
Keesokan harinya, Reyhan kembali ke mansion milik Cinta.
Dia akan berusaha meyakinkan Annisa kali ini. tak peduli dengan cara apapun, dia harus berhasil membawa Annisa pulang.
Dia telah sangat rapuh tanpa wanita itu disisinya.
Terlebih saat Annisa mengatakan soal perceraian, sesuatu yang tidak akan pernah terpikir olehnya meski hanya sekilas lalu.
"Anata wa futatabi modotte kimashita?"
(Anda kembali lagi?)
Sapa pria berusia 40an.
Pria itu adalah security yang sebelumnya menginterogasi mereka.
"Anata wa tadashīdesu. Tsuma ni aitai."
(Anda benar, Aku ingin bertemu dengan istriku.)
jawab Reyhan.
"Chottomatte"
(tunggu sebentar)
Kemudian seperti sebelumnya, pria tersebut masuk kedalam mansion mewah milik Cinta.
Tak lama kemudian pria itu keluar dari mansion.
"Nyūryoku shite kudasai"
(Silakan masuk)
Kemudian pria itu membiarkan Reyhan masuk tanpa dikawal.
"Pulanglah mas, aku sedang tidak ingin bertemu denganmu."
Ujar Annisa yang sudah menyambut didepan pintu.
"Sayang.. tolong dengarkan mas, kali ini aja.. tolong.."
Reyhan memelas. Wajahnya tampak sangat kusut.
Annisa merasa iba melihat kondisi suaminya. jauh didalam hati kecilnya, sangat ingin rasanya dia memeluk pria yang saat ini sedang berada didepannya.
Namun dia kalah dengan egonya sendiri.
"Pergilah mas. Aku tidak ingin mendengar apapun dari kamu."
Ucap Annisa sambil menahan airmatanya.
"Mas gak akan pergi sampai kamu bersedia bicara dengan mas."
jawab Reyhan. Wajahnya yang tampak kusut, sangat berbeda jauh dari sosok Reyhan yang selalu terlihat rapi dan elegan.
Annisa hendak berbalik dan meninggalkan Reyhan, namun pria itu menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.
"Tolong jangan seperti ini sayang.. tolong.. Kamu boleh membenci mas, kamu boleh marah sama mas.. tapi tolong jangan pernah pergi.. jangan pernah menjauh dari mas.."
Reyhan membujuk dengan suara bergetar.
Tanpa sadar Annisa meneteskan airmata, namun egonya yang teramat besar membuatnya enggan membalas pelukan suaminya.
"Tolong beri aku waktu mas.. aku perlukan masa untuk memaafkan kamu. Aku hanya manusia biasa mas.dan benar, saat ini aku sangat membenci kamu."
"Baiklah, kalau memang kamu membenci mas, akan mas coba terima. tapi tolong jangan pergi.
Setidaknya, ijinkan mas tetap menjaga kamu dan anak kita.."
Gumam Reyhan.
__ADS_1
Annisa berusaha berontak.
Meski hatinya tidak ingin, namun lagi-lagi egonya memaksa Annisa untuk melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Jangan memaksaku mas. Tolong pergilah dari sini. Biarkan aku sendiri. Aku bisa menjaga diri dan anak dalam kandunganku. Kamu tidak perlu mencemaskan kami."
Perlahan Reyhan melepaskan pelukannya.
Meski sabarnya nyaris diambang batas, namun dia tetap mencoba untuk membujuk Annisa.
"Mas gak tau harus dengan cara apalagi mas menebus semua kesalahan mas."
Reyhan meraih sakunya, mengambil sebuah belati kecil.
Senjata mematikan yang biasa dia gunakan saat sedang berhadapan dengan mafia.
"Jika memang dendam dan rasa benci itu sudah begitu besar, lebih baik kamu bunuh mas dengan belati ini. Jika memang itu bisa meyakinkan kamu."
Reyhan menyerahkan belati tersebut ditangan Annisa.
Annisa menatap Reyhan seolah tak percaya.
Kemudian dia membuang belati tersebut.
"Hanya karena kamu sudah membunuh ayahku, bukan berarti aku juga harus menjadi seorang pembunuh."
Ujar Annisa dengan sinis.
