Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
59. Kebenaran Mulai Terungkap


__ADS_3

Sudah dua hari sejak Annisa dirawat di rumah sakit dengan ditemani ibu mertuanya.


Reyhan tidak selalu menemaninya, dengan alasan banyak hal yang harus dia urus.


Pagi itu Annisa mulai merasa bosan hanya berdiam diri didalam kamar pasien.


bahkan ibu mertuanya tidak mengizinkannya keluar ruangan meski hanya sekedar menikmati udara pagi.


Diliriknya ibu mertuanya yang masih tertidur lelap.


tentuny ibu mertuanya juga lelah menjaganya sepanjang hari, terlebih malam tadi Annisa kembali mengigau dan membuat orang-orang panik.


Dengan perlahan Annisa turun dari ranjang.


berjalan jinjit dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun, karena pendengaran ibu mertuanya sangat tajam bahkan meski dalam keadaan tidur.


Setelah berhasil keluar dari ruang pasien Annisa bernafas lega.


dilihatnya sekeliling, suasana rumah sakit masih sedikit sepi karena masih pukul enam pagi.


hanya ada beberapa perawat jaga yang sesekali berlalu lalang.


Annisa berjalan dikoridor sambil sesekali melihat sekitarnya. Pagi itu dia berniat menghirup udara pagi di taman Rumah Sakit.


saat melewati salah satu ruang pasien yang terbuka, Sekilas Annisa mendengar suara pembawa berita di tv.


"CEO Reyhan Arbiantoro memberikan klarifikasi terkait penyerangan yang terjadi di kantor cabang ReRe Coorporation dan Mall XX yang terjadi dua hari yang lalu."


Annisa tertegun. Dia sangat yakin baru saja mendengar nama suaminya disebut.


*Reyhan Arbiantoro, dan ReRe Coorporation.


penyerangan..?


apa yang terjadi sebenarnya..?


Batin Annisa.


Tanpa berpikir panjang Annisa memasuki ruang pasien tersebut yang ternyata dihuni oleh satu orang wanita muda dan seorang nenek yang sudah lansia.


"Permisi.. maaf mengganggu.. boleh saya duduk disini sebentar..?"


Awalnya kedua pasien tersebut saling bertatapan tak mengerti. melihat Annisa yang juga menggunakan pakaian pasien, akhirnya si nenek mengangguk.


Annisa duduk di salah satu kursi sambil fokus melihat berita di tv.


saat itu layar tv menunjukkan beberapa orang polisi yang sedang berjaga disekitar mall XX yang tampak berantakan. kemudian berganti menjadi Kantor Cabang ReRe Coorporation yang keadaanya tidak jauh berbeda.


Setelah itu penyiar berita menunjukkan rekaman siaran langsung saat Reyhan sedang mengadakan konferensi pers disebuah gedung.


"Kasus ini sedang ditangani oleh penyidik dari kepolisian, dan saya berharap polisi segera mengungkap dalang dibalik kasus ini. Melalui konferensi pers ini juga saya selaku CEO ReRe Coorporation mengucapkan mohon maaf dan belasungkawa atas musibah yang menyebabkan jatuhnya banyak korban."

__ADS_1


Reyhan menundukkan kepalanya.


"Ternyata CEO ReRe Coorporation masih sangat muda dan tampan yaa nek.. Masih muda, tapi sudah jadi salah satu pebisnis tersukses di Asia.. benar-benar lelaki idaman sejuta hawa.."


Ujar pasien wanita muda.


dan sesaat kemudian kamera terfokus pada wajah Reyhan, tampaklah luka di dahinya yang sudah dibebat perban dan lebam diujung bibirnya.


"Astaghfirullah... Mas Rey..."


Annisa tercekat, tanpa sadar meneteskan airmata.


Kedua pasien yang ada didalam ruangan tersebut menatap Annisa dengan tatapan heran.


"Mbak kenapa..?"


Tanya pasien wanita yang masih muda.


Annisa menggeleng.


Tiba-Tiba dua orang perawat masuk.


"Mbak Nisa, mari kembali kekamar.."


Kemudian salah satu perawat itu membawa Annisa.


"Sus, Wanita tadi kenapa..?"


tanya pasien nenek lansia.


Jawab Perawat tersebut.


"Pantas saja dia sampai histeris.."


Ujar nenek.


Annisa sudah kembali kedalam ruang rawatnya, dan langsung dipeluk oleh mama yang sangat panik.


"Kamu kemana sayang..? kamu tau gak mama dari tadi panik nyariin kamu, takut kalau terjadi apa-apa.."


"emm.. maaf ma.. aku cuma jalan-jalan sebentar.. aku bosan didalam.."


Jawab Annisa.


"Sebentar lagi Rey tiba, sebaiknya kamu tetap disini.."


Dan benar saja, tak berapa lama kemudian Reyhan muncul.


"Mas Rey..?"


Tanpa berkata apapun Reyhn langsung memeluk istrinya.

__ADS_1


"Tolong jangan menghilang seperti tadi.. kamu tau gimana paniknya mas waktu mama bilang kamu gak ada dikamar.."


"maaf mas..."


Reyhan mengecup kening Annisa.


"Harusnya mas yang minta maaf, karena mas gak bisa selalu ada disamping kamu. mas gak bisa selalu jagain kamu.."


Annisa menggeleng.


kemudian dibelainya wajah suaminya.


"Aku tau.. saat ini pikiran mas pasti tengah kacau dengan apa yang terjadi.."


Reyhan menatap wajah Annisa.


"tadi aku lihat beritanya di tv.."


ujar Annisa seolah mengerti arti tatapan suaminya.


"Sebenarnya apa yang terjadi mas..? Apa kamu punya musuh..?"


Tanya Annisa.


Reyhan menarik nafas dalam.


"Kamu gak perlu pikirkan soal itu.. apapun yang terjadi diluar sana, janji sama mas jangan pernah terpengaruh dengan itu.. bagi mas, keselamatan kamu dan anak kita yang terpenting.."


jawab Reyhan.


Annisa mengangguk.


*Apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu mas.. kenapa ada orang yang melakukan ini semua.. kenapa mereka sampai tega melukai bahkan membunuh banyak orang..?


batin Annisa.


"Pagi ini mas akan bawa kamu pulang. mas akan lebih tenang kalau kamu dirawat dirumah.


mas udah urus semuanya. Dan mas minta untuk sementara kamu tetap dirumah."


Titah Reyhan.


Meski belum benar-benar mengerti situasi yang sedang dihadapi suaminya, namun melihat bagaimana kacaunya sisa bentrokan di berita tadi setidaknya Annisa menyadari bahwa mungkin suaminya mempunyai musuh atau orang-orang yang dendam terhadapnya.


"Mas.. setidaknya beritahu aku apa sebenarnya yang terjadi.."


pinta Annisa.


Reyhan kembali menarik nafas dalam.


"Mas pasti akan ceritakan semuanya, tapi gak sekarang.. waktunya belum tepat.

__ADS_1


jawab Reyhan.


Dan akhirnya Annisa hanya bisa bersumsi dengan pikirannya sendiri.


__ADS_2