Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
81. Ngedate Halal


__ADS_3

Keesokan paginya, Reyhan sudah bersiap untuk check up ke rumah sakit bersama Dennis.


"Mau kemana mas..?"


Tanya Annisa saat melihat Reyhan mengambil kunci mobil.


"Sayang.. Mas keluar sebentar ya, ada meeting sama klien.."


Jawab Reyhan.


"Meeting..?"


Annisa mengernyitkan kening.


"Udah siap bos..?"


Dennis tiba-tiba muncul.


Reyhan mengecup pipi Annisa sekilas sebelum berpamitan pergi bersama Dennis.


*Sejak kapan Mas Rey Meeting dengan baju sesantai itu..?


Batin Annisa.


Hari menjelang siang saat Reyhan kembali.


"Meeting sama siapa mas..?"


Tanya Annisa.


"Emm.. sama klien sayang.."


Jawab Reyhan


"Cewe atau cowo..?"


Tanya Annisa penuh selidik.


Reyhan mengernyitkan kening.


"Cowo sayang..."


jawabnya.


Annisa menatap wajah suaminya.


"Mas gak lagi menutupi sesuatu dari aku kan..?"


Reyhan tampak sedikit gugup, namun dia berusaha menutupinya.


*Kenapa Mas Rey tampak gugup..? Apa dia menyembunyikan sesuatu..?


Batin Annisa.


"Mas.. kok diam..?"


"Emm.. Gak.. gak ada apa-apa kok sayang.."


Jawab Reyhan.


"Oh iya, mumpung hari ini cuaca lagi bagus, gimana kalau kita jalan..?


Mas ingin bawa kamu ke suatu tempat.."


Reyhan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kemana..?"


Tanya Annisa.


"Ikut aja deh.. pasti kamu suka.."


jawab Reyhan.


Sore harinya Annisa dan Reyhan sudah bersiap untuk pergi.


"Kalian mau kemana..?"


Tanya Bu Nirmala saat melihat Annisa dan Reyhan berjalan beriringan.


"Mas Rey ngajakin jalan ma.. gak tau tuh mau kemana.."


Jawab Annisa tersenyum sumringah.


"Rey..."


Bu Nirmala baru akan mencegah, namun Reyhan memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Tapi Aldo juga ikut kan..?"


Mama berusaha memperjelas pertanyaannya yang dimaksudkan : 'Kamu belum boleh menyetir sendiri'


Reyhan menggeleng.

__ADS_1


"Hari ini khusus untuk Rey dan Nisa ma.."


jawab Reyhan.


"Tapi Rey..."


"Ma.. kita gak pergi jauh kok.."


"Yaudah.. Kalian hati-hati ya.."


jawab Bu Nirmala.


Dari tatapannya, tampak ada kecemasan.


"Oh iya Ma, kayaknya kita juga gak pulang.."


Reyhan tersenyum sumringah.


"Mas gak bilang kita nginap..?"


Annisa mengernyitkan kening.


"Namanya juga surprise.."


Jawab Reyhan


"Tapi Nisa belum siapin baju Mas.."


"Gampang.. Nanti kita bisa beli kan.."


Kemudian Reyhan dan Annisa keluar dari rumah setelah berpamitan.


"Mas.. kita mau kemana sih..?"


tanya Annisa saat mobil mulai berjalan.


"Nanti juga kamu tau.."


Jawab Reyhan sambil mengelus pipi Annisa.


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di lokasi.


"Kita dimana mas..?"


Tanya Annisa ingin tahu.


"Kobe Herbs Garden.. Salah satu destinasi terbaik di Kobe untuk menikmati musim gugur.."


Jawab Reyhan


Wajah Annisa tampak berbinar melihat pemandangan dihadapannya.


"Lebih bagus lagi kalo kita lihatnya dari sana.."


Reyhan menunjukkan gondola yang sedang berjalan.


"Tapi.. Nisa takut ketinggian mas.."


Wajah Annisa tampak cemas.


"Sayang.. kan ada mas.."


Setelah berusaha membujuk, akhirnya Annisa mengalah. Mereka menaiki gondola yang menanjak menuju bukit.


Dibawah sana pemandangan Kobe Herbs Garden tampak semakin memukau.


Namun Annisa justru menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang suaminya.


"Sayang.. coba lihat deh.. dari atas sini, kita bisa lihat pemandangan yang luar biasa.."


Annisa menggeleng.


"Gak apa-apa.. Mas kan ada disini.. Coba buka mata kamu sebentar aja.."


Reyhan mengambil ponselnya didalam saku, kemudian mengabadikan pemandangan tersebut dengan kamera ponselnya.


"Coba lihat ini.."


Reyhan menyodorkan ponselnya pada Annisa.


Wajah Annisa tampak sangat takjub melihat gambar dari ponsel milik Reyhan.


