
Operasi yang dijalani oleh ibu Kirana akhirnya berjalan dengan lancar.
ibu Kirana juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan akan dipantau oleh dokter dan perawat sampai kondisinya pulih.
"Alhamdulillah.. sekarang kamu bisa bernapas lega Kirana.. semoga ibu kamu juga lekas sembuh.."
Ujar Dennis.
"Iya.. makasih ya mas, karena sudah membantu dan menemaniku sampai sejauh ini..
tapi, aku rasa sebaiknya sekarang mas Dennis kembali ke Kobe.. mungkin tuan Reyhan butuh mas disana.."
Dennis menggeleng.
"Dia baru saja mengabariku, dan dia sendiri yang memintaku untuk tetap disini bersama kamu."
jawab Dennis.
"Tapi bukankah mas juga ada banyak pekerjaan disana..?"
"Tanggung jawab utamaku adalah mengikuti semua instruksi Reyhan.
Jika dia memintaku tetap disini, aku yakin dia bisa menghandle semua pekerjaannya disana.."
"Aku jadi merasa sungkan dengan tuan Reyhan dan mbak Annisa.. mereka juga sudah terlalu banyak membantuku.."
Gumam Kirana.
"Kamu gak perlu sungkan.. mereka melakukan itu dengan senang hati, karena mereka adalah orang-orang yang tulus.."
saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba adik bungsu Kirana menghampiri mereka.
"Kakak dipanggil ibu.."
Kemudian Kirana masuk kedalam ruangan tempat ibunya dirawat, sedangkan Dennis menunggu diluar.
Tak berapa lama kemudian Kirana keluar dan memanggil Dennis.
"Ada apa..?"
tanya Dennis.
"Ibuku ingin bicara sama mas Dennis.."
jawab Kirana sambil tersenyum.
Kemudian Dennis mengikuti Kirana memasuki ruangan tempat ibu Kirana dirawat.
"Ibu memanggil saya..?"
tanya Dennis saat sudah berada di sisi ranjang pasien.
"Wah, ternyata bos kamu tampan ya Na.."
ujar ibu Kirana sambil tersenyum dengan suara yang masih lemah.
"Ibu bisa aja.. saya jadi malu.."
jawab Dennis yang juga tersenyum.
"terimakasih banyak tuan, karena sudah banyak menolong keluarga kami.."
__ADS_1
ibu Kirana menggenggam tangan Denniz dengan kedua tangannya.
"Cukup panggil Dennis aja bu.."
ujar Dennis.
"Iya, tolong sampaikan juga salam dan terimakasih saya untuk tuan Reyhan dan istrinya.. saya gak bisa membalas, tapi semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik untuk keluarga tuan Reyhan.."
"Baik bu, nanti saya akan sampaikan. tuan Reyhan dan istrinya juga titip salam, mereka bilang semoga ibu lekas sembuh dan kembali kerumah.."
Setelah cukup lama berbincang dengan Kirana dan keluarganya, akhirnya Dennis memutuskan untuk pamit.
"Kalo gitu saya pamit dulu ya bu.. udah malam, ibu juga harus istirahat, biar cepat pulih.."
Saran Dennis.
"Iya.. sekali lagi terimakasih ya nak Dennis.."
"Sama-sama bu.. saya pamit ya, assalamualaikum.."
"waalaikumsalam.."
Kemudian Dennis keluar dari ruangan, diikuti oleh Kirana.
"Mas Dennis tinggal dimana..?"
tanya Kirana.
"Apartemen saya gak jauh dari sini..
oh iya, nanti kalau ada apa-apa kamu kabari saya ya.."
"Baik mas.. terimakasih banyak ya.."
"waalaikumsalam.."
jawab Kirana.
Saat di perjalanan pulang, Dennis kembali teringat saat berbicara empat mata dengan ibu Kirana tadi.
