Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
80. Melepas Rindu


__ADS_3

Sudah beberapa hari sejak Reyhan dirawat, lukanya pun sudah mulai mengering.


Selama itu juga dia selalu rutin menghubungi Annisa agar istrinya tak khawatir.


"Dok.. apa saya bisa pulang sekarang..?"


Entah sudah keberapa kalinya Reyhan menanyakan hal ini pada Dokter yang menanganinya.


Dokter tersebut menarik napas dalam


"Sebenarnya Anda masih perlu dirawat, terlebih karena luka di bahu anda belum mengering sempurna.


Tapi jika memang anda bersikeras, kami bisa membuat pengecualian."


"Jadi saya bisa pulang Dok..?"


wajah Reyhan tampak berbinar.


"Dengan catatan, Anda harus rutin check up setiap hari sampai luka anda mengering.


Dan, Anda harus istirahat total. Jangan melakukan pekerjaan berat seperti menyetir, atau mengangkat beban yang berat."


Titah Dokter.


"Siap, laksanakan Dok.. yang penting saya bisa pulang.."


Jawab Reyhan sumringah.


Meski merasa khawatir, namun Tuan Restu dan Dennis tak tega melihat Reyhan yang setiap hari uring-uringan ingin segera pulang.


*Ternyata begitu rasanya punya istri..


Batin Dennis.


Setelah membereskan semua pakaian dan menyelesaikan proses administrasi, akhirnya siang itu Reyhan bisa tersenyum lega.


Sebentar lagi dia akan bertemu dengan bidadarinya,


sosok wanita yang beberapa hari ini membuatnya uring-uringan menahan rindu.


Dia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya, Karena dia ingin memberi kejutan kecil untuk istrinya.


Sementara itu di kediaman O-Bachan..


Annisa berjalan menuju dapur, ketika tiba-tiba tanpa sengaja dia mendengar percakapan dua orang bodyguard yang sedang berjaga.


"Astaghfirullah Mas...."


Annisa terperanjat kaget dan mendapati posisinya di dalam kamar.


"Assalamualaikum My Zaujati.."


Annisa mengucek kedua matanya.


"Mas...."


Annisa bangkit hendak memeluk suaminya.


Bu Nirmala baru saja akan menahan Annisa, namun Reyhan mencegahnya dengan isyarat tangan.


"Mas.. Nisa rindu.."


Annisa memeluk erat sosok pria yang sangat dia rindukan.


pria ini, yang beberapa hari sudah membuatnya merqsa was-was dan cemas.


pria yang sudah menjadi kekasih halalnya.


Reyhan menahan rasa sakit di bahunya, kemudian membalas pelukan Annisa.


"Mas juga rindu kamu sayang.."


Balas Reyhan sambil mengecup kening istrinya.


"waduh.. Bener-bener gak baik untuk kesehatan jantung nih..


Om, Tante, mending kita keluar aja yuk.. Lama-lama disini yang ada aku kena serangan jantung."


Omel Dennis.


Meskipun merasa khawatir dengan keadaan Reyhan, namun akhirnya Tuan Restu dan Bu Nirmala keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


"Mas.. kenapa lama.."


Annisa mulai terisak dibalik dada bidang suaminya.


"Mas minta maaf sayang.."


jawab Reyhan.


Annisa melepaskan pelukannya, kemudian duduk ditepi ranjang.


Reyhan duduk tepat disamping Annisa, sambil menggenggam tangannya.


Perlahan Reyhan mengusap perut Annisa.


"Assalamualaikum jagoan Abi.. Maafin abi ya, karena lama meninggalkan kamu dan umi.."


Gumam Reyhan


Annisa tersenyum.


Namun tiba-tiba wajahnya kembali risau.


dia teringat mimpinya tadi, terasa begitu nyata.


"Mas.."


"Ya..?"


Reyhan menoleh.


"Mas baik-baik aja kan..?"


tanya Annisa.


Reyhan menggeleng.


"Mas gak baik-baik aja sayang.."


jawab Reyhan


"Apa mas sakit..? Dimana yang sakit..?"


Annisa tampak mulai panik.


Reyhan membawa tangan Annisa dan menempelkan di dada sebelah kirinya.


