
waktu berlalu, dan akhirnya jam perkuliahan pun usai.
Annisa berjalan dikoridor bersama Dwi.
rencananya setelah usai dzuhur mereka akan menjenguk Kak Erick yang sedang dirawat di Rumah Sakit.
"Nis, Lisa sama Clara gak masuk ya..?"
tanya Dwi disela sela obrolan mereka.
Annisa menggeleng.
"tadi sih aku udah chat, kalo Clara lagi ada kerjaan diluar kota. Lisa juga lagi ada dirumah *tulangnya di Medan." (*panggilan orang batak untuk paman)
Annisa merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, dilihatnya sudah ada satu pesan whatsapp dari suaminya.
dia bahkan hampir lupa jika pagi tadi dia sempat mengirimkan pesan kepada suaminya saat dia merasa dikuntit orang misterius.
"Dwi, aku hubungi Mas Rey dulu ya.."
kemudian Annisa berjalan agak menjauh, ke koridor yang sedikit sepi untuk menghubungi Reyhan.
"Assalamualaikum mas.."
Sapa Annisa.
"Waalaikumsalam.. sayang masih dikampus..?"
tanya Reyhan
"Iya.. jam kuliah udah kosong, tapi rencananya habis dzuhur nanti Icha sama Lisa mau jenguk kak Erick di Rumah Sakit.. boleh kan..?"
Agak lama Reyhan terdiam, awalnya Annisa ragu dia akan mengizinkan.
"Yaudah.. tapi kamu tetap hati-hati loh.. kabarin mas terus dimana lokasi kamu.."
jawab Reyhan
"Iya mas.. yaudah, Icha tutup dulu ya..
Assalamualaikum.."
setelah salamnya dijawab Annisa menutup teleponnya dan memasukkan ponselnya kedalam tas.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annisa dan Dwi sedang menunggu bus di halte dekat kampus.
karena memang sudah waktunya pulang, siang itu halte tampak ramai dipenuhi mahasiswa/mahasiswi yang juga kuliah dikampus yang sama dengan Annisa.
Mengingat peristiwa pagi tadi, Annisa merasa sedikit cemas. dia melihat ke sekeliling, kalau-kalau orang misterius itu ada disekitarnya dan ternyata...
"Dwi.. kamu lihat orang misterius yang bersandar dipohon itu.."
Annisa berbisik kepada Lisa sambil menunjuk ke arah yang dimaksudnya.
Dwi menoleh ke arah tersebut, dan dia juga melihat sosok misterius persis seperti yang diceritakan Annisa pagi tadi.
"Nis.. kamu udah bilang ke Reyhan soal ini..?"
tanya Dwi.
Annisa mengangguk.
"pagi tadi aku sempat chat dia, dan dia bilang aku harus tetap waspada.. dan ini agak aneh sih menurutku.."
ujar Annisa.
"Yaudah.. abaikan aja dulu Nis.. selagi dia gak melakukan hal buruk, kita juga gak bisa menuduh sembarangan kan.."
jawab Dwi berusaha menenangkan Annisa.
tak berapa lama kemudian Bus yang mereka tunggu tiba, dan beberapa mahasiswa mahasiswi lajn juga ikut berjejal masuk.
kali ini Dwi dan Annisa terpaksa harus berdiri dengan berpegangan pada pegangan tangan di busway.
Annisa kembali melihat sekitarnya yang sudah dipadati mahasiswa dan mahasiswi lain.
*syukurlah, kayaknya orang itu gak ada disini
batinnya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Perjalanan menuju Rumah Sakit memakan waktu sekitar empat puluh menit dan akhirnya mereka tiba di halte yang lokasinya tepat didepan Rumah Sakit.
Kali ini Annisa dan Dwi sedang berjalan memasuki area Rumah Sakit tersebut dengan menenteng buah tangan yang tadi mereka beli di toko buah depan Rumah Sakit.
Namun lagi-lagi Annisa harus tetap waspada karena ternyata si penguntit berada di belakang mereka kali ini.
"Dwi.. bukannya tadi dia gak ada didalam bus kan..? tapi kenapa dia ada disini ya..?"
__ADS_1
Annisa berbisik kepada Dwi.
Dwi menggeleng.
"Aku ada ide.."
ujar Dwi
"Ide apa..?"
Tanya Annisa penasaran.
"mumpung kita ada ditempat yang ramai, kenapa gak kita samperin aja orang itu terus kamu tanya dia baik-baik..?"
usul Dwi.
"astaga Dwi... yang bener aja.. trus kalo misalnya ternyata dia memang punya niat jahat atau dia bawa senjata gimana..?"
Annisa tampak semakin cemas.
"coba deh kamu pikir.. kali memang dia ada niat jahat, pasti dia udah melakukannya waktu dihalte pagi tadi kan..?
bukannya itu waktu yang paling tepat.. kalian cuma berdua kan waktu itu.."
jawab Dwi.
Annisa terdiam sejenak memikirkan ucapan Dwi
*Ada benarnya juga sih.. kalo memang dia berniat buruk, dia punya banyak kesempatan sejak pagi tadi. tapi ternyata gak ada yang terjadi
batin Annisa.
"yaudah.. yuk kita samperin dia.."
jawab Annisa
kedua gadis itu kemudian berbalik, dan hendak menemui si penguntit.
