Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
12. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berjalan, Kirana sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak panti asuhan tersebut.


"Bunda nana, sering-sering kesini ya.."


ucap Fitri saat Kirana dan Dokter Rina hendak berpamitan.


"Insyaa Allah, bunda akan sering menjenguk kalian disini."


jawab Kirana sambil tersenyum tulus.


Perlahan, hati Kirana mulai terasa lapang.


Benar kata Dokter Rina,


jika manusia memiliki ikhlas dalam hatinya dan menerima semua ujian Allah dengan hati yang lapang, maka semakin besar pula Rahmat yang Allah berikan.


Meski dia belum sepenuhnya ikhlas, namun perlahan dia mencoba menerima kehilangan bayinya dan meyakini bahwa Allah tahu segala yang terbaik untuk hambaNya.


Memang berat untuk menerima, tapi dia akan mencoba. Dan perlahan membuka kembali hatinya untuk suaminya. Reyhan sudah menceritakan semuanya, kesalah pahaman yang terjadi antara dia dengan Dennis. Dan didalam hati kecilnya, sebenarnya dia juga tahu Dennis tidak mengkhianatinya. Tapi hatinya teriris perih setiap kali mengingat wanita bernama Kim Youra.


Dia masih perlu waktu, untuk menenangkan hatinya.


Kirana dan Dokter Rina baru saja tiba di kediaman Arbiantoro, dan Annisa sudah menunggu mereka di depan dengan wajah cemas.


"Mbak Nisa, ada apa?"


Tanya Kirana saat melihat Annisa yang tampak gusar.


"Ehm, gak ada apa-apa Kirana.. Aku hanya sedang menunggu mas Rey."


Jawab Annisa sambil meremas kedua tangannya.


Reyhan baru saja tiba, juga dengan wajah yang tampak tegang. Entah apa yang sedang terjadi.


"Mbak Nisa sama mas Rey kenapa? Kok kelihatannya cemas begitu..?"


Annisa dan Reyhan saling bertatap seolah memberi isyarat.


"Ehm, bukan apa-apa Na. Oh iya Na, apa kamu gak merindukan ibu kamu?"


Tanya Annisa dengan nada yang dibuat sewajar mungkin.


Dokter Rina yang sejak awal sudah menyadari ada hal yang tidak beres hanya diam.


"Kenapa mbak?"

__ADS_1


Kirana tampak bingung.


"Ya, barangkali kamu merindukan ibu kamu. Kita bisa kembali ke Kobe kalau kamu mau."


Kirana mengernyitkan kening.


"Ada apa sebenarnya mbak?"


Annisa dan Reyhan lagi-lagi saling menatap, seolah ada sesuatu yang sedang mereka tutupi.


"Kenapa mbak Nisa sama Mas Rey bersikap aneh? Seperti ada yang sedang kalian sembunyikan dariku. Ada apa sebenarnya?"


"Sayang, mas rasa lebih baik kita katakan yang sebenarnya."


Bisik Reyhan pada istrinya.


"Tapi gimana mas, kondisinya sedang seperti ini.."


Jawab Annisa juga dengan berbisik.


"Mbak Nisa, Mas Rey, ada apa? Kenapa kalian harus berbisik-bisik seperti itu?"


Annisa menatap Kirana dengan tatapan sendu, kemudian memeluknya.


"Kirana, apapun yang terjadi dalam hidup kita semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah. Rejeki, jodoh, maut, semuanya berlaku atas kehendak Allah. Kita hanya perlu percaya, bahwa apapun yang telah Allah rancangkan dalam hidup kita adalah yang terbaik. Menerima semua ketentuanNya dengan ikhlas.."


"Mbak, ada apa sebenarnya?"


kirana tampak semakin ingin tahu.


"Kirana.. Ibu kamu, baru saja meninggal.."


Seolah tersambar petir disiang bolong, Kirana limbung dan nyaris jatuh ke lantai. Beruntung saat itu Annisa sedang memeluknya.


Kirana tak lagi bisa berkata, dadanya terasa sesak.


Ingin rasanya dia berteriak, melepaskan sebah yang dia rasakan.


Dia sudah kehilangan bayinya, kini dia harus kehilangan ibunya.


Begitu bertubi cobaan yang Allah berikan padanya.


Karena syok dengan semua yang terjadi, Kirana langsung tak sadarkan diri.


Annisa dan Reyhan yang panik langsung membawa Kirana ke rumah sakit untuk ditangani oleh Dokter.

__ADS_1


Sementara itu di Kobe..


Dennis sudah mengurus proses untuk membawa jenazah ibu mertuanya kembali ke Indonesia.


Dia juga sudah mwngatakan pada Reyhan dan Annisa untuk tidak menyusul, karena dia akan segera pulang ke Indonesia begitu semua prosedurnya selesai.


Ibu Kirana meninggal akibat serangan jantung mendadak. Saat dibawa ke rumah sakit, nyawanya sudah tak tertolong.


Dennis benar-benar merasa terpukul.


Dia sudah gagal menjaga anak dan istrinya, kini dia juga gagal menjaga ibu mertuanya.


Semakin besar rasa bersalah yang harus dia pikul.


Dia kembali terbayang, baru beberapa jam yang lalu ibu mertuanya mengusap pundaknya dan memintanya untuk bersabar menghadapi sikap Kirana yang sedang tidak stabil. Bahkan Ibu mertuanya benar-benar mempercayakan Kirana di tangannya, kata-kata itu masih terngiang di telinganya.


"Dennis, ibu titip Kirana ya. Ibu percaya sama kamu, ibu tahu kamu akan selalu menjaganya. Kamu yang sabar ya, saat ini Kirana hanya sedang sangat terguncang karena kehilangan janin yang dia kandung. Tapi semuanya akan baik-baik saja nanti. Dan tolong katakan pada Kirana, ibu sangat menyayanginya."


Saat itu Dennis sama sekali tak berfirasat apapun, atau mungkin karena dia juga sedang kalut.


"Bu.. Maafkan aku, aku sudah gagal. Aku benar-benar gagal.."


Dennis terduduk di lantai koridor rumah sakit.


Kakinya terasa lemah tak sanggup lagi berdiri.


"Denisu, anata wa tsuyokunakereba naranai. Kono jōkyōde wa, tsuma wa hontōni anata o hitsuyō to shite iru ni chigai arimasen."


(Dennis, kamu harus kuat. Dalam situasi ini istrimu pasti sangat membutuhkanmu.)


Ayahnya menepuk pundak Dennis, kemudian membantunya berdiri.


"Watashi wa hontōni totemo kanashīdesu, otōsan.. Watashi wa ima dōsureba ī?"


(Aku benar-benar sangat sedih ayah.. Apa yang harus aku lakukan sekarang?)


"Anata wa nani o shinakereba narimasen ka, anata wa massugu tachiagaru hitsuyō ga arimasu. Kirana ga anata ni yorikakatte irukaradesu. Anata wa otokodesu anata wa josei yori mo tsuyokunakereba narimasen."


(Apa yang harus kamu lakukan, adalah berdiri tegak. Karena Kirana akan bersandar kepadamu. Kamu adalah seorang pria, kamu harus jauh lebih kuat dari wanitamu.)


Dennis menghentikan tangisnya, kemudian mencoba berdiri tegak.


"Dekimasu. Ganbatte kudasai."


(Kamu pasti bisa. Lakukan yang terbaik.)

__ADS_1


Ayahnya menepuk pundak Dennis dengan lembut, memberikannya kekuatan.


__ADS_2