Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
102. Ilmu Ikhlas


__ADS_3

"Annisa.. Kamu baik-baik saja..?"


Wanita pemilik rumah membelai bahu Annisa dengan lembut.


"Ya, aku baik-baik aja.


Cinta, makasih ya.. Karena kamu udah bersedia menolongku, bahkan membiarkanku tinggal disini.."


Cinta menggenggam tangan Annisa dengan lembut.


"Sudah menjadi kewajiban sesama muslim, untuk saling membantu. Kita sama-sama perempuan Annisa.. meskipun aku tidak pernah berada diposisimu, aku yakin kau sudah berusaha untuk tegar.. Aku sendiri gak bisa bayangkan akan bagaimana jika aku berada diposisi kamu sekarang.."


"Entahlah.. Aku juga tidak yakin, apa aku bisa setegar itu. Selama ini aku mempercayai dia, aku selalu berpikir dia adalah sosok suami sempurna.


Dia selalu berusaha untuk membahagiakanku, dia selalu menjagaku dengan baik. Tapi ternyata dibalik itu semua, hanya sebuah kamuflase.. kebohongan.. palsu.."


Wajah Annisa nanar, airmatanya mengalir.


"Apakah terjadi hal yang buruk dalam rumah tangga kalian..?"


tanya Cinta.


Annisa menarik napas panjang.


"Terlalu rumit Cinta.. tapi ya, hal buruk sudah terjadi bahkan jauh sebelum ini.."


"Kalau kamu ingin berbagi cerita, aku siap mendengarkan.. barangkali itu bisa membantu meringankan sedikit beban pikiranmu.."


"Aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu Cinta.."


gumam Annisa.


Cinta menggeleng.


"Dengar, tidak ada kata merepotkan. Kita adalah saudara. Saudara seiman, saudara satu negara di tanah asing.."


Annisa kembali menarik napas panjang, kemudian mulai menceritakan semua masalahnya sambil sesekali terisak.


Cinta tersenyum tulus setelah mendengar semua kisah hidup Annisa, termasuk rahasia yang selama ini ditutupi oleh Reyhan dan menyebabkan pertengkaran hebat antara mereka.


"Annisa.. Mungkin dulu Reyhan pernah bersalah kepada kamu. Tapi, apakah kamu rasa adil jika kamu tidak mendengar penjelasan suami kamu..?


Coba deh kamu pikirkan..

__ADS_1


bisa aja, dia gak peduli dengan kamu setelah kecelakaan itu. Bisa aja dia menjauhi kamu saat dia tahu kamu adalah anak dari pria yang ditabrak oleh supir pribadinya. Toh tidak ada bukti bahwa dia bersalah dalam hal ini, pelakunya sudah mempertanggung jawabkan kesalahannya dengan mendekam di penjara. Tapi apakah dia melakukan itu?


apakah dia menjauhi kamu?


apakah dia menghindari kamu..?"


Annisa tertegun. Dia mencoba mencerna ucapan Cinta.


"Annisa.. Aku juga kehilangan kedua orangtuaku dalam kecelakaan, bahkan saat aku masih bayi. Aku tahu persis bagaimana rasanya. Bahkan kamu masih lebih beruntung, setidaknya kamu pernah mengenal kedua orangtua kamu dan memiliki ingatan tentang mereka.."


"Jadi, orangtua kamu juga meninggal karena kecelakaan..?"


Tanya Annisa.


"Ya.. bahkan aku mengenal pelakunya. salah satunya adalah security yang ada didepan. Tapi, aku sama sekali tidak menyimpan dendam pada mereka.


Bagaimanapun juga, itu sebuah kecelakaan. Tak ada seorangpun yang ingin itu terjadi. tapi jika Allah berkehendak, apa yang bisa kita lakukan..?"


Annisa menatap lekat pada Cinta. Tak ada raut kesedihan di wajah itu. Sebaliknya, pancaran keikhlasan tampak menyinari wajahnya. Mendengar kisah hidup Cinta, Annisa merasa seperti sosok yang kerdil.


Wanita dihadapannya, adalah bukti nyata dari bentuk keikhlasan tanpa batas.


Bahkan dia membiarkan salah satu pelaku yang menyebabkan orangtuanya meninggal untuk bekerja dengannya, memberikan mereka kesempatan untuk menyambung kehidupan, sedangkan kedua orang yang paling dia sayang tak lagi hidup.


Bagaimana kamu bisa memaafkan orang yang sudah menyebabkan orangtuamu meninggal..?"


Tanya Annisa.


Lagi-lagi Cinta tersenyum tulus.


"Jujur, awalnya aku juga tidak bisa terima. Aku marah, aku bahkan pernah membenci mereka.


Tapi akhirnya aku sadar, membenci dan mendendam bukanlah solusi. itu justru hanya menghancurkan diri kita sendiri. Perlahan aku mencoba memaafkan mereka. Dan kemudian, aku merasa jauh lebih baik."


"Tapi, aku gak yakin Cinta.. Apa aku bisa setegar kamu.. Aku gak yakin aku bisa memaafkan mereka.."


gumam Annisa.


"Kamu pasti bisa Annisa.. Kamu adalah wanita yang hebat, wanita yang baik. Aku yakin kamu pasti bisa mengikhlaskan semua kejadian di masa lalu kamu dan memulai lembaran baru, bersama keluarga kecil kamu.."


Ujar Cinta.


Annisa terdiam sejenak.

__ADS_1


"Kamu tahu Annisa, bahkan didalam surah Al-Ikhlas tidak ada kata ikhlas didalamnya.


begitulah bentuk sejati dari keikhlasan."


Lagi-lagi Annisa dibuat tertegun oleh wanita dihadapannya ini. begitu banyak pelajaran yang telah dia dapatkan dari sosok wanita hebat didepannya.


"Cinta,makasih ya.. Kamu sudah banyak menolongku. Aku akan belajar untuk memaafkan suamiku, tapi aku butuh waktu.."


Cinta tersenyum simpul.


"Memang awalnya akan terasa berat, tapi perlahan kamu pasti bisa menerimanya. Jangan sampai kamu bersikap egois Annisa, bayi yang ada didalam kandungan kamu.. juga berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.. Jangan sampai rasa dendam dihati kamu, justru menyakiti anak kamu nantinya.."


Kemudian Cinta menuntun Annisa dan membawanya ke kamar tamu.


"Kamu boleh tinggal dirumah ini selama yang kamu mau. anggap saja rumah sendiri. Katakan saja jika kamu membutuhkan sesuatu."


Setelah keluar dari kamar tamu, Cinta menuju kamarnya.


dan saat dia membuka pintu kamar, tiba-tiba saja dia bertabrakan dengan seseorang.


"Mas..? tumben udah pulang..?"


Tanya Cinta.


"Sayang, kamu lupa..? Malam ini kita ada janji makan malam dengan tuan Aihara.."


Jawab pria itu sambil memeluk pinggang Cinta.


"Ya ampun.. aku benar-benar lupa mas.. Kalo gitu aku siap-siap dulu yaa.."


"Dimana dia..?"


Tanya pria yang ternyata adalah suaminya.


"Dia ada dikamar tamu mas.. gak apa kan kalo untuk sementara ini dia tinggal disini..?"


tanya Cinta.


suaminya hanya tersenyum.


"Kamu ta sayang, aku adalah suami paling beruntung didunia.."


Kemudian pria itu mengecup kening Cinta.

__ADS_1


__ADS_2