"Nak Dennis, ibu titip Kirana ya.. tolong jaga dia selama disana.. Sebenarnya ibu gak ingin dia pergi jauh, karena ibu gak bisa menjaganya.. tapi Kirana bersikeras ingin kesana.. ibu takut terjadi hal-hal buruk pada Kirana.. Ibu sudah kehilangan ayah mereka, ibu tidak ingin kehilangan anak-anak ibu juga.."
Ibu Kirana tampak memohon.
"Insyaa Allah bu.."
jawab Dennis sambil menggenggam tangan ibu Kirana.
melihat ibu Kirana yang terbaring lemah tak berdaya, Dennis teringat pada sosok ibunya.
Andai ibunya masih ada, mungkinkah ibunya akan mengomelinya lagi setiap malam karena dia tidur terlalu larut..?
dia membayangkan, akankah ibunya memaksanya membawa bekal ke kantor, padahal dia bisa makan atau memesan dari caffetaria yang disediakan di kantor.
atau mungkin ibunya akan memarahinya jika dia terlalu sibuk bekerja hingga tidak makan dan istirahat dengan teratur.
tetesan air bening sukses meluncur dari sudut matanya.
mendadak dia merasa dadanya sesak tak tertahan.
Dia menghentikan mobilnya di tepi jalan, kemudian keluar dari dalam mobil dan menatap lurus kedepan.
__ADS_1
raut wajah ibunya yang sedang tersenyum tergambar dengan sangat jelas, seolah wanita itu ada dihadapannya sekarang.
Dennis berusaha menggapai bayangan itu dengan kedua tangannya, namun ternyata yang dia dapati hanyalah udara kosong.
Kedua lututnya bergetar hebat, seolah tak mampu menopang berat tubuhnya.
dia terduduk bersimpuh, kemudian mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Anak laki-laki harus kuat, gak boleh cengeng."
Kata-kata ibunya terngiang ditelinganya.
Kata-kata yang selalu diucapkan ibunya setiap kali dia menangis karena sesuatu.
Namun sejak ibunya pergi, dia seolah lupa bagaimana caranya menangis.
ditatapnya kedua tangannya, tangan yang selama ini telah melampaui batas kemampuannya.
tangan ini selalu melakukan apapun yang ingin dia lakukan, namun tangan ini tak mampu mencegah kepergian ibunya untuk selamanya.
Napasnya semakin terasa menyesakkan, sama seperti saat dia melihat ibunya terbujur kaku.
Seolah dia sedang berada disana, melihat seorang bocah yang tak bergeming dari tempatnya.
Bocah itu menatap kedepan, tepat kepada sosok wanita yang sudah terbujur kaku tak bernyawa.
Bocah itu hanya diam, dengan tatapan kosong.
Dennis mencoba merengkuh bocah itu kedalam pelukannya, namun lagi-lagi dia hanya mendapati udara kosong.
"Kenapa... kenapa kau tidak mencegahnya pergi.. kenapa kau hanya diam disana.."
Gumam Dennis sambil menyentuh pelipisnya.
saat Dennis sedang merasa kalut, tiba-tiba seseorang mengejutkannya.
"Maaf mas, anda baik-baik saja..?"
Dennis segera tersadar, diusapnya wajahnya dengan kasar.
"Ya, saya baik. saya baik-baik saja."
jawab Dennis datar.
"Syukurlah.. saya kira terjadi sesuatu dengan mobil anda, karena sejak tadi saya lihat mobil anda berhenti disini.."
ujar pria tersebut.
Dennis menatap tajam pria itu.
Seakan mengerti maksud tatapannya, pria itu segera meluruskan.
"Saya pemilik warung kopi di sudut jalan itu.."
pria itu menunjukkan sebuah warung kopi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Oh, ya.. terimakasih atas perhatian bapak. tapi saya baik-baik saja."
jawab Dennis.
"Yasudah, kalau begitu saya tinggal dulu mas.. soalnya diwarung sedang ramai.. mari.."
__ADS_1
Setelah pri itu pergi, Dennis bergegas kembali kedalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.