
Keesokan paginya saat Annisa terbangun, Reuhan sudah tak ada di sampingnya.
Annisa beranjak dan mencari Reyhan, namun tidak menemuinya di sekitar rumah.
Bahkan O-Bachan juga tidak ada dikamarnya dan ponsel mereka tidak bisa dihubungi.
"mau tanya ke security, aku kan gak paham bahasa mereka.. O-Bachan juga gak ada dikamar.. mereka kemana yaa.."
gumam Annisa sambil berjalan gontai menuruni tangga.
"Mbak Nisa.. cari O-Bachan sama Tuan Reyhan ya..?"
Kirana menyapa dari bawah tangga.
"emm.. iya nih Rana, kok mas Rey sama O-Bachan gak ada ya.. apa mereka pergi..?"
tanya Annisa.
"Tadi O-bachan nemuin aku mbak, katanya mau ke Jerman.."
jawab Kirana.
"Ke Jerman..? Kok mendadak..?
Dan mereka gak kabarin aku..?"
Annisa tampak heran.
"Tadi Tuan Reyhan juga titip pesan, katanya gak tega bangunin mbak Nisa.. lagipula kondisi mbak juga belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.."
Jawab Kirana.
"Mereka bilang gak kenapa pergi mendadak..?"
Kirana menggeleng.
"Tapi kayaknya ada hal penting.."
jawabnya.
"Oh, yaudah deh.. nanti aku coba hubungi lagi.. mungkin mereka masih di pesawat.."
Ujar Annisa.
"Mbak mau sarapan sekarang..? Aku udah masakin makanan kesukaan mbak.."
tawar Kirana.
Annisa mengernyitkan kening.
*Darimana Kirana tau makanan kesukaanku?
Batinnya.
Seolah mengerti maksud tatapan Annisa, Kirana tersenyum simpul.
"Tuan Reyhan yang kasih tau.. tadi sebelum berangkat Tuan Reyhan minta tolong aku untuk masakin makanan kesukaan mbak.."
Ujar Kirana.
"Emm.. Boleh deh.. Yuk kita sarapan bareng aja.."
jawab Annisa sambil menggamit lengan Kirana.
"Mbak.. boleh aku minta tolong sesuatu..?"
Tanya Kirana saat mereka tengah menikmati sarapan pagi itu.
"Kamu mau minta tolong apa Kirana..? Selagi bisa aku bantu, Insyaa Allah akan aku bantu.."
jawab Annisa sambil tersenyum.
__ADS_1
"emm.. itu mbak.. aku.. aku mau.. mau minta tolong.. aku.. aku ingin menghubungi ibu dikampung mbak.. kalau boleh, aku ingin meminjam ponsel mbak Nisa.. Soalnya.. Ponselku tertinggal dihotel kemarin.."
kirana tampak sungkan.
"Boleh aja kokk Kirana.. kamu gak usah sungkan ya..
setelah saeapan nanti, kamu bisa hubungi keluarga kamu.. mereka juga pasti sedang menunggu kabar dari kamu.."
jawab Annisa.
"Alhamdulillah.. makasih banyak ya mbak.."
Ujar Kirana dengan wajah berbinar.
Setelah selesai sarapan, Annisa memberikan ponselnya kepada Kirana.
Beruntung Kirana ingat betul nomor ponsel adiknya di kampung.
dia mencoba menghubungi adiknya menggunakan aplikasi whatsapp.
"Halo.."
Terdengar sapaan dari seberang sana, pertanda telepon sudah tersambung.
"Assalamualaikum Anjar.. ini kakak.. gimana kabar kamu..?"
"Kak Rana..? ini beneran kak Rana..?"
tanya suara di seberang.
"Iya Anjar.. ini kakak.. ibu mana..? Kakak mau bicara sama ibu.."
"Alhamdulillah kakk.. akhirnya aku bisa bicara sama kakak.. beberapa hari ini aku coba hubungi ponsel kakak tapi gak tersambung.. bahkan pesanku tak ada satupun yang terkirim.."
"Iyaa.. emm.. maaf ya, ponsel kakak hilang.."
jawab Kirana berbohong.
Suara Anjar tercekat.
"Ibu kenapa dek..?"
tanya Kirana yang mulai cemas mendengar nada suara Anjar.