Namun ternyata mereka kalah cepat, karena si penguntit keburu sadar dan pergi begitu saja.
"nah.. pagi tadi persis kayak gini nih kejadiannya.. waktu aku panggilin satpam, eeh tau-tau dia udah gak ada.."
Annisa mendengus kesal.
"Yaudah sih.. atleast, kita tau dia gak berniat buruk kan.."
jawab Dwi sambil menarik tangan Annisa dan berjalan kembali menuju Rumah Sakit.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Namun ternyata Reyhan sudah menunggu mereka didepan Rumah Sakit.
"Mas,, kok kamu bisa ada disini..?"
tanya Annisa heran saat Reyhan menghampiri mereka.
"Assalamualaikum sayang.."
Sapa Reyhan sambil mengelus kepala Annisa.
pipi Annisa langsung memerah, karena perlakuan Reyhan.
"Waalaikumsalam.."
jawabnya.
kebetulan tadi mas juga lagi jenguk karyawan mas yang sakit, jadi sekalian mas tunggu kamu disini.."
jawab Reyhan.
"Nis.. kamu balik sama Rey kan.. kalo gitu aku balik duluan ya.. Assalamualaikum.."
kemudian Dwi berlalu meninggalkan mereka.
"Sayang, kamu pasti belum makan siang kan.. kita makan diluar ya.."
Annisa mengangguk, kemudian Reyhan menggiringnya masuk kedalam mobil.
"Mas.. kayaknya Icha merasa aneh deh hari ini.."
Ujar Annisa saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Aneh kenapa..?"
tanya Reyhan yang tetap fokus menyetir.
kemudian Annisa menceritakan penguntit aneh yang mengikutinya sejak pagi.
"hemm.. tapi mas rasa, mungkin dia memang bukan orang jahat.."
ucap Reyhan saat Annisa selesai bercerita.
__ADS_1
"kalo dia bukan orang jahat trus ngapain dia nguntit coba..?
apalagi dengan penampilan begitu.."
"Ya mungkin aja dia cuma iseng.."
jawab Reyhan asal
"isengnya mah kelewatan.."
Annisa mendengus kesal
Reyhan tertawa melihat tingkah istrinya tersebut kemudian membelai kepalanya.
"atau mungkin sebenarnya dia gak punya gigi, jadi dia nutupin pake masker biar gak dilihatin orang gitu. "
ujar Reyhan sambil menahan tawa
"itu sih alasan yang gak logis mas.."
"kenapa gak logis..? Sayang, kamu tau sendiri kan orang-orang jaman sekarang.. kalau melihat orang yang mereka rasa 'sedikit berbeda' pasti langsung jadi bahan bully an.. banyak loh kasus begitu.."
jawab Reyhan
"iya juga siih.."
Annisa terdiam sejenak.
Reyhan menggenggam tangannya.
"Sayang, kamu gak perlu khawatir.. Mas pasti akan selalu jagain kamu.."
Annisa menoleh, dan tatapan mereka bertemu sekilas, kemudian Reyhan kembali fokus menyetir.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hari menjelang maghrib saat mereka tiba dirumah.
setelah selesai membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib mereka menuju ruang makan.
"Sayang.. besok pagi mas harus berangkat keluar kota.. kamu gak apa kan..?"
Ucap Reyhan membuka pembicaraan diruang makan.
Annisa menggeleng.
"tapi.. tumben Mas sebegitu sibuknya dikantor..?"
tanya Annisa heran.
"emm.. yaa mau gimana lagi, udah tanggung jawab Mas.. apalagi sekarang memang perusahaan lagi gencar-gencarnya membangun kantor cabang di beberapa kota.."
jawab Reyhan.
"yaudah.."
jawab Annisa yang tampaknya sedikit tidak senang, namun berusaha menutupinya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pagi itu lagi-lagi Annisa harus berangkat sendiri, karena ternyata Reyhan sudah bedangkat sebelum subuh. bahkan Reyhan tidak membangunkannya dan hanya berpamitan lewat pesan singkat.
Dia berjalan menuju halte, dan si penguntit juga ada disana.
*Astaga.. nih orang juga kenapa pake muncul kayak hantu.. gak tau apa orang lagi dongkol
Annisa merutuk dalam hati
tiba-tiba si penguntit berjalan mendekatinya.
Annisa yang mulai panik, terlebih melihat postur tubuh si penguntit yang tampak sama persis seperti suaminya : tinggi dan tegap.
Annisa merogoh tasnya, dan bersiap menyerang dengan botol spray senjata rahasianya jika si penguntit melakukan hal buruk.
*Dengan postur tubuhnya yang begitu aku gak mungkin pake belati.. yang ada tanganku patah duluan
batin Annisa.
namun diluar dugaan, sipenguntit justru memberikan secarik kertas kepada Annisa. bahkan tanpa berkata apapun, si penguntit kembali ke tempatnya semula.
Annisa yang merasa bingung kemudian membuka lipatan kertas yang diberikan si penguntit, dan membaca isinya.
"Hi.. I'm Your Guardian Angel.."
begitulah pesan yang tertulis di kertasnya.
Annisa melongo, kemudian melirik ke arah sipenguntit yang membalasnya dengan lambaian tangan.
"Guardian Angel...?"
Annisa menggumam keheranan. namun srtidaknya sekarang dia lega, karena ternyata si penguntit bukanlah orang jahat.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