Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
86. Masih Untuknya


__ADS_3

Malam itu Dennis tidak kembali ke apartemennya.


Dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia sementara waktu.


*Aku sudah mengikhlaskannya, tapi aku perlu waktu untuk menghilangkan rasaku padanya.


Batin Dennis.


Dia kembali dengan pesawat terakhir malam itu dan baru tiba di tanah air pagi harinya.


Wajahnya tampak kusut dan lelah.


jarak dari bandara Soekarno-Hatta cukup jauh.


dia memutuskan untuk menggunakan jasa travel.


Sejak semalam dia mematikan ponselnya, entah mungkin Reyhan mencarinya.


Tapi dia sudah menitipkan pesan pada Aldo, dan untuk sementara Aldo lah yang akan menggantikannya.


Meski Aldo bertanya-tanya ada hal penting apa hingga dia mendadak pulang ke Indonesia, namun akhirnya Aldo mengerti.


tentunya ada hal-hal yang hanya diri kita sendiri dan Allah saja yang tau.


Hari menjelang siang saat dia tiba di apartemen pribadinya.


Dihempaskannya tubuhnya di kasur, mencoba terlelap sejenak.


☆☆☆


"Nanti kalo kita udah besar, kita menikah ya.. seperti mama dan papaku.."


Seorang bocah lelaki kecil berusia sekitar lima tahun tampak berbicara dengan bocah perempuan yang berusia sebaya dirinya di sebuah taman bermain.


"Tapi kamu kan dijagain sama om-om preman.. aku takut.. nanti aku ditangkap sama om preman.."


jawab bocah perempuan tersebut.


"Kan ada aku.. nanti aku yang jagain kamu.. kalo aku jagain kamu, nanti om premannya gak akan nangkap kamu.. kan om premannya takut sama aku.."


☆☆☆


"Kamu mau kemana..? Jangan pergi.. Aku takut.. aku gak mau sendirian.."


Bocah perempuan tampak menangis tersedu.


"Aku mau jadi seperti papaku.. kalo kita udah besar, aku yang akan jagain kamu.. Tapi aku harus jadi kuat dulu.. nanti kalo aku udah jadi orang yang kuat, aku pasti jemput kamu.. kamu tunggu aku ya.."


perlahan pegangan tangan kedua bocah tersebut terlepas. Bocah lelaki tersebut dibawa paksa oleh beberapa orang preman dan akhirnya mereka terpisah.


☆☆☆☆☆


Dennis terbangun. Napasnya tersengal, keringat dingin mengucur.


"Astaghfirullah.. Maafkan aku Raisha.. aku tidak menepati janjiku dulu.. Aku tidak bisa menjagamu.. Aku terlambat.. Sekian lama aku mencarimu, tapi aku tak pernah menyadari kau berada sangat dekat denganku.."


Gumam Dennis.


Diliriknya jam weker diatas nakas. Tepat pukul sepuluh malam.


Perutnya terasa lapar karena belum terisi makanan sejak malam sebelumnya.


Diraihnya ponsel yang terletak di atas nakas, kemudian menyalakannya.


Beberapa pesan masuk dari Reyhan, namun Dennis mengabaikannya.


Dibukanya aplikasi Online food dan memesan makanan.


Setelah makanan pesanannya tiba Dennis kembali mematikan ponselnya.


Setelah makan dia membuka sebuah laci diruang tamu dan mengeluarkan beberapa berkas dari laci tersebut.


"Raisha Ramadhani.. bahkan almarhum ibumu dengan sengaja mengganti namamu karena ingin menghilangkan jejak.. Kenapa aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya.. bahkan aku tidak pernah tahu selama ini kalian hidup dalam bayang-bayang ketakutan.. Sekarang semuanya seperti benang kusut.. aku tidak bisa mengurainya.."


Dennis menarik napas dalam.


Saat pikirannya tengah terfokus dengan semua berkas yang ada di tangannya, tiba-tiba bel pintu berbunyi.


"Astagaa... siapa yang bertamu tengah malam begini.."

__ADS_1


gerutunya.


Dennis membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Reyhan berdiri dihadapannya.


"Rey..?"


Dennis mengernyitkan kening.


"Boleh aku masuk..?"


Tanya Reyhan.


"Emm.. ya, tentu.."


jawab Dennis kemudian mempersilahkan Reyhan masuk.


Reyhan sudah duduk diruang tamu, ketika Dennis dengan sigap menyingkirkan berkas-berkas yang tadi dipegangnya.


"Lagi sibuk bro..?"


Tqnya Reyhan yang sempat melihat Dennis menyimpan beberapa berkas yang sepertinya penting.


"Emm.. Gak, cuma lagi ngecek beberapa berkas.."


Jawab Dennis sedikit gugup.


"Kau mau kopi..?"