"Ibu ngedrop lagi kak.. dan sampe sekarang masih dirumah sakit.. Dokter bilang ibu harus menjalani operasi transplantasi ginjal, tapi biayanya sangat besar.. Aku bingung kak.. aku harus gimana.. Uang yang waktu itu kakak titipkan udah habis terpakai untuk biaya administrasi rumah sakit.."
"Astaghfirullah ibu..."
Tanpa sadar Kirana menjerit histeris.
Annisa yang mendengar teriakan Kirana buru-buru menghampirinya.
"Kirana.. kamu kenapa..?"
tanya Annisa saat melihat Kirana yang sudah menangis tersedu hingga terduduk di lantai.
"Ibu aku mbak.. Ibu aku harus segera di operasi.."
Ujar Kirana lirih.
"Kak Rana.. kakak baik-baik aja..?"
Masih terdengar suara Anjar di ponsel milik Annisa, namun Kirana tak lagi sanggup bicara.
Annisa meraih ponselnya dan berbicara dengan Anjar.
"Maaf, saya Nisa temannya Kirana.. Kalau boleh tau, Ibunya Kirana kenapa ya..?"
tanya Annisa
"Kak Nisa.. Aku Anjar, adiknya kak Rana.. Ibu kami sekarang dirawat di rumah sakit kak, dan kata Dokter ibu harus segera di operasi.. tapi..."
__ADS_1
belum sempat Anjar melanjutkan Kirana kembali meraih ponsel milik Annisa.
"Dek.. tolong sampaikan pada pihak rumah sakit untuk melakukan operasi itu.. Kakak akan berusaha membayar semua biaya operasinya.. Dan kalo ada apa-apa, kamu bisa hubungi Kak Nisa.."
Ujar Kirana.
"Iya kak.. kalo gitu aku tutup dulu ya kak, aku lagi dijalan soalnya..
assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
jawab Kirana.
Kali ini Kirana tampak benar-benar putus asa.
"Mbak.. makasih ya, udah pinjamin ponselnya.."
Ujarnya.
"Kirana.. kalau boleh tau, ibu kamu sakit apa..?"
tanya Annisa.
"Ibu sakit ginjal Mbak.. udah lama.. dan Dokter bilang ibu harus segera menjalani operasi transplantasi ginjal.."
jawab Kirana dengan tatapan kosong.
"Sebentar yaa.."
Ujar Annisa kemudian meninggalkan Kirana yang masih termenung dimeja makan.
Tak lama kemudian Annisa kembali dengan membawa sebuah amplop.
"Kirana.. ini ada sedikit uang untuk membantu biaya operasi ibu kamu.. Kamu pake aja ya.. dan kalo emang masih kurang, kamh bisa kabari aku.."
Ujar Annisa sambil menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Kirana.
"Tapi mbak.. sepertinya ini terlalu banyak.. aku bingung, gimana aku bisa membayarnya nanti.."
gumam Kirana.
"Soal itu kamu gak perlu pikirin.. yang terpenting sekarang adalah kesehatan ibu kamu..
Kirana.. aku tahu persis gimana rasanya di posisi kamu.. karena aku juga udah kehilangan kedua orang tuaku.."
jawab Annisa sambil membelai pundak Kirana.
"Makasih banyak ya mbak.. aku akan berusaha membayarnya dengan mencicil.. mbak bisa potong dari gaji aku setiap bulan.."
Ujar Kirana sambil memeluk Annisa.
"Sebentar, aku coba hubungi Dennis dulu.."
Kemudian Annisa meraih ponselnya.
Meski awalnya tampak bingung, namun akhirnya Kirana mengerti.
Annisa meminta bantuan pada Dennis untuk berbicara pada salah satu petugas keamanan di kediaman O-Bachan untuk mengantarkan Kirana ke Bandara.
"Kamu pulanglah Kirana.. Keluargamu pasti membutuhkanmu.
Aku juga udah minta Dennis untuk menjemputmu di bandara.. untuk sementara kamu pakai aja ponsel ini.."
Kemudian Annisa menyerahkan ponselnya yang lain kepada Kirana.
"Dennis akan mengurus semuanya.."
tambahnya.
"Ya Allah mbak... aku benar-benar gak tau lagi gimana caranya berterimakasih atas semua kebaikan mbak.. semoga Allah membalas semua kebaikan mbak.."
__ADS_1
Ujar Kirana terharu sambil memeluk Annisa.