Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
08. Kehilangan...


__ADS_3

siang itu cuaca tampak tak bersahabat. hujan rintik mengiringi kepergian ibu Hanum, ibu dari Annisa.


alam pun seakan turut berduka karena kepergian dari sosok ibu yang sangat luar biasa.


Annisa memegang erat Al-Qur'an ditangannya, membacanya sambil terisak untuk sedikit menenangkan perasaannya yang sangat kacau.


Reyna, Lisa dan Dwi yang berada disampingnya senantiasa memeluk dan berusaha untuk menguatkannya.


jiran tetangga pun sudah berkumpul, dan turut merasakan kesedihan karena kehilangan bu Hanum, sosok yang sangat baik dimata mereka.


bahkan orangtua Reyhan dan Reyna pun turut hadir saat itu.


fardu kifayah telah dilaksanakan,proses pemakaman pun usai.


satu persatu warga mulai meninggalkan pemakaman.


dan akhirnya hanya tersisa beberapa orang terdekat Annisa, juga Reyhan dan keluarganya.


"Nisa... ibu turut berduka cita atas meninggalnya ibu kamu.. kamu harus tetap kuat ya sayang.. selalu doakan beliau, semoga beliau khusnul khotimah dan diberi tempat terbaik disisi Allah.."


ucap Bu Nirmala tulus sambil memeluk Annisa yang masih tersedu.


"Nisa.. kehilangan orang yang paling kita sayang memang sangat menyakitkan. tapi, saya yakin, kamu akan mampu melaluinya. setiap inchi apapun yang ada didunia ini adalah milik Allah, termasuk diri kita yang Allah titipkan pada kita. dan jika suatu saat Allah ingin mengambilnya kembali, kita harus ikhlas mengembalikannya. karna dibalik keikhlasan itu, Allah selipkan rahmat yang sangat besar untuk kita.."


sambung pak Restu yang juga berusaha menguatkan Annisa.


"makasih pak,bu.. insyaa Allah aku akan mencoba ikhlas.


karena aku yakin apapun yang sudah Allah tetapkan, adalah yang terbaik bagi hambaNya.."


jawab Annisa yang masih menangis sesegukan.


"Rey, Ina, papa sama mama balik duluan ya. kalian temani dulu Annisa, sampai dia benar2 tenang.."


"iya pa.."


jawab Reyhan


"Nisa, bapak dan ibu pamit dulu.. kamu yang sabar ya.."


Annisa mengangguk perlahan.


"Cha.. kamu harus tetap kuat yaa.. kamu gak sendiri kokk.. kamu masih punya aku, juga teman2 yang sayang dan peduli sama kamu.."


ucap Lisa sambil memeluk sahabatnya itu.


"kak Lisa bener kak.. kakak gak sendiri.. Ina juga sayang sama kakak.. bagi Ina, kakak itu udah kayak kakak Ina sendiri.."


timpal Reyna


"makasih banyak ya.. kalian tetap menemani aku dalam situasi terburukku.. aku bersyukur, karena Allah pertemukan aku dengan orang2 seperti kalian.."


jawab Annisa dan langsung dibalas dengan pelukan oleh Lisa dan Reyna.


sementara itu Dwi yang sedari tadi berdiri agak jauh dari posisi yang lain sedang menebak nebak dalam hati apa sebenarnya hubungan Annisa dengan Reyhan, karena mereka terlihat begitu dekat hingga orangtuanya yang sangat jarang berada di Indonesia pun sampai menyempatkan waktu untuk melaksanakan fardu kifayah ibu Hanum.


namun setidaknya gadis itu paham, bukan saat yang tepat untuk membahasnya.


"Nisa.. aku pamit dulu ya.. aku juga turut mendoakan, semoga ibu kamu khusnul khotimah.."


ujar Dwi sambil mengelus bahu Annisa dan dibalas anggukan oleh gadis itu.


dan akhirnya hanya tersisa Reyhan, Reyna dan Lisa yang masih setia menemani Annisa dipemakaman tersebut.