Dennis berbasa-basi.


"Boleh.."


jawab Reyhan.


Dennis pergi menuju dapur, meninggalkan Reyhan sendiri di ruang tamu.


Saat sedang menunggu, tiba-tiba Reyhan melihat selembar kertas yang tanpa sengaja terjatuh di lantai.


Reyhan segera memungut kertas tersebut dan melihatnya.


"Raisha Ramadhani..?"


"Ini.. kenapa data ini sepertinya sama persis dengan data pribadi Annisa..? Tapi, siapa Raisha..?


Apa mungkin selama ini Annisa mempunyai saudari kembar..?"


Gumam Reyhan.


Dennis sudah kembali dengan secangkir kopi.


saat dia melihat Reyhan memegang selembar kertas miliknya wajahnya tampak pucat.


"Den.. ini.. siapa Raisha..? Kenapa datanya sama persis dengan Annisa..?"


Reyhan bertanya dengan mimik serius.


"Emm.. Rey.. itu, mungkin itu cuma kebetulan.. aku juga gak tau siapa dia.. sepertinya data itu milik Aldo.."


Dennis berusaha menutupi.


"Milik Aldo..?


bukankah tadi kau yang memegang berkas ini..?"


Reyhan tampak mulai curiga.


"Emm.. ya, ya tadi.."


"Apa kau menyembunyikan sesuatu..?"


Dennis menarik napas dalam.


*Mungkin aku memang harus jujur. Agar tak terjadi kesalah pahaman. Lagipula Reyhan berhak tau latar belakang istrinya.


batin Dennis


"Raisha Ramadhani.. Annisa Ramadhani.. adalah orang yang sama.."


Jawab Dennis.

__ADS_1


"Apa maksudmu..?"


Reyhan tampak tak mengerti.


"Dulunya dia bernama Raisha Ramadhani. tapi kemudian almarhumah ibunya sengaja mengganti namanya untuk menghilangkan jejak. Keluarga almarhum ayahnya mengincarnya. Karena seluruh harta milik almarhum kakeknya diwariskan atas namanya."


"Astagaa... omong kosong apa ini Den..?"


"Ini bukan omong kosong bos.. tapi inilah faktanya.."


"Jadi selama ini diam-diam kau menyelidiki latar belakang istriku..?


kenapa..?"


Dennis tertegun. Dia tidak tau harus berkata jujur, atau harus menyimpan semuanya.


"Orang yang kau cintai, orang itu adalah Annisa..


Apa dugaanku benar..?"


Reyhan menatap Dennis tajam.


"Rey.. Ini gak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan.."


"Jadi dugaanku benar..? Selama ini kau mencintai istri sahabatmu sendiri..? Dan yang kau maksud kau tidak bisa memilikinya, karena dia sudah dimiliki orang lain..? Menyedihkan memang.."


Ujar Reyhan dengan sinis.


"Tapi yang lebih menyedihkan, adalah ditikam dari belakang oleh orang yang paling kita percaya."


Sambungnya.


"Kau sudah salah paham Rey.. Bukan seperti itu..!!"


"Lalu apa? alasan apa yang ingin kau berikan?"


"Raisha.. Dia adalah wanita yang kucintai sejak kecil.


Selama ini aku mencari jejaknya.. Tapi aku tidak pernah tau dia justru ada didekatku.. Bahkan sangat dekat."


Reyhan terhenyak mendengar pengakuan Dennis.


"Jika dia adalah Raisha-mu, lalu kenapa kau membiarkanku menikahinya..?"


Dennis menarik napas dalam.


"Aku terlambat Rey.. Aku baru mengetahui semuanya setelah dia resmi menjadi istrimu, bahkan mengandung anakmu.."


Reyhan memijat pelipisnya.


"Lalu apa kau masih mencintainya..?"


Tanya Reyhan.


Dennis kembali terdiam.


Didalam hatinya, tentu dia masih mencintai wanita itu.


Namun apa yang bisa dia lakukan?


wanita itu telah bahagia dengan sahabatnya sendiri.


Dan, dia mencintai wanita yang justru mencintai orang lain yang kini sudah menjadi kekasih halal baginya.


Tidak.. Dia tak seegois itu.


"Ya.. rasa ini masih untuknya.


Tapi aku akan mengikhlaskannya.


Aku yakin kau bisa menjaganya lebih baik dariku.


Tolong jangan merubah persahabatan kita.


Aku hanya perlu waktu untuk menghapus perasaanku terhadapnya."


Reyhan menepuk pundak Dennis.


"Mungkin kita mencintai wanita yang sama. Tapi itu tidak akan merubah apapun. Kau tetap sahabatku."

__ADS_1


Dennis tersenyum tulus, dan akhirnya mereka kembali berbaikan.


__ADS_2