"Masya Allah.. Ini dimana mas..?"


Tanya Annisa.


"Disini.. ditempat kita sekarang.. Coba deh kamu lihat.."


Annisa yang merasa takjub dengan pemandangan indah tersebut akhirnya memberanikan diri untuk melihat langsung pemandangan dari atas gondola.


"Masya Allah mas... ini.. ini tempatnya.."


Bahkan Annisa sampai tak bisa berkata-kata saking takjubnya.

__ADS_1


Bukan hanya pemandangan di taman itu, mereka bahkan bisa melihat seluruh pemandangan kota Kobe dari atas gondola tersebut.


Reyhan tak hentinya menatap wajah istrinya yang saat itu terlihat sangat bahagia.


Diam-diam dia mengabadikan beberapa gambar Annisa menggunakan kamera ponselnya.


"Kamu tau sayang, masih ada yang jauh lebih menakjubkan dari ini semua.."


Ujar Reyhan.


Annisa mengernyitkan kening.


Reyhan kembali menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto Annisa yang tadi diambilnya diam-diam.


"Bagi Mas, gak ada yang lebih menakjubkan daripada ini.."


Wajah Annisa memerah.


Perlahan Reyhan menggenggam kedua tangan Annisa, sambil menatapnya dengan penuh cinta.


"Kamu tau sayang.. Kamu, adalah hal terindah yang Allah ciptakan untuk mas. Mas selalu bersyukur untuk itu."


"Mas.. Nisa juga bersyukur, karena Allah izinkan Nisa untuk menjadi pendamping hidup Mas.."


"Sayang, boleh mas minta sesuatu..?"


"Apa..?"


"Mas ingin menjadi imam kamu, dan membimbing kamu sampai ke surga.."


"Insya Allah.. Mas juga jangan pernah menyerah untuk bimbing Nisa ya.. Nisa ingin jadi satu-satunya bidadari surga untuk mas.."


Reyhan menangkupkan kedua tangannya di pipi Annisa, Kemudian dikecupnya dengan lembut kening istrinya.


"Ana uhibbuki fillah, zawjati alhabiba.."


Ucap Reyhan dengan tulus.


"Ana uhibbuka fillah, alzawji alhabib.."


jawab Annisa.


Cukup lama mereka saling bertatapan penuh cinta, dan akhirnya sama-sama tersenyum.


"Mas.. kamu gak akan poligami kan..?"


Tanya Annisa dengan wajah polosnya.


Reyhan tertawa sumringah mendengar pertanyaan istrinya tersebut.


"Hemm.. sebenarnya agama gak melarang sih yaa.. selagi suami bisa bersikap adil.. suami boleh menikah bahkan mempunyai empat orang istri.."


Jawab Reyhan dengan senyum jahilnya.


"Masss...."


Annisa membulatkan mata.


Reyhan yang merasa gemas melihat tingkah Annisa kemudian mencubit kedua pipinya.


"Jawaban mas gak salah kan.. Dalam agama, seorang suami diperbolehkan memiliki lebih dari satu istri.."


Reyhan menjeda ucapannya untuk melihat reaksi sang istri.


"Kamu ingat, mas pernah mengatakan itu sebelumnya..


tugas dan tanggung jawab seorang suami itu berat sayang.. jika mas belum mampu bersikap adil terhadap satu istri, bagaimana mungkin mas bisa bersikap adil terhadap istri yang lain..?


Mas ini hanya manusia biasa sayang.. Mas takut nantinya Allah akan murka pada mas karena mas menzolimi istri mas sendiri.."


Annisa menatap wajah Reyhan.


"Bagi mas, cukuplah dengan satu istri yang selalu ada di sisi mas dalam situasi apapun..


Istri yang siap menjalani sisa usianya dan menua bersama mas, dan istri yang bersedia menjadi kekasih halal mas sampai ke surga.."


"Alhamdulillah.. Makasih ya mas.. karena mas memilih Nisa menjadi istri mas.."


"Bukan mas yang memilih kamu sayang.. Tapi Allah yang menghendaki kamu menjadi bagian dari hidup mas.."


"Maafin Nisa ya mas.. selama ini Nisa belum bisa jadi istri yang sempurna untuk mas.."


Reyhan menarik Annisa kedalam pelukannya.


"Mas juga belum bisa jadi suami yang sempurna untuk kamu sayang.. Mas masih banyak kurangnya.


Dan memang gak ada manusia yang sempurna..


Tapi, kita bisa menyempurnakannya dengan saling melengkapi satu sama lain.."


"Semoga rumah tangga kita sakinah, mawaddah, warohmah ya mas.. dengan anak-anak kita nanti.. jadi keluarga yang utuh dan bahagia.."


Ujar Annisa, yang kemudian di aamiinkan oleh Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2