"Cha.. udah sore.. kita pulang yuk.. kamu pasti lelah.."


bisik Lisa.


kemudian Lisa dan Reyna memapah Lisa yang masih terisak.


saat berjalan beberapa langkah, tiba2 Annisa nyaris ambruk. beruntung ada Lisa dan Reyna yang memapahnya hingga dia tak sampai terjatuh.


-----------------------------------------------


malam itu Lisa dan Reyna memutuskan untuk menemani Annisa dirumahnya, karena gadis itu tampak masih sangat terpukul telah kehilangan ibunya.


(INFO PENTING...!!!mohon maaf author gak buat prosesi tahlilan dalam part ini, karena menurut hukum syariat tahlilan itu bid'ah dan dianggap sebagai perbuatan meratap yang dilarang oleh Rasulullah sesuai hadist Imam Ibnu Majah no.1612 dengan sanad sahih)


-----------------------------------------------


selepas sholat isya, Annisa kembali membuka lembaran Al-Qur'an dan membacanya.begitu juga dengan Reyna dan Lisa.


tak dapat dipungkiri, hatinya memang masih sangat terguncang atas kepergian ibunya.


namun dia pun tak ingin berlarut dalam kesedihan.


karena apa yang sudah Allah tetapkan pasti akan berlaku, dan tak ada seorangpun yang mampu menolaknya.


-----------------------------------------------


malam itu Reyhan tampak sangat gelisah.


berkali kali dia bangkit dari ranjangnya sambil mengusap wajah.


pesan terakhir bu Hanum sesaat sebwlum beliau menghembuskan nafas terakhir kembali terngiang ditelinganya.


"Ibu titip Annisa di kamu.. Tolong jaga dia ya.."


kata-kata itu membuatnya gusar dan bimbang.


"bu Hanum... saya takut bu... saya takut tidak mampu menjalankan amanah ibu...


saya bukan pria yang baik bu..."


gumam Reyhan.


sesaat kemudian dia bangkit mengambil air wudhu, lalu tampak khusyuk dengan Al-Qur'an ditangannya.


waktu menjelang pukul 01.00 dini hari saat Reyhan menutup Al-Qur'an ditangannya, kemudian pria itu melakukan ibadah sholat tahajud.


"Ya Allah... Engkaulah yang merancang segala sesuatu, dan semuanya berlaku atas kehendakMu.. maka tolonglah hamba yaa Allah, berikan hamba petunjuk.."


begitulah sepenggal do'a yang diucapkan pria berhidung mancung itu diakhir sholatnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


sementara itu dirumah Annisa...


Gadis itu juga baru saja usai melaksanakan sholat tahajud.


diliriknya ke arah kasur, Lisa dan Reyna sudah terlelap dengan damai.

__ADS_1


"terimakasih.. kalian tetap ada disaat aku terjatuh.."


gumamnya sambil menitikkan airmata.


ditariknya selimut untuk menutup tubuh Reyna.


"Ina.. terimakasih karna kamu sudah menganggapku sebagai kakakmu.."


kemudian Annisa membaringkan tubuhnya dikasur.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


pagi itu Annisa terbangun lebih awal dari yang lain.


gadis itu memang sudah terbiasa bangun sebelum subuh untuk melaksanakan sholat subuh.


dilihatnya dua wanita yang sejak kemarin menemaninya masih terlelap, dia urungkan niatnya untuk membangunkan Lisa dan Reyna.


"mereka pasti lelah, sejak kemarin menemaniku yang dalam keadaan kacau.."


gumamnya.


setelah membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh, Annisa menuju dapur untuk masak sarapan.


"hemmm... aku masakin nasi goreng aja deh.. mudah-mudahan mereka suka.."


kemudian Annisa mulai sibuk dengan segala perkakas dapur.


tepat pukul 06.00 pagi saat Annisa selesai berjibaku dengan perlengkapan dapur.


Reyna baru saja keluar dari kamar menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi.


sedangkan Lisa sedang sibuk membersihkan rumah.


"Nis.. kamu ngampus hari ini..?"


tanya Lisa menghampiri Annisa yang masih berada didapur.


"hemm.. kayaknya pagi ini aku mau ke resto dulu Lis,


ada beberapa hal yang perlu aku urus..


kamu tau sendiri kan, sejak ibuku sakit-sakitan resto jarang terurus..


untunglah ada mbak Diana yang selama ini ngehandle.."


