
Sudah dua minggu sejak Annisa kembali kerumah, namun selama waktu itu tak pernah sekalipun Dennis muncul dikediaman o-bachan walau cuma sesaat.
*Dennis kok udah lama gak nongol ya..? Biasanya dia sering kesini bahas kerjaan sama mas Rey.."
Batin Annisa sore itu.
"Mbak Annisa.. lagi mikirin apa sih..? Serius banget kayaknya.."
Sapa Kirana yang langsung mengambil posisi duduk disampingnya.
Sore itu Annisa tengah menikmati udara sejuk di taman belakang.
"Kirana.. Emm.. boleh aku tanya sesuatu..?"
"Tanya apa mbak..?"
Kirana tampak ingin tahu.
"Emm.. ini soal.. itu.. soal Dennis.."
Annisa ragu-ragu menyampaikannya.
"Kenapa dengan mas Dennis..?"
tanya Kirana.
"Kamu.. ngerasa ada yang aneh gak sih sama Dennis..? Maksud aku, dari tingkah lakunya belakangan ini.."
"Wah, kalo itu aku juga gak tau sih mbak.. Soalnya aku juga udah lama gak lihat mas Dennis.. Aku cuma tau kalo sekarang mas Dennis lagi disibukkan dengan pekerjaan.."
Jawab Kirana polos.
"Eh tapi beberapa hari yang lalu dia memang sempat kirim pesan singkat, dia nanyain keadaan mbak dan tuan Reyhan.."
sambungnya.
"Rasanya ada yang aneh.. Mas Rey sendiri juga belakangan ini kesulitan menghubungi Dennis.. Bahkan dia gak pernah ada di apartemen setiap kali mas Rey coba menemuinya.."
Gumam Annisa.
"Ya mungkin aja memang mas Dennis lembur dikantor mbak.."
jawab Kirana.
"Kalau benar begitu, kenapa mas Rey justru gak tahu? Bahkan Dennis juga jarang ada dikantor. Tiap kali mas Rey mencarinya, sekretarisnya selalu bilang Dennis sedang ada diluar.."
Annisa dan Kirana saling bertatapan.
"Kirana.. apa terjadi sesuatu pada Dennis selama aku tidak ada..?"
tanya Annisa dan langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Kirana.
"Yaudah mbak, mungkin memang mas Dennis lagi ada pekerjaan penting. Sekarang kita masuk kedalam ya, sudah mau hujan.."
Kemudian Annisa dan Kirana berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
Satu minggu kemudian, situasi masih tak berubah.
Dennis masih belum juga bisa ditemui. Bahkan Reyhan yang adalah bos sekaligus sahabatnya juga kesulitan menghubunginya.
"Mas.. Kamu yakin Dennis baik-baik aja..? Gak biasanya loh dia begini.."
__ADS_1
Ucap Annisa sambil mengecup punggung tangan Reyhan yang baru saja kembali dari kantor.
"Mas juga bingung sayang.. Mas tau persis Dennis. Kalau dia sedang ada masalah, dia memang suka menghilang. tapi biasanya, paling cuma dua atau tiga hari. Dua kali dia pernah bersikap seperti ini..
Pertama ketika dia kehilangan ibunya, dan kedua saat dia kehilangan saudara perempuannya.
Mas gak tahu kemana dia pergi, bahkan dia gak ada ditempat yang biasa dia datangi. Kecuali, kalau dia punya satu tempat persembunyian yang hanya dia sendiri yang tahu.."
"Lalu, gimana dia bisa kembali..?"
Tanya Annisa.
"Seperti kepergiannya yang tiba-tiba, dia juga kembali secara tiba-tiba. Dan bersikap seperti biasa, seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Seolah dia hanya pergi berlibur satu atau dua hari.."
Annisa mengernyitkan kening.
"Yaudah, gak usah terlalu dipikirin sayang.. Kalau situasi hatinya sudah baik, dia pasti akan kembali.
Dennis itu berbeda dari kebanyakan orang sayang.
Dihadapan semua orang, dia selalu berusaha bersikap sempurna. Bahkan mas yang sudah bersahabat dengannya sejak kecil pun, sampai sekarang tidak pernah benar-benar memahami dirinya."