"Mas sakit disini sayang.. tapi sekarang sakit itu udah sembuh.."


Jawab Reyhan sambil tersenyum.


Annisa mengernyitkan kening.


Seolah mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan istrinya, Reyhan tertawa sumringah..


"Masya Allah.. lugunya istriku.."


Ujar Reyhan


"Berhari-hari tanpa ada kamu di sisi mas, rasanya sakit. Tapi sekarang kamu disini, satu-satunya penawar untuk semua rasa sakit mas.."


"Ih, mas udah pinter gombal ya sekarang.."


Annisa mendorong bahu Reyhan yang tampak meringis menahan sakit.


Reyhan menangkupkan kedua tangannya di pipi Annisa.


Perlahan dikecupnya kening wanita yang sangat dia rindukan itu.


Ditatapnya wajah istrinya dengan tatapan teduh, dan tatapan itu selalu berhasil mengusir segala kekalutan yang ada didalam hati Annisa.


"Sayang.. maafin mas ya.. Mas pergi terlalu lama.."


Annisa menggeleng.


"yang penting sekarang mas ada disini.."


Ujar Annisa yang kali ini menyandarkan kepalanya di pundak suaminya dan menggenggam tangannya.


"Hemm.. jarang-jarang nih istri manja-manja begini.. Besok-besok mas perginya agak lamaan deh.."


Ledek Reyhan sambil tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Oh.. jadi mas mau tingglin Nisa lagi..? Atau jangan-jangan mas ada perempuan lain makanya mas perginya lama..?"


Omel Annisa.


Reyhan kembali tergelak.


"Masya Allah sayang.. Gak pernah dan Insya Allah gak akan pernah ada yang lain dihati mas..


Mas memilih kamu dengan penuh keyakinan, dan mas ingin kamulah satu-satunya bidadari yang nantinya mendampingi mas di surga.."


Wajah Annisa memerah.


Meski sudah sekian lama menikah, namun sikap manis Reyhan selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.


Lagi-lagi Reyhan menahan rasa sakit dibahunya, Demi membuat istrinya merasa nyaman.


Entah sampai berapa lama, hingga akhirnya Annisa kembali terlelap.


Perlahan Reyhan membenahi posisi Annisa.


Luka di bahunya terasa perih.


Namun ada senyuman diwajahnya.


Ditatapnya sosok wanita yang ada dihadapannya dengan tatapan penuh cinta.


"Sayang.. mas minta maaf.. demi kebaikan kamu, terpaksa mas melakukan kebohongan ini.."


gumamnya.


Hari menjelang sore saat Reyhan membangunkan Annisa yang masih terlelap.


"Sayang.. bangun.. Udah sore.."


Reyhan mengusap kedua pipi Annisa.


Perlahan Annisa membuka mata, dan melihat suaminya ada dihadapannya.


Annisa kembali mengucek matanya.


"Ini gak mimpi kan.."


Gumamnya.


Reyhan tergelak melihat tingkah istrinya.


Perlahan Reyhan mendekatkan wajahnya.


Salah satu tangannya memegang tengkuk Annisa yang masih tampak seperti orang linglung.


Kemudian dengan perlahan Reyhan mengecup bibir istrinya.


"Ini bukan mimpi sayang.. Bahkan kamu udah peluk-peluk mas dari siang tadi."


Ujar Reyhan.


Wajah Annisa memerah.


Reyhan mengelus kedua pipi Annisa dan kembali mengecup keningnya dengan lembut.


"Mas.. Nisa takut mas.."


gumam Annisa lirih.


"Apa yang kamu takutkan..?"


tanya Reyhan sambil menggenggam tangan Annisa.


"Entahlah.. Nisa takut sesuatu yang buruk terjadi..


Nisa takut mas gak kembali.."


Annisa mulai terisak.


Dengan sigap Reyhan menarik lengan Annisa dan memeluknya erat.


"Sekarang mas ada disini, dan mas baik-baik aja.."


ujar Reyhan.


"Mas janji ya, selalu kabari Nisa dimanapun mas berada.. Dan jangan pergi terlalu lama.."

__ADS_1


"Insya Allah sayang.."


jawab Reyhan.


__ADS_2