"hemm.. yaudah, ntar sekalian bareng aku aja yaa.."


ujar Lisa


"eeh gak usah Lis.. kan beda arah.. ntar kamu telat ngampus loh.. aku bisa naik bis kokk.. lagian pagi ini kamu ada tugas presentasi kan.."


"oh iyaa... astaghfirullah.. hampir aja aku lupa.. tengkyu yaa Nis udah ngingetin aku.."


kemudian Lisa buru-buru bersiap.


sementara itu Reyna sudah terlihat rapi mengenakan seragam sekolahnya. karena mulai hari ini dia didaftarkan di sekolah normal.


"kak,, mau berangkat bareng..?"


tanya Reyna


kamu berangkat sama Lisa..?"


"gak kak,, tadi aku udah chat kak Rey.. bentar lagi dia jemput.."


"ohh.. yaudah, kamu sarapan dulu yaa.. kakak udah siapin nasi goreng.."


kemudian Reyna duduk dimeja makan dan mulai menikmati nasi goreng buatan Annisa.


"kakk.. sumpah ini enak banget looh..."


puji Reyna dengan wajah berbinar.


"alhamdulillah kalo kamu suka.."


balas Annisa


"kakk.. kakak yakin gak apa dirumah sendiri..?"


tanya Reyna tiba-tiba


"Insyaa Allah kakak gak apa Na.. kamu gak perlu khawatir ya.."


jawab Annisa sambil tersenyum.


spontan Reyna langsung memeluk Annisa.


"kalo kakak butuh temen, atau butuh apapun, kakak jangan sungkan ya bilang ke Ina.. karna buat Ina, kakak itu udah kayak kakak Ina sendiri.."


tanpa sadar Annisa menitikkan airmata haru. dia tak menyangka gadis belia yang selama ini dikenalnya bersikap manja dan kekanakan, disaat seperti ini justru bisa bersikap bijak.


"makasih banyak ya Na.. karna kamu udah nemenin kakak, hibur kakak, dan berusaha menguatkan kakak.."


ucapnya lirih.


"sebenernya bukan cuma Ina.. kak Rey juga khawatir banger sama kakak.. tadi malam kak Rey bolak balik chat aku cuma untuk mastiin keadaan kakak.."


deg.....


jantung Annisa lagi-lagi berdetak tak wajar.


namun buru-buru dia menepisnya dengan beristighfar dalam hati.


"kakk.. boleh Ina minta sesuatu..?"


"kamu mau minta apa Na..?"


"boleh Ina panggil kakak dengan panggilan kak Icha..?"


Annisa mengangguk sambil tersenyum, meski diwajahnya masih tersisa duka mendalam setelah ditinggalkan oleh orang yang paling dia sayangi.


tak lama kemudian, Reyhan pun tiba untuk menjemput Reyna.


"kamu udah baikan Nis..?"


kalimat itulah yang pertama kali Reyhan tanyakan saat dia sudah berdiri dihadapan Annisa.


"alhamdulillah.. jauh lebih baik.. makasih ya Rey, karna kamu izinin Ina untuk nemenin aku disini.."


jawab Annisa tulus.

__ADS_1


"trus kamu ngampus gak hari ini..?


mau bareng..?"


"pagi ini rencananya aku mau ngecek resto Rey.. sekalian ada yang perlu aku urus juga.."


"yaudah biar sekalian aku anterin bareng Ina yaa.. restonya kan searah sama sekolah Ina.."


Annisa mengangguk.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


sesampainya direstoran...


"assalamualaikum.."


Annisa menyapa para karyawan yang sedang bekerja.


"waalaikumsalam mbak Nisa.."


kemudian Annisa berjalan menuju ruang belakang,


untuk menemui mbak Diana, asisten almarhum ibunya yang selama ini menghandle restoran.


"Nisa.. gimana kabar kamu nis..?"


tanya mbak Diana sambil memeluk Annisa


"alhamdulillah kabar baik mbak Di.. maaf yaa aku datang mendadak.."


mbak Diana menggeleng


"biar gimanapun juga sekarang restoran ini udah menjadi hak kamu Nis.."


