
"Nak Dennis.. apa maksudnya ini..?"
Tanya Ibu yang tampak serius.
"Maaf bu, Aku melakukan ini tanpa sepengetahuan ibu dan keluarga.. Aku minta maaf.."
gumam Dennis.
"Mas.. apa ini mas..?"
Kirana meraih surat undangan yang terletak diatas meja.
"Mas.. apa sebenarnya yang kamu inginkan..?
Kamu memintaku menikah denganmu, tapi sekarang kamu justru mengantarkan surat undangan ini..??"
Kirana mulai emosional.
Dennis justru memandang Kirana dengan tatapan bingung.
"Pergilah mas.. Aku tahu aku bukan wanita yang tepat. Aku memang gak layak untuk kamu. Aku ikhlas.. Dan, secepatnya aku akan membawa keluargaku pergi dari apartemen ini.."
Ujar Kirana sambil menangis.
"Na.. Maksud kamu apa..?"
Tanya Dennis yang semakin tidak mengerti.
Sementara Anjar yang sudah emosi langsung mendorong Dennis.
"Jangan dekati Kak Nana lagi. Aku gak menyangka Kak Dennis sejahat ini. Hanya karena kami orang miskin, bukan berarti kakak bisa menginjak injak harga diri kami..!"
Hardik Anjar.
"Ha..? Tunggu, kalian kenapa..?"
Tanya Dennis yang semakin bingung.
"Mas masih bertanya kenapa..?
Setelah apa yang mas lakukan, dan sekarang undangan ini..."
Kirana tercekat.
Dennis menghela napas dalam.
"Baiklah, karena itu sekarang aku minta maaf.. aku melakukan semua persiapan tanpa memberi tahu kalian sebelumnya. Tapi kalau memang kalian tidak setuju, kita akan menbatalkannya.."
jawab Dennis dengan polos.
"Mas.. dimana perasaan kamu hahh..? Kamu sudah mencetak undangan ini, lalu kamu mau membatalkannya begitu saja.. Apa kamu gak tau seperti apa hancurnya hati wanita itu..??"
"Ya lalu mas harus bagaimana, jika memang wanita itu dan keluarganya tidak menyetujui, bagaimana pernikahan itu bisa terlaksana..?"
Kirana menatap Dennis dengan tatapan bingung.
Dennis menarik napas dalam.
"Nana.. ini surat undangan pernikahan kita.. Mas sudah mempersiapkan semuanya.. Maaf kalau mas tidak memberitahu kalian sebelumnya. Dan kalau kalian tidak setuju, kita bisa membatalkannya.."
Ujar Dennis berusaha memberi penjelasan.
"Hahh..?"
Kali ini justru giliran Kirana yang tampak bingung.
Sementara itu Anjar langsung meraih surat undangan yang ada di tangan Kirana dan membukanya.
"Astagaaa..."
Pekik Anjar yang membuat seisi ruangan terkejut.
"Kenapa Jar..?"
Tanya ibu yang kemudian menarik undangan dari tangan Anjar.
__ADS_1
"Owalaahhh... jadi ini toh maksudnya nak Dennis.."
Ujar ibu sambil tersenyum sumringah.
Sementara Kirana justru tampak semakin bingung dan salah tingkah.
"Tunggu dulu,ini tanggalnya...."
Ibu menatak surat undangan tersebut dengan seksama, dan kemudian..
"Dua hari lagi...???"
Ibu Kirana memekik tak percaya.
Kirana yang tampak semakin bingung langsung meraih surat undangan tersebut.
Dan sangat jelas didalam surat itu jelas tertera nama Kirana Larasati Dan...
Yuki Taoka..??
"Ini makaudnya apa mas..?"
Kirana menatap Dennis dengan tajam.
"Siapa Yuki Taoka..?"
tanya Kirana.
Dan semua orang kembali terkejut,termasuk ibu.
Ternyata sebelumnya Anjar dan Ibu tidak memperhatikan nama yang tertera di sueat undangan.
"Nana.. itu nama asli mas.. Yuki Taoka..
Dennis, adalah nama pemberian almarhumah ibu mas..
Muhammad Dennis Abdullah.."
jawab Dennis dengan wajah yang tampak sendu.
"Gak apa-apa kok, kamu berhak tahu. Karena kamu akan jadi istri mas."
jawab Dennis sambil tersenyum.
"Tapi mas,,
ini beneran waktunya dua hari lagi..??"
Tanya Kirana yang mulai panik, sedangkan Dennis hanya mengangguk santai.
"Masss... Kenapa dadakan begini sih..? Kita bahkan belum mempersiapkan apapun.."
Ujar Kirana yang semakin kikuk.
"Semua persiapan udah kelar, bahkan undangan juga udah disebar. Mas juga udah mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan.
Setelah kita sah menikah secara agama kita akan kembali ke Indonesia untuk mendaftarkan pernikahan kita di KUA.."
Jawab Dennis.
Kirana tertegun kehabisan kata.
*Sumpah demi apa ini seriusan aku bakal jadi istri orang dua hari lagi???
Batin Kirana
Dan akhirnya suasana kembali cair, mereka sangat antusias membicarakan pernikahan Kirana dan Dennis dua hari lagi.
"Nana.. Makasih ya.."
Ucap Dennis dengan tulus, saat Kirana mengantarnya ke parkiran.
"Terimakasih untuk apa mas..?"
Tanya Kirana.
__ADS_1
"Terimakasih karena kamu bersedia menikah dengan mas.."
jawab Dennis.
degggg...
Tiba-tiba jantung Kirana berdetak tak beraturan.
Wajahnya pun memerah.
Segera dia menundukkan kepala, untuk menutupi rasa malunya.
"Mas pamit dulu ya, Assalamualaikum.."
"Wa-waalaikumsalam.. mas.."
Kemudian Dennis melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
☆☆☆☆☆
Akhirnya, tibalah di hari pernikahan. Mereka melangsungkan akad nikah secara khidmad di Mesjid Kobe, mesjid tertua di Jepang sekaligus bukti nyata atas kebesaran Allah. Mesjid yang masih berdiri tegak meski pernah terkena bom atom perang dunia II dan juga gempa yang sangat dahsyat.
Acara akad hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa orang terdekat.
bahkan Lisa, Dwi, Clara dan Claudya juga jauh-jauh datang dari Indonesia demi menyaksikan hari bersejarah bagi sahabat mereka itu.
Anjar bertindak sebagai wali bagi Kirana, karena dia adalah saudara laki-laki satu ayah dengan Kirana.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kirana Larasati Binti Sulaiman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai.."
Dennis berhasil mengucapkan lafas suci tersebut hanya dengan satu tarikan nafas dengan tenang dan tanpa mengulang.
"Bagaimana para saksi..? Sah..?"
Dan akhirnyaaa...
"SAHHHH..."
Jawab semua orang yang ada ditempat tersebut sambil tersenyum haru.
*Alhamdulillah ya Allah.. sekarang aku telah sah menjadi istri mas Dennis..