
Sudah hampir satu minggu sejak peristiwa itu, dan selama itu pula Reyhan rutin menyambangi mansion Raffa dan Cinta untuk membujuk Annisa.
Namun tampaknya usahanya belum juga membuahkan hasil.
Hati Annisa terlalu keras.
"Sabar boss.. cepat atau lambat dia pasti akan memaafkanmu.."
Dennis mencoba menenangkan Reyhan.
"Kuharap juga begitu."
jawab Reyhan datar.
Dan sama seperti kemarin, penampilan Reyhan tampak lusuh tak terurus.
Bukan karena tidak ada yang mengurusnya, namun Reyhan tidak mengijinkan siapapun mengurus keperluannya.
Sejak Annisa pergi, Reyhan benar-benar tampak kacau
Bahkan pekerjaannya banyak terbengkalai.
dia lebih sering berdiam dirumah, sambil sesekali menata kamar bayi yang sudah dia siapkan untuk anaknya kelak.
pagi itu setelah berpamitan pasa Kirana dan ibunya, Dennis lagi-lagi harus menjadi korban.
Dialah yang mati-matian menghandle semua pekerjaan Reyhan.
Dia nyaris tak ada waktu bahkan untuk dirinya sendiri.
*Aku tak habis pikir, bagaimana Reyhan masih bisa membagi waktu dengan istrinya selama ini, bahkan pekerjaannya sebanyak ini.
batin Dennis.
Sejak memutuskan untuk membuka perusahaan cabang di Kobe, Reyhan memang setiap hari nyaris disibukkan dengan pembangunan gedung, rencana kerja sama dan meeting dengan beberapa investor asing karena ini adalah perusahaan berskala internasional.
Reyhan ingin perusahaan ini telah rampung sebelum anaknya lahir, dengan begitu dia bisa mengambil cuti panjang untuk menikmati waktu bersama istri dan anaknya.
Namun tampaknya kali ini keinginan itu nyaris mustahil, mengingat situasi rumah tangga mereka sekarang yang sudah diambang kehancuran.
*Sebaiknya aku menemui Annisa. Aku harus bicara padanya. Biar bagaimanapun juga, sebenarnya akulah penyebab kecelakaan itu.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan hari itu, Dennis segera menuju ke mansion mewah milik Cinta.
Dan setelah berbicada sesaat dengan security yang berjaga, akhirnya Dennis diperbolehkan masuk.
"Untuk apa kamu datang Den..?
Apa mas Rey yang memintamu kesini?"
Tanya Annisa saat mereka sudah duduk berhadapan diruang tamu.
"Tidak. Dia tidak mengatakan apapun. Tapi Annisa, ada hal penting yang harus kamu tahu.."
"Kalau kamu datang kesini untuk membahas soal kecelakaan itu, aku tidak ingin mendengar apapun Den.
Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini."
__ADS_1
Ujar Annisa dengan nada sinis.
"Sampai kapan kamu akan menghukum orang yang tidak bersalah Annisa..?"
Annisa menatap Dennis dengan mata nanar memendam amarah.
"Tidak bersalah..? Dia sudah menyebabkan ayahku meninggal dalam kecelakaan itu, lalu kamu bilang dia tidak bersalah..?"
"Karena sebenarnya itu semua salahku Annisa..!!"
Dennis menatap dalam wajah Annisa.
Rahang Dennis tampak mengeras.
"Akulah yang sudah menyebabkan ayahmu meninggal. Akulah yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Seharusnya akulah orang yang kau hukum, bukan suamimu.."
Annisa menatap Dennis dengan tatapan tak mengerti.
Akhirnya Dennis menceritakan kejadian sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi, dan apa penyebabnya.
"Jadi, sebenarnya akulah yang melakukannya Annisa.. Aku yang sudah menarik leher si tua bangka itu sehingga dia kehilangan kendali, dan akhirnya menabrak ayahmu.."