Annisa mengangguk.


"mbak Di.. sebenarnya ada masalah apa di resto..?


ibu gak pernah cerita sedikitpun sama aku tentang masalah di resto ini.. bahkan sampai ibu sakit pun, itu karena ibu kepikiran sama restoran ini...


sebenernya ada masalah apa mbak..?"


Mbak diana menarik nafas dalam


"Nisa.. sebelumnya mbak pernah janji sama ibu kamu untuk gak cerita apapun masalah disini.. tapi karna sekarang beliau gak ada, dan kamulah selaku pewaris dari restoran ini.. mbak rasa kamu perlu tau masalahnya.."


Annisa duduk di sofa, sambil menatap sendu pada mbak Diana.


"jadi sebenarnya, dulu ibu pernah bekerja sama dengan salah satu investor untuk mengembangkan restoran ini.


ibu kemudian meminjam dana yang besar, dan berencana merenovasi restoran ini agar terlihat lebih mewah dan berkelas.


saat dana pinjaman sudah ditangan, tiba-tiba saja ayah kamu mengalami kecelakaan dengan luka yang cukup parah.


karena saat itu ibu kamu sedang fokus dengan kondisi ayah kamu, ibu mempercayakan resto kepada mas Toto, karyawan kepercayaan ibu waktu itu.


bahkan ibu menyerahkan semua dana yang sudah ibu pinjam dari investor untuk diatur oleh mas Toto.


tapi sayangnya, mas Toto justru merusak kepercayaan ibu.


dia kabur begitu saja dengan membawa uang yang dititipkan ibu kepadanya..disitulah semua masalahnya bermula.."


mbak Diana menjelaskan masalah yang swbwnarnya terjadi direstoran tersebut.


"astaghfirullah....trus gimana dengan masalah uang pinjaman itu mbak..? berapa banyak yang ibu pinjam..?"


"waktu itu ibu meminjam 1,5M Nis..


dan sebagian sudah ibu cicil..


namun sejak bulan lalu, pihak investor justru ingin mengambil alih restoran ini. mereka berencana membangun sebuah penginapan lengkap dengan bar mini. tentu saja ibu menolak.. karena selain tempat itu akan digunakan untuk bermaksiat nantinya, ibu juga masih memikirkan nasib para karyawan di restoran ini..


jika restoran ini diambil alih oleh investor, maka semua karyawan disini akan kehilangan pekerjaan..


seperti yang kamu tahu Nis.. mayoritas karyawan di restoran ini adalah orang2 dengan pendidikan yang minim, dan sudah berusia hampir kepala empat. tentunya akan sangat sulit bagi mereka untuk mencari pekerjaan lain yang layak.."


Annisa menarik nafasnya yang mulai terasa sesak.


"apa ada cara lain selain menyerahkan restoran ini kepada investor mbak..?"


"satu-satunya cara, kita harus segera melunasi sisa hutang itu Nis.. jumlahnya 850 juta.."


Annisa menutup mulut dengan tangannya, tangisnya pun tumpah.


"astaghfirullah... cobaan apalagi ini yaa Allah...."


Annisa menangis tersedu.


Annisa melangkah keluar dari restoran dengan langkah gontai.


hatinya berkecamuk.


baru saja dia kehilangan ibunya, kali ini dia juga tidak mampu mempertahankan restoran yang sudah dibangun ibunya susah payah. dia kehilangan semuanya. tak ada lagi yang tersisa. tiba-tiba pandangannya terasa buram, gelap dan akhirnya...


brukkkkk


Annisa ambruk didepan restoran.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


assalamualaikum temen2...🤗🤗🤗


mohon dukungannya untuk novel ini yaa..


jangan lupa like dan favorit,,


biar kamu bisa dapetin notif UP nya..


Insyaa Allah author bakal usahain UP setiap hari,,


(itupun kalo kerjaan author bisa di handle yaak..😂😂)


karena selain nulis, tentunya author juga punya segudang aktifitas..😂😂


aku tunggu kritik dan saran kalian dikolom komentarnya yaa...😊😊


betewe,, follow juga akun ig author


@tara_ramadhanie


gomawooo....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2