"Ya, mungkin mas benar.."
gumam Annisa.
Kemudian Reyhan mengecup kening istrinya, dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa ini ada hubungannya dengan pertemuanku dengan Dennis waktu itu..? Entah kenapa aku merasa, Dennis sengaja menjauh karena masalah itu.."
Gumam Annisa sambil menghela napas.
Minggu demi minggu berlalu, hingga akhirnya Dennis kembali.
bagaimanapun juga, Dennis memiliki privasi yang hanya dirinya sendiri yang boleh tahu dan sebagai sahabat, Reyhan menghargai itu.
Toh selama ini Dennis selalu menyelesaikan pekerjaannya, meskipun Reyhan tak pernah tahu kapan dan dimana dia melakukan semua pekerjaannya.
Dennis hanya mengirimkan berkas-berkasnya melalui email pribadi.
Annisa juga sudah berbicara pada Dennis. Annisa sudah mengikhlaskan semuanya. Sejak kepergian Dennis, Annisa selalu dihantui rasa bersalah. Karena keegoisannya tidak hanya nyaris menghancurkan rumah tangganya, tapi dia juga membuat Dennis menghilang.
Dan akhirnya, situasi kembali normal.
Waktu berlalu begitu cepatnya, tak terasa kandungan Annisa susah memasuki bulan ke lima.
"Alhamdulillah ya sayang, anak-anak kita didalam sehat.."
Ujar Reyhan sambil mengelus perut Annisa yang sudah tampak membesar.
"Iya mas.. itu semua juga karena mas yang selalu jadi suami siaga.."
jawab Annisa.
"Aduhhh"
tiba-tiba Annisa mengaduh.
"Kenapa sayang?"
Wajah Reyhan berubah panik seketika.
__ADS_1
"Mas.. anak kita nendang-nendang.."
Ujar Annisa sambil tersenyum sumringah.
"Masya Allah..."
Reyhan kembali mengelus perut Annisa.
"Anak-anak abi, kalian baik-baik ya didalam.. jangan nakal.. kasihan umi.."
gumam Reyhan seolah berbicara kepada bayinya.
Annisa menatap wajah suaminya dengan tatapan teduh.
Betapa beruntungnya dia, memiliki suami soleh dan bertanggung jawab seperti Reyhan.
untuk tampan dan tajirnya, itu bonus.
Bahkan hingga saat ini pun terkadang dia merasa ini seperti mimpi.
Dan jika memang benar ini mimpi, Annisa ingin tetap tertidur.
Bahkan mimpinya pun tak pernah seindah ini.
Karena hidup yang dia jalani sekarang, tidak pernah terpikir dibenaknya.
Jangankan untuk menikah dengan pria soleh, bahkan Annisa tak pernah berani mengidamkannya dulu.
Tapi sekarang, dia diperlakukan seperti seorang ratu.
Apapun yang dia inginkan, kemanapun dia ingin pergi, apapun yang dia pikirkan dan dia rasakan, selalu ada Reyhan yang setia mendukungnya.
Annisa mengelus lembut kepala Reyhan yang saat itu sedang mengecup perutnya.
"Mas..."
"Hmm.."
Reyhan mendongakkan kepala untuk menatap Annisa.
"terimakasih.."
Ucap Annisa sambil tersenyum.
"terimakasih untuk..?"
Reyhan tampak bingung.
"terimakasih, karena telah menjadikan Nisa satu-satunya istri mas.."
Reyhan berdiri sambil menggenggam kedua tangan Annisa.
"Terimakasih juga sayang.."
"terimakasih untuk..?"
Kali ini Annisa yang tampak bingung.
"Terimakasih untuk semuanya... terimakasih karena kamu bersedia menjadi satu-satunya istri mas, terimakasih karena kamu bersedia merasakan sakit demi menjadi ibu untuk anak-anak kita.. dan..."
"Dan..?"
__ADS_1
"Dan untuk semua cinta juga ketulusan kamu selama ini.."
Kemudian Reyhan menarik Annisa kesalam dekapannya, sambil mengecup lembut kening Annisa.