Setelah cukup lama tertegun, tiba-tiba Annisa tertawa nyaring.
"Dennis.. aku cukup mengenal kalian berdua selama ini. Tapi kamu tidak perlu sampai sejauh ini.. apa untungnya bagimu dengan mengatakan ini semua?
rekayasa apalagi ini Den..?"
"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Dan kalau memang kamu terus seperti ini, jangan menyesal jika kelak kamu kehilangan suami kamu."
"Astaghfirullahhaladzim... Astaghfirullahhaladzim... Ya Allah.. apa sebenarnya yang terjadi denganku.. kenapa begitu sulit rasanya aku menerima semua kenyataan ini..."
Annisa mencoba bangkit, namun tiba-tiba pandangannya gelap.
dan akhirnyaa...
brukkk
Annisa ambruk dilantai.
salah seorang ART di mansion tersebut yang melihat kejadian itu langsung memanggil majikannya.
Cinta yang tampak sangat panik memanggil beberapa orang security untuk membantunya membawa Annisa kerumah sakit.
"Astaghfirullah... darah... dia berdarah..."
Cinta semakin panik saat melihat banyak darah yang mengecap di pakaian gamis milik Annisa.
"Sugu ni, kare wa sugu ni iryō chīmu ni yotte shori sa renakereba narimasen.."
(Cepatlah, dia harus segera ditangani oleh tim medis)
Ujar Cinta pada supir pribadinya.
Kemudian Cinta menghubungi Raffa yang saat itu sedang berada di kantor.
Setelah mendengar kabar Annisa, Raffa segera menghubungi Reyhan.
__ADS_1
Mendapat kabar yang sangat mengejutkan dari Raffa membuat Reyhan semakin kehilangan kendali.
Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Entah sudah berapa lama Reyhan mengemudi, yang pasti dia ingin segera tiba dirumah sakit.
Rasa cemas dan khawatir pada istri dan calon anaknya membuatnya tak bisa berpikir tenang.
Dia bahkan tak peduli saat menerobos lampu merah, atau nyaris bertabrakan dengan sebuah truk besar.
Dan akhirnya dia tiba di rumah sakit.
Dia berlari melewati koridor rumah sakit untuk menuju keruangan dimana Annisa dirawat.
"Gomana keadaan istriku..?"
Tanya Annisa pasa Raffa dan Cinta yang sedang menunggu diluar ruangan.
"Dokter sedang menanganinya didalam, semoga dia baik-baik aja.."
jawab Cinta.
Reyhan terhenyak di salah satu kursi ruang tunggu tersebut.
Wajahnya tampak semakin kusut.
Tampak guratan kelelahan terpancar dari wajah itu.
setelah lama menunggu, akhirnya dokter yang menangani Annisa keluar dari ruangan tersebut.
"Isha, watashi no tsuma wa genkidesu ka?"
(Dokter, bagaimana keadaan istriku?)
Tanya Reyhan pada Dokter Akiko.
Dokter Akiko menghela napas panjang.
"Mae ni itta yō ni, anata no tsuma ni sutoresu o kanji sasenaide kudasai."
(Seperti yang saya katakan sebelumnya, jangan biarkan istrimu merasa stres.)
"Sumimasen, mondai wa mushi shimashita. Kore wa subete watashi no seidesu."
(Maaf, saya mengabaikan masalahnya. Ini semua salahku.)
Ujar Reyhan sambil menunduk.
"Anata wa akachan o hotondo ushinaimashita. Kono ato, yori keikai suru koto o o susume shimasu.Kare wa kono byōin de kantan ni chiryō sa renakereba narimasen"
(Anda hampir kehilangan bayi Anda. Setelah ini, kusarankan untuk lebih waspada.Untuk sementara dia harus dirawat di rumah sakit ini ).
"Arigatō, hakase Akiko"
(Terimakasih, Dokter Akiko)
Kemudian Dokter Akiko dan timnya meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1