"Lalu apalagi yang kamu inginkan..? Harus dengan cara apalagi mas meyakinkan agar kamu memaafkan mas..?
Apakah sudah begitu besar rasa benci kamu, sehingga kamu menepiskan bahwa posisi kamu adalah seorang istri..?
Annisa Ramadhani, tahukah kamu dosa istri terhadap suami..?"
"Jangan bicara soal dosa mas..!!
Kamu sendiri juga bukan manusia tanpa cela.. Kamu lupa, kebohongan apa yang selama ini kamu lakukan..?"
"Kebohongan..?"
Reyhan menatap Annisa.
"Kebohongan yang mana..? Apakah kamu mengira mas menikahi kamu adalah sebuah kebohongan?
Apakah kamu pikir yang selama ini mas lakukan juga adalah sebuah kebohongan?
Itu bukan kebohongan Annisa..
Dan hanya karena mas menutupi satu kebenaran, bukan berarti mas melakukan kebohongan.."
Annisa melangkah mundur.
"Tolong pergi dari sini mas. Aku gak ingin keluarga ini terseret dalam masalah kita. Pergilah, atau aku akan memanggil security untuk mengusit kamu.."
Annisa membalikkan badan dan langsung masuk kedalam mansion.
"Annisa...Annisaaaa...!!"
Reyhan mencoba memanggil Annisa, namun percuma.
"Berikan dia waktu.. Dia sedang berusaha.."
Reyhan berbalik dan melihat wanita pemilik rumah sudah berdiri disana.
"Maaf.. aku mengacau dirumahmu.."
Ujar Reyhan.
"Annisa sudah menceritakan semuanya padaku. Aku tau, ini situasi yang berat untuk kalian. Tapi jangan bertindak karena ego.. Berikan dia waktu.. Dia sedang belajar untuk menerima kenyataan pahit itu."
"Ya, aku mengerti. Tapi..."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu takut, dia aman disini. Aku yang akan membantumu menjaganya.."
"Terimakasih banyak nona.. aku.. Aku benar-benar telah merepotkanmu.."
"Reyhan Arbiantoro..?"
Seorang pria menyapanya.
"Raffa..?"
Balas Reyhan sambil memperhatikan pria yang saat ini berdiri disamping pemilik rumah.
"Mas kenal pria ini..?"
tanya Cinta pada suaminya.
"Tentu sayang.. Reyhan ini salah satu mitra usaha mas.."
jawab Raffa.
"Hei, lama tidak bertemu.. Sedang apa kau disini..?"
Sapa Raffa.
"Aku sedang menemui istriku, dia ada didalam.."
Jawab Reyhan.
"Jadi, Annisa itu istrimu..?"
Tanya Raffa.
"Ya, Dia istriku.."
jawab Reyhan sambil menatap Raffa dengan heran.
Seakan mengerti dengan tatapan Reyhan, Raffa langsung meluruskan.
"Ini Cinta, istriku.. Kemarin Cinta yang membawa istrimu kesini. Keadaannya sedang tidak baik.."
"Ya, aku tahu.. By the way, thanks Raf..
Karena sudah mengijinkan Annisa tinggal disini.."
"Itu bukan masalah.. Lagipula, Cinta juga senang ada Annisa disini.."
jawab Raffa.
"Seperti yang kukatakan tadi Rey, Annisa perlu waktu. Jadi untuk semenrara ini, biarkan dia menenangkan diri. Aku akan mencoba membujuknya.."
Ujar Cinta.
"Ya, Mungkin kamu benar.."
Jawab Reyhan.
Setelah menitipkan Annisa pada Cinta dan Raffa, Reyhan segera berpamitan.
"Aku akan sering main kesini.."
Ujarnya.
"Tentu, rumah ini selalu terbuka untukmu."
jawab Raffa sambil menyunggingkan senyum.
"Kasihan ya mereka mas.. padahal sebenarnya mereka saling mencintai, tapi mereka sama-sama mengikuti ego masing-masing.."
Gumam Cinta saat Reyhan sudah pergi.
"Ya, kita gak pernah tau apa yang sudah mereka lewati sejauh ini sayang.. Jika mereka saling mencintai karena Allah, maka biar Allah yang menjadi penentu. Mas yakin mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."
__ADS_1
"Ya, semoga saja mas.."