenarnya yang terjadi.. kenapa Annisa sampai kabur seperti itu..?"
tanya Dennis saat sudah bertemu dengan Reyhan.
"Dia udah tahu semuanya Den.."
jawab Reyhan sambil mengatur napas yang terengah.
"Hah? apa maksudmu?"
Dennis tampak tak mengerti.
"Annisa sudah tahu soal kecelakaan itu. dan inilah yang kutakutkan selama ini.."
jawab Reyhan.
"Apa kau memberitahunya?"
Reyhan menggeleng.
"Dia menemukan bukti-bukti yang ada diruang kerjaku."
Reyhan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Astagaa Maesarooohh.. jadi kau masih menyimpan barang-barang itu..?
buat apa lagi..?
toh kamu udah ketemu Annisa kan, dan situa bangka itu juga udah tewas.."
Reyhan tak menjawab.
Dia tetap menyembunyikan wajah dibalik kedua tangannya.
"Ini semua salahku Den.. Harusnya aku gak terpancing emosi.. Harusnya aku berusaha membujuknya.. Harusnya aku lebih bersabar menghadapinya.. aku benar-benar kehilangan kendali Den.. Aku gak bisa menahan amarahku ketika Annisa memintaku menalaknya.."
Ujar Reyhan sambil terisak.
Dennis menepuk pundak sahabatnya tersebut.
Ini pertama kalinya dia melihat Reyhan begitu terpukul.
"Tenanglah, kita pasti akan segera menemukannya.
Ini Kobe boss, basis terbesar sekaligus daerah kekuasaan Yakuza.
anggota kita banyak tersebar dikota ini.
Kita pasti akan menemukannya."
Ujar Dennis berusaha menenangkan Reyhan.
"Aku akan mencarinya. Ya, aku harus mencarinya.
Aku harus.."
Saat Reyhan hendak berdiri, Dennis menahannya.
"Tenanglah.. aku sudah meminta Aldo melacak keberadaannya.
dan seperti yang kukatakan tadi, ini daerah kita.
pasti kita akan menemukannya dengan segera."
"Semoga kau benar Den."
__ADS_1
gumam Reyhan sambil msnarik napas dalam.