
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, namun Reyhan belum juga kembali.
Annisa mencoba menghubunginya berkali-kali namun selalu gagal.
Annisa mulai frustasi dan merasa sangat bersalah.
Jika saja dia tidak menyulut pertengkaran pagi tadi, pastilah Reyhan ada disampingnya sekarang.
Namun penyesalan memang selalu datang terlambat.
dan itulah yang Annisa rasakan sekarang.
Dia sangat menyesal karena tidak berusaha untuk memahami situasi yang dihadapi suaminya, namun justru bersikap kekanakan dan menuntut adanya penjelasan.
Annisa merutuki dirinya sendiri yang sudah begitu bodoh.
Ditengah keputus asaan, tiba-tiba dia teringat pada seseorang.
"Dennis... iya, mungkin sekarang mas Rey bersama Dennis atau setidaknya Dennis tau dimana dia.."
Gumam Annisa.
Kemudian Annisa mencoba menghubungi Dennis.
"Assalamualaikum.. Den, apa mas Rey ada sama kamu..?"
Tanya Annisa.
"Rey..? Gak, hari ini bahkan aku sama sekali gak bisa menghubunginya.. bukannya dia ada dirumah..?"
Jawab Dennis.
"Emm.. apa kamu tau dimana kira-kira dia sekarang..?"
Tanya Annisa dengan hati-hati.
"Aku gak yakin Nis, karena hari ini terlalu banyak yang harus diselesaikan. tapi aku juga gak bisa menghubunginya.. aku terpaksa meng handle semua urusan sendirian.. tapi aku akan coba lacak keberadaannya. dan kalau sudah kutemukan, aku akan segera mengabarimu.."
Jawab Dennis.
"Yaudah, makasih ya Den.."
kemudian Annisa menutup telfonnya.
"Gile lu boss.. tega bener minta aku bohongin Annisa.."
omel Dennis.
Benar, saat itu Reyhan sedang berada di apartemen Dennis.
"Aku gak memintamu berbohong, aku kan cuma menyuruhmu bilang gak tau.."
jawab Reyhan acuh.
"Ya sama aja kali boss..."
protes Dennis.
"Ya beda laah.."
jawab Reyhan tak mau kalah.
"Lagin kalian tuh kenapa coba, harusnya kan persoalan begini bisa diselesaikan dengan kepala dingin.."
"Masalahnya, dia tidak mempercayaiku Den.."
__ADS_1
"Bukan gak percaya Boss.. Dia cuma belum mengerti situasi yang sedang kau hadapi.. dan seharusnya kau berikan dia pengertian.."
Jawab Dennis.
"Annisa menuntut kejujuran, dan itulah yang gak bisa kulakukan.. andai dia tau, aku melakukan semua ini demi melindunginya.. aku gak ingin dia terseret kedalam masalah yang bisa membahayakannya.."
"Dan itulah yang harusnya kau katakan padanya boss.. yakinkan dia bahwa semua yang kau lakukan adalah demi kebaikannya juga.."
sanggah Dennis.
Reyhan menarik nafas dalam.
"Situasinya terlaku sulit untuk dijelaskan.. memang salahku juga yang sempat terbawa emosi dan meninggalkan rumah.. aku cuma ingin menenangkan pikiranku sejenak, dan mencari solusi terbaik..
penyerangan yang terjadi membuat pikiranku kacau.. Ditambah lagi dengan situasi antara aku dan Annisa seperti ini.. aku bingung harus menyelesaikannya darimana.."
"Soal itu gak perlu khawatir boss, aku pasti siap pasang badan untuk membantumu..
sekarang yang terpenting, berbaikanlah dengan istrimu.. berusahalah meyakinkan dia.."
jawab Dennis.
Reyhan menyandarkan tubuhnya di tembok sambil melipat tangannya didada.
"Itulah yang sedang kupikirkan sekarang.. bagaimana cara meyakinkannya.."
tiba-tiba ponsel Reyhan berdering, dilihatnya satu pesan masuk dari mama.
"Rey, Cepatlah pulang. kondisi Annisa memburuk.."
Reyhan tertegun membaca pesan dari mamanya.
tanpa berpikir panjang Reyhan kembali meraih kunci sepeda motor yang diletakkannya diatas meja.
"Kenapa Boss..?"
"Mama bilang kondisi Annisa memburuk.. aku harus pulang."
Jawab Reyhan yang kemudian langsung pergi begitu saja.
setelah kepergian Reyhan, Dennis menghubungi salah satu anak buahnya yang sengaja dia tugaskan untuk berjaga di kediaman Arbiantoro.
"Bagaimana situasi disana..?"
tanya Dennis saat telepon sudah tersambung.
"Aman terkendali boss.."
jawab Anak buahnya tersebut.
Dennis mematikan telfonnya.
"pasti ini akal-akalan tante Nirmala.. Cerdik juga.."
gumam Dennis sambil tertawa sumringah.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Reyhan memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. pikirannya semakin kacau, terlebih setelah mama mengatakan kondisi Annisa memburuk.
mendadak rasa takut menjalar dihatinya.
jika sampai terjadi sesuatu terhadap istri dan calon anaknya, pasti dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
begitu pikirnya.
__ADS_1
Pukul sebelas malam akhirnya Reyhan tiba di kediaman keluarganya.
Dengan sigap Reyhan turun dari sepeda motornya yang sudah terparkir tepat dihalaman rumahnya.
tanpa bertanya pada bodyguard yang berjaga didepan Reyhan langsung berlari menuju lantai dua, tepatnya kekamarnya.
Setibanya dikamar Reyhan melihat istrinya tengah tertidur.
*Astagaa.. sepertinya mama sengaja mengecohku.
batin Reyhan.
Ditariknya selimut disisi kasur dan ditutupkan ketubuh istrinya hingga sebatas bahu.
Ditatapnya wajah istrinya dengan mata yang sembab. perlahan dia membelai wajah itu, kemudian mengecup kening istrinya.
"Mas minta maaf sayang... gak seharusnya mas meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini.."
gumamnya lirih.
Saat akan beranjak, tiba-tiba sesuatu menahan tangannya.
"Kenapa mas pergi..?"
Tanya Annisa.
Reyhan terkejut karena ternyata Annisa sudah terbangun, atau mungkin dia hanya berpura-pura tidur.
"Kenapa mas pergi..? Harusnya mas membujukku.. harusnya mas berusaha membuatku mengerti.."
Ucap Annisa yang sudah bangkit dari posisinya.
Spontan Reyhan langsung memeluk istrinya. wajahnya nanar memendam sesal.
"Mas minta maaf sayang... mas khilaf.. mas benar-benar hilang kendali.. tolong jangan begini.. jangan membuat mas khawatir seperti ini.."
"Kalau mas mengkhawatirkan Nisa harusnya mas gak pergi.."
"Iya mas tau.. mas yang salah.. maafin mas.. gak sedikitpun mas bermaksud meninggalkan kamu.. mas hanya ingin menenangkan pikiran mas.."
Annisa menangis terisak dalam dekapan suaminya.
"Mas pikir cuma mas yang khawatir..? mas tau gak gimana khawatirnya Nisa yang seharian ini sama sekali gak tau mas dimana dan sedang apa.. bahkan mas sama sekali gak memberi kabar.."
"Maaf... mas benar-benar minta maaf.."
gumam Reyhan dengan tulus.
sungguh tak ada apapun yang bisa dia katakan saat ini kecuali meminta maaf.
"Ini semua salah Nisa mas.. Nisa yang bersikap kekanakan, dan gak memahami situasi yang sedang mas hadapi.. tapi Nisa justru menambah beban mas dengan sikap egois Nisa.. Nisa minta maaf mas.. tolong jangan marah lagi..."
Ujar Annisa sambil terisak.
Reyhan meletakkan kedua tangannya di wajah istrinya, kemudian menatapnya lembut sambil mengecup keningnya.
"Bagaimana mungkin mas bisa marah sama kamu.. Dan jangan pernah berpikir kamu adalah beban.. Karena kamu, adalah berkah terindah yang Allah titipkan untuk mas.."
Gumam Reyhan.
Annisa memeluk erat suaminya, dan menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang itu.
tak perduli apapun yang saat ini dirahasiakan oleh suaminya, Annisa sudah memutuskan untuk tetap membiarkannya menjadi rahasia hingga suaminya sendiri yang mengatakannya.
yang ingin dilakukannya saat ini hanyalah, mempercayai sosok lelaki yang saat ini ada di sisinya.
__ADS_1
Bukankah kepercayaan, adalah dasar terpenting dalam sebuah hubungan..?
dan terkadang, lebih baik jika kifa biarkan rahasia itu tetap menjadi rahasia.