Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
119. Perasaan Aneh


__ADS_3

Malam itu Kirana bersimpuh diatas hamparan sajadah.


Dengan masih menggunakan mukenah lengkap Kirana menadahkan tangan sambil menangis sesegukan.


"Ya Allah..jika memang dia baik untukku, baik untuk agama dan dunia akhiratku, hamba mohon berikanlah kemudahan bagi kami untuk menjalankan sunnah rasul-Mu. tapi jika dia tidak baik untukku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, hamba berserah hanya kepadaMu.. Ya Allah ya Tuhanku, hanya kepadaMu hamba memohon, berilah hamba petunjukMu.."


Begitulah sebait doa yang dia panjatkan.


Usai melaksanakan sholat istikharah, Kirana meraih Mushaf Al-Qur'an yang terletak diatas nakas dan perlahan membacanya.


Kirana membaca surah Al-Fatihah.


Ya, sesungguhnya saat ini hatinya sedang gamang.


Dan dia membutuhkan petunjuk dari Dia yang Maha Mengetahui.


Kirana membaca surah itu berulang-ulang, berharap Allah memberikan petunjuk atas istikharahnya.


Setelah merasa hatinya lebih tenang, Kirana membereskan perlengkapan sholatnya kemudian beranjak ke tempat tidur.


☆☆☆☆☆☆


Adzan subuh berkumandang saat Kirana tersentak bangun.


Dia segera membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat subuh.


Usai melaksanakan sholat subuh Kirana mempersiapkan bekal sarapan untuk Ibu dan Anjar yang menjaga Nabila dirumah sakit.


Sedangkan Nabila, Dokter mengatakan dia masih harus mengkonsumsi bubur. Karena ternyata setelah Dokter melakukan tes darah hasilnya Nabila menderita penyakit demam typhoid (typhoid fever).


Baru saja Kirana akan berangkat menuju ke rumah sakit, seseorang mengucap salam dari depan pintu.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Jawab Kirana sambil membuka pintu.


"Kirana.. mau ke rumah sakit..?"


tanya Dennis yang sudah berdiri didepan pintu.


Kirana tertegun sejenak, kemudian buru-buru menundukkan kepala.


"Emm.. i-iya, mas.."


jawab Kirana gugup.


Entah kenapa pagi ini dia merasa sangat gugup berhadapan dengan Dennis, tak seperti biasa.


Mungkin karena lamaran Dennis yang secara tiba-tiba.


Tapi hei, tunggu dulu.


Ada yang salah dengan detak jantungnya.


Sepertinya detakannya terasa lebih cepat dan memburu.


"Yaudah, ayo mas antar.."


Ucap Dennis.


blushh...


wajah Kirana memerah.


untungnya dia sedang menunduk, jadi Dennis tidak melihatnya dengan jelas.


Suara Dennis pagi ini juga terdengar tak seperti biasa.


Entahlah, sepertinya memang ada yang salah dengan Kirana.

__ADS_1


itulah yang dia pikirkan.


"Nana.. Kenapa diam..? Ayo.."


Kirana tersadar, kemudian mengikuti langkah Dennis dari belakang setelah mengunci pintu.


Tak ada separah katapun yanv mereka ucapkan selama di perjalanan.


Kirana hanya memandang keluar jendela, sambil sesekali curi-curi pandang kepada Dennis yang tampak fokus mengemudikan mobilnya.


*Mas Dennis hari ini terlihat berbeda


batin Kirana sambil mencuri-curi pandang.


"Jangan curi-curi pandang, awas nanti jatuh cinta.."


goda Dennis yang masih tetap fokus melihat kedepan.


blusshh...


lagi-lagi wajah Kirana memerah.


Gadis itu segera memalingkan wajah, takut Dennis menyadari kegugupannya.


*Ya Allah.. makhluk ciptaanMu ini membuat jantungku tak normal.. ada apa dengan jantungku.. jangan-jangan aku terkena serangan jantung mendadak..


Batin Kirana.


Setibanya di rumah sakit Kirana dan Dennis langsung menuju ke ruang rawat Nabila.


"Tuan malaikattt..."


Nabila memekik girang saat melihat kedatangan Dennis.


"Ohayo... Gimana kondisi kamu tuan putri..?"


Tanya Dennis sambil duduk di sisi ranjang pasien.


"Alhamdulillah, getting better.."


"Karena kondisi tuan putri mulai membaik, Kak Dennis punya hadiah untuk Nabila.."


Ucap Dennis.


Dennis merogoh saku jasnya, kemudian mengeluarkan sebuah kalung berlian dengan liontin berbentuk hello kitty.


semua orang disitu sontak terkejut.


"tuan malaikat, itu untuk Bila..?"


tanya Nabila terkejut.


"Tentu.. ini hadiah kecil untuk tuan putri.. Kak Dennis pakein ya.."


Kemudian Dennis memakaikan kalung tersebut ke leher Nabila.


"Nak Dennis.. harusnya gak perlu memberikan hadiah semahal itu.. Kami jadi merasa sungkan.."


Ucap ibu Kirana.


"Bu, gak perlu sungkan begitu.. lagipula saya memang berniat memberikan kalung itu kepada Nabila. Emm.. sebenarnya, kalung itu milik almarhumah adik saya bu.."


Jawab Dennis.


Dan jika diperhatikan dengan seksama, ada guratan kesedihan yang dalam dibalik senyumnya saat mengatakan itu.


"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.. ibu turut berduka ya nak Dennis, semoga almarhumah adik nak Dennis husnul khotimah.."


Dennis mengangguk, sambil tersenyum penuh arti.


Sementara Kirana, sejak tadi hanya diam.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi dengannya hari ini, tapi dia tahu ada yang salah dengan dirinya.


"Tuan malaikat, Kak Nana bilang dia bersedia menikah dengan tuan malaikat.."


Celoteh Nabila dengan polos.


Sontak semua orang yang ada didalam ruangan kembali terkejut.


Sedangkan Kirana, gadis itu langsung menutup mulut Nabila dengan telapak tangannya.


"Emm.. Bila, kalungnya bagus yaa.."


Ucap Kirana yang berusaha mengalihkan topik.


"Kak Nana malu-malu tuh.."


Ledek Anjar.


Sedangkan Ibu hanya tersenyum melihat kejadian tersebut.


"Sore nanti kita akan bicarakan soal itu, aku harus segera kekantor sekadang."


Ucap Dennis sambil melirik Kirana.


"Gak mau sarapan bareng dulu nak Dennis..?"


tanya Ibu Kirana.


Dennis melirik jam tangannya.


"Maaf bu, saya buru-buru.. lekaslah sembuh tuan putri, singgasana keeajaan sudah menunggu.."


Ucap Dennis pada Nabila sambil mengusap lembut kepalanya.


"Siap tuan malaikat..."


Jawab Nabila sambil memberikan dua jempolnya.


"Ibu, Anjar, aku pamit dulu. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


jawab mereka semua.


Kirana meletakkan rantang bekal yang tadi dia bawa ke atas nakas.


"Kak Nana, lihat ini.. kalung Bila bagus kan.. ini kalungnya pasti mahal.."


Celoteh Nabila sambil memamerkan kalung berliontin hello kitty yang tergantung dilehernya


"Iya.. disimpan baik-baik ya kalungnya, jangan sampai hilang.."


jawab Kirana sambil tersenyum.


Melihat Nabila yang begitu bahagia, hati Kirana merasa trenyuh. Benar kata Dennis, selama ini Nabila tidak benar-benar bahagia.


Kirana kembali tertegun mengingat pembicaraannya dengan Dennis kemarin.


tiba-tiba wajah Dennis yang sedang tersenyum terlintas dibenaknya.


"Astaghfirullah..."


gumam Kirana.


"Kenapa Na..?"


tanya Ibu yang mendengar gumaman Kirana.


"Paling ngelamunin kak Dennis bu.."


sergah Anjar sambil tersenyum meledek.

__ADS_1


"Gak bu, gak ada apa-apa kok.. Kirana keluar dulu ya.."


Kemudian Kirana keluar dari ruangan untuk menyembunyikan kegugupannya.


__ADS_2