Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
10. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

Seminggu setelah itu, Annisa dan Reyhan membawa Kirana kembali ke Indonesia. Reyhan juga sudah berbicara dengan Dokter Rina, Psikiater yang dulu pernah menangani Annisa untuk membantu Kirana.


Selain itu, Annisa memang sangat merindukan kampung halamannya dan dia ingin membawa kedua anaknya untuk tinggal disana.


Tepat pukul delapan malam mereka sudah tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta.


"Sayang, kamu yakin kita akan kembali tinggal disini?"


Tanya Reyhan.


"Insyaa Allah yakin mas. Lagipula, aku merasa lebih nyaman tinggal disini. Kamu gak keberatan kan mas?"


Reyhan menggeleng sambil tersenyum.


"Buat mas yang terpenting adalah kebahagiaan kamu dan kedua jagoan kita ini.."


Ucap Reyhan sambil mengelus pipi gembul si kembar yang anteng tidur di stroller.


"Kirana, mulai sekarang kamu tinggal sama aku aja ya. Lagipula aku pasti kesepian karena mas Rey juga pasti akan lebih sering bolak-balik ke Jepang. Kamu gak keberatan kan?"


"Gak apa kok mbak, malah aku senang. Karena bisa bantu mbak merawat si kembar.."


Ucap Kirana.


Annisa mengusap pundak Kirana perlahan. Dia tahu Kirana masih sangat terpukul karena kehilangan bayinya.


Dua hari kemudian, usai sholat dzuhur Dokter Rina berkunjung ke kediaman keluarga Arbiantoro, yang sebenarnya memang sudah direncanakan oleh Annisa dan Reyhan agar Dokter Rina bisa bertemu dengan Kirana.


"Mbak Rina, ya Allah lama banget gak jumpa.. Mbak Rina apa kabar?"


Annisa menyambut kedatangan Dokter Rina.


"Alhamdulillah, selalu bahagia jiwa dan raga.. Gimana kabar kamu Nisa? Mbak dengar kamu sudah lahiran anak kembar ya.."


"Iya mbak, alhamdulillah kembar laki-laki. Tapi ya gitu, dua-duanya ngikut abinya. Gak ada yang mirip sama uminya."


Jawab Annisa sambil tertawa sumringah.


"Masyaa Allah, alhamdulillah.. Selamat ya Annisa.. Jadi, dimana mereka?"


Tanya Dokter Rina.


"Mereka ada di kamar mbak, lagi tidur dan dijagain sama Kirana. Kita langsung kedalam aja ya, biar mbak juga bisa ngobrol-ngobrol ringan sama Kirana."


Kemudian Annisa membawa Dokter Rina ke kamarnya untuk melihat kedua putranya.


"Wah, emang benar-benar copy an Reyhan ya Nisa.."


Ucap Dokter Rina saat melihat kedua bayi Annisa.

__ADS_1


"Oh iya mbak Rina, kenalin.. Ini Kirana sahabat aku. Kirana, ini mbak Rina.."


"Kirana.."


"Rina.."


Kirana dan Dokter Rina saling berjabat tangan.


Ketiga wanita itu mengobrol santai, tentang pengalaman tinggal di Jepang dan tentang hal-hal yang ringan.


"Eh, sampe lupa buatin minum. Aku ke belakang sebentar ya.."


Ucap Annisa.


"Biar aku aja mbak.."


Usul Kirana.


"Gak usah, biar aku aja. Kamu temani Mbak Rina sebentar ya Na.."


Kemudian Annisa meninggalkan Kirana dan Dokter Rina di kamar.


"Ehm, Kirana.. Bagaimana kabarnya Dennis?"


Tanya Dokter Rina.


Kirana terkejut saat Dokter Rina menanyakan suaminya.


"Mbak dan Dennis udah kenal lama, dulu dia dan Reyhan sering main ke rumah mbak. Apalagi kalau bukan untuk curhat. Biasalah, anak muda.."


Dokter Rina sengaja sedikit berbohong untuk memancing Kirana.


"Ehm.. Aku gak tahu mbak. Tapi aku rasa dia baik-baik aja dengan selingkuhannya. Apalagi sekarang, udah gak ada lagi yang menjadi penghalang mereka."


Ucap Kirana dengan nada sinis.


"Kirana.. Mbak tidak bermaksud membela Dennis. Tapi, apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"


Tanya Dokter Rina.


Kirana terdiam sesaat.


"Wah, kayaknya lagi ngobrol seru nih..Ngobrolin apaan sih..?"


Annisa kembali dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh dan cemilan.


"Ehm, gak ngobrolin apa-apa kok mbak."


Jawab Kirana sedikit canggung.

__ADS_1


Annisa meletakkan cangkir teh dihadapan mereka masing-masing.


Kirana yang masih sedikit canggung langsung meminum tehnya untuk menutupi kecanggungannya.


"Kirana, Dennis adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Mbak cukup mengenal dia, sama seperti mbak mengenal Reyhan."


"Tapi mbak.. Dia sudah menyebabkan aku kehilangan bayiku.."


Jawab Kirana yang mulai terisak.


Tanpa sadar Kirana menceritakan awal mula semua peristiwa ini.


"Kirana, besok kamu gak ada acara kan?


Kamu mau gak nemenin mbak..?"


"Kemana mbak?"


Tanya Kirana.


"Besok kamu akan tahu."


Jawab Dokter Rina.


Setelah puas berbincang-bincang, akhirnya Dokter Rina berpamitan untuk pulang.


"Mbak, makasih banyak ya untuk bantuannya."


"Nisa, Kirana hanya sedang bingung. Disaat dia kehilangan rasa percaya pada suaminya, disaat yang lama dia juga harus kehilangan bayinya. Jiwanya benar-benar terguncang dan merasa kehilangan pegangan. Tapi kita akan berusaha semaksimal mungkin. Insyaa Allah Kirana bisa kembali pulih."


"Iya mbak, Nisa paham. Oh iya, emangnya besok mbak mau bawa Kirana kemana?"


Tanya Annisa.


"Ke panti asuhan.."


Jawab Dokter Rina sambil tersenyum.


"Itu adalah tempat yang paling tepat, untuk memulai semuanya. Yang pertama kali harus dilakukan adalah mengembalikan rasa percaya dalam dirinya."


Annisa mengangguk setuju dengan usulan Dokter Rina.


"Tapi mbak, obat tadi gak berbahaya kan?"


Tanya Annisa.


Sebelumnya Dokter Rina memberikan Annisa obat penenang dan meminta Annisa mencampurnya ke dalam minuman milik Kirana.


Dokter Rina tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Annisa, itu adalah obat penenang biasa. Dan Insyaa Allah obat itu aman untuk di konsumsi sesekali, asalkan tidak jadi ketergantungan."


Jawab Dokter Rina.


__ADS_2