
mobil melaju dengan kecepatan sedang, namun satu hal yang Annisa sadari : mobil itu tidak menuju ke arah kediaman Reyhan dan Reyna.
"kita mau kemana..?"
tanya Annisa
"ke suatu tempat, dan pasti kakak suka.."
jawab Reyna sambil cengengesan.
"Reyna,, orangtua kamu membayar kakak untuk jadi guru pembimbing kamu loh.. bukan untuk jadi temen hang out kamu.."
ujar Nisa sambil menaikkan sebelah alisnya.
"ihh.. kak Nisa nih gak uptodate banget deh...
kakak gak pernah dengar metode belajar sambil bermain..?"
Reyna ngotot seolah tak mau kalah.
spontan Annisa dan Reyhan tertawa mendengar jawaban polos Reyna tersebut.
"bermain sambil belajar itu untuk anak TK sama anak SD Ina.... atau jangan-jangan masa kecilmu suram yaa,, usia segini masih mau main.."
ledek Reyhan dan langsung dibalas adiknya itu dengan cubitan di bahunya.
setelah 30 menit diperjalanan akhirnya mobil yang mereka tumpangi menuju ke salah satu pekarangan yang cukup luas, di halaman depannya tertera plang bertuliskan "Yayasan Kasih Bunda"
Annisa mengerjapkan mata seolah tak percaya.
"Ini tempat apa..?"
Annisa bertanya dengan wajah penasaran.
"ntar juga kamu tau.."
jawab Reyhan
"yuk kak kita masuk.. kak Rey angkatin barang2 dibagasi yaa.."
ujar Reyna sambil terkekeh layaknya majikan menyuruh bawahan.
baru saja mereka akan melangkah masuk, dua orang anak langsung berlari menghampiri Reyhan.
"kakak Rey... kakak Rey pulang.."
anak-anak itu terlihat kegirangan
sementara beberapa anak lain juga bermunculan dan mengerumuni Reyhan seperti fans mengerumuni artis idola mereka.
Annisa terkejut saat salah satu anak mengatakan "kak Rey pulang"
namun dia tau belum saatnya untuk bertanya hal tersebut karna tampaknya Reyhan sedang kewalahan dan butuh bantuan.
"adek-adek.. kita masuk dulu yuk... kak Rey sama kak Ina bawain oleh-oleh yang banyak looh..."
Reyna berusaha menggiring anak-anak tersebut untuk masuk kedalam rumah.
"Na.. sebenernya ini tempat apa..?"
Annisa yang sudah penasaran sejak awal tak lagi bisa menahan diri.
"ntar aku ceritain ya kakk.. sekarang, kita main dulu sama mereka.."
banyak hal yang mereka lakukan ditempat itu.
bermain, belajar, dan makan bersama.
dan anak-anak ditempat itu terlihat sangat bahagia.
tak terasa waktu menjelang maghrib,
mereka memutuskan untuk sholat berjamaah di mesjid sekitar yayasan tersebut.
-----------------------------------------------
diperjalanan pulang, Reyna yang kelelahan tanpa sadar tertidur.
sedangkan Annisa masih asyik menatap layar ponselnya,
lebih tepatnya melihat beberapa gambar yang tadi sempat dia abadikan.
"mereka kelihatannya bahagia banget yaa.. tertawa, bermain.."
gumam Annisa
"terkadang apa yang kita lihat itu tidak selalu adalah hal nyata. mereka gak sebahagia itu Nis.. bahkan, kitalah sebenarnya yang jauh lebih beruntung dan jauh lebih bahagia dibandingkan mereka."
jawab Reyhan sambil tetap fokus dengan setirnya.
"maksudnya..?"
tanya Annisa tak mengerti.
"anak-anak itu gak punya siapa-siapa Nis.. ada yang dibuang oleh orang tuanya saat masih bayi, ada yang korban bencana alam dan tak tau dimana keluarganya, ada yang orangtuanya sudah meninggal bahkan saat mereka baru terlahir..dan yang lebih sendihnya lagi, ada yang dibuang karena mereka memiliki kekurangan fisik.."
ucapan Reyhan membuat Annisa trenyuh, dan tanpa sadar airmatanya menetes.
Reyhan yang menyadari hal itu langsung menyodorkan tissue yang memang tersedia di dashboard mobilnya.
"tapi... kok ada yaa orang tua yang tega buang anaknya sendiri.."
jawab Annisa sambil menyapu airmatanya dengan tissue.
"namanya juga manusia Nis.. ada yang baik, ada juga yang jahat.. itulah kenapa Allah ciptakan surga dan neraka, malaikat dan iblis..."
Annisa melirik ke arah Reyhan yang masih fokus menyetir.
deg....
__ADS_1
ada perasaan aneh. buru-buru Annisa memalingkan wajah sebelum Reyhan sempat menyadarinya.
"kayaknya aku lihat anak-anak tadi kenal dekat sama kamu.. kamu sering main kesana..?"
tanya Annisa ingin tau
"yaa,, lumayan sering.. hampir setiap hari malah..
gak tau kenapa, aku ngerasa ada perasaan tenang dan tentram saat bersama mereka.. aku ngerasa kayak mereka itu udah jadi bagian dari diri aku.."
lagi-lagi Annisa merasakan debaran aneh dijantungnya.
dan, kali ini dia melihat sisi lain dari seorang Reyhan Arbiantoro. sosok pria yang selama ini dianggap pembuat onar, dan terkesan cuek dengan orang lain.
siapa sangka ternyata memiliki hati yang mulia.
benarlah kata pepatah bijak, jangan pernah menilai orang dari sisi luarnya.
karena terkadang orang yang kita lihat baik tampilan luarnya, belum tentu baik juga hatinya.
begitu juga sebaliknya.
"jadi, apa karena itu kamu berniat ikut kegiatan amal..?"
tanya Annisa.
"gak sepenuhnya, tapi ada alasan lain kenapa aku memutuskan untuk ikut kegiatan ini.."
kemudian mereka melanjutkan pembahasan untuk kegiatan amal yang akan mereka lakukan dua hari kedepan,
hingga akhirnya mereka tiba dihalaman rumah Annisa.
"makasih banyak ya untuk hari ini.."
ucap Annisa sambil tersenyum.
"sama2.. tapi harusnya aku yang makasih looh.."
jawab Reyhan
"makasih untuk..?"
"yaa makasih karena secara gak sadar kamu udah bantu keluarga aku.. maksud aku, dengan adanya kamu.. Reyna jadi lebih semangat dan termotivasi untuk melakukan hal2 yang lebih baik..
yaa contohnya kayak hari ini.."
Annisa menjawab dwngan sunggingan senyumnya.
"yaudah, kami pamit dulu yaa.. salam sama ibu kamu..
assalamualaikum.."
"waalaikumsalam.."
kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, sementara Annisa langsung masuk kedalam rumahnya.
dan betapa terkejutnya Annisa saat melihat ibunya yang sudah tergeletak dilantai.
tanpa berpikir lagi Annisa langsung meraih ponselnya dan menghubungi Reyna.
karena saat ini pasti mereka belum jauh dari daerah rumahnya, itulah yang Annisa pikirkan.
-----------------------------------------------
Reyhan sedang berhenti untuk membeli sate padang dari pedagang dipinggir jalan saat tiba-tiba ponsel Reyna berdering, sementara si pemilik sudah terlelap dialam mimpi.
"hemm.. emang dasar kebo.. kebiasaan kalo udah tidur,, bahkan seandainya bumi gempa pun mungkin dia gak nyadar.."
gumam Reyhan sambil mencari ponsel adiknya tersebut didalam tas.
dan, tertera nama "kak Nisa" di layar ponsel tersebut.
Reyhan langsung mengangkatnya.
"assalamualaikum na.. kalian dimana..?"
belum sempat Reyhan mengucap salam suara diseberang sana langsung membuatnya trenyuh.
dari suaranya, Reyhan yakin saat itu Annisa sedang kalut dan bingung.
"waalaikumsalam.. Nis, maaf yaa aku yang angkat. Ina kalo udah tidur kaya kebo, susah banget dibangunin..
ada apa Nis..?"
"Rey.. aku boleh minta tolong gak..?
aku bingung dan gak tau harus minta tolong kesiapa..
ibu aku pingsan Rey, dan sekarang aku gak tau harus gimana.."
Annisa berusaha menjelaskan dengan suara terisak.
"yaudah kamu tunggu bentar ya, aku balik kerumah kamu sekarang."
dengan sigap Reyhan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
-----------------------------------------------
sesampainya dirumah Annisa, tanpa banyak bertanya Reyhan langsung membantu Annisa menggendong bu Hanum kedalam mobil.
Reyhan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
sementara itu Annisa hanya bisa menangis sambil memangku ibunya.
Reyna yang tadinya sudah dibangunkan oleh Rey berusaha menenangkan Annisa.
-----------------------------------------------
dirumah sakit...
__ADS_1
bu hanum langsung ditangani oleh dokter dan para perawat diruang IGD,
sementara Annisa,Reyna dan Reyhan menunggu diluar.
Annisa anya bisa beristighfar dan berdzikir didalam hatinya, sambil berharap ibunya baik-baik saja.
sementara Reyna berusaha untuk menenangkan Annisa.
hanya Reyhan yang terlihat tenang dalam menghadapi situasi ini.
namun bukannya dia tidak khawatir, hanya saja dia tak ingin terlalu terbawa dengan perasaannya sendiri.
biar bagaimanapun dia harus tetap bisa berpikir dengan jernih, karena dalam situasi ini Annisa pasti sangat membutuhkan bantuan sedangkan dirinya sendiri dalam keadaan yang kalut.
entah sudah berapa lama waktu berlalu, hingga akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampiri mereka.
"apakah kalian keluarga dari pasien bernama ibu Hanum..?"
"iya dok, saya anaknya.. ibu saya kenapa dok..?"
Annisa langsung bertanya pada dokter yang menangani ibunya.
"setelah kami melakukan pemeriksaan, ibu hanum mengalami serangan jantung mendadak yang diakibatkan karena hipertensi.
dan masih memerlukan perawatan lanjutan."
Annisa jatuh terduduk sambil menangis.
"tolong lakukan semaksimal mungkin dok.. bila perlu datangkan dokter spesialis yang terbaik untuk menangani pasien. saya akan tanggung semua biaya pengobatannya."
ucap Reyhan
"baiklah, kami akan lakukan usaha sebaik mungkin.. mudah-mudahan Allah berikan kesembuhan untuk pasien."
jawab dokter tersebut.
-----------------------------------------------
pukul 2 dini hari, bu hanum sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP dirumah sakit tersebut.
Annisa memandang wajah ibunya dengan tatapan sendu.
"maafin Nisa bu... Nisa gak bisa jagain ibu.. Nisa juga belum bisa bahagiain ibu.. ibu cepat sembuh ya.. Nisa masih ingin berbakti sama ibu.."
ucap Annisa sambil menangis tersedu.
"kak Nisa.. kita banyakin berdoa ya.. semoga ibu kak Nisa segera pulih.. biar hati kakak lebih tenang, gimana kalo kita sholat tahajud dulu..?"
Annisa mengangguk lemah.
"kak Rey, tolong titip ibu hanumnya sebentar ya.."
Reyhan mengangguk.
kemudian Annisa dengan dipapah Reyna keluar dari ruangan dan berjalan menuju mushola rumah sakit.
sementara itu diruang pasien, bu hanum mulai sadar dan memanggil nama Annisa.
"Icha...."
panggil bu hanum dengan suara yang masih sangat lemah.
Reyhan yang menyadari hal tersebut langsung beranjak dari tempatnya.
"alhamdulillah bu, ibu udah sadar.."
ucap Reyhan dengan pwnuh syukur
"Icha dimana..?"
"Icha lagi dimushola bu, sama Reyna.. dia pasti bakal senang banget kalo tau ibu udah sadar.."
bu hanum mengangguk perlahan
"nak Reyhan... boleh ibu minta tolong sama kamu..?"
"ibu mau minta tolong apa bu..? kalau Reyhan mampu Insyaa Allah Reyhan tolong.." jawab Reyhan
"ibu titip Annisa yaa.. tolong jaga dia.."
Reyhan tercekat mendengar permintaan bu hanum.
"kita sama sama jagain Nisa ya bu.. karena itu, ibu juga harus sembuh.."
jawab Reyhan
ibu hanum menggeleng
"ibu udah gak ada waktu lagi nak Rey.. tolong bantu ibu ya.. ibu titip Annisa di kamu.. tolong jaga dia ya nak Rey.."
setelah itu bu hanum mengucap "Laa Ilaha Illallah" dan menghembuskan nafas terakhirnya.
-----------------------------------------------
assalamualaikum temen2...🤗🤗
mohon bantu dukungannya untuk novel ini yaa..
aku tunggu kritik dan saran kalian di kolom komentar..😊😊
jangan lupa likenya juga yaa...
biar author makin semangat untuk lanjutin novel ini..😊😊
yang pengen kepoin author bisa follow akun ig aku yaa..
@tara_ramadhani
gomawo...😊😊😊
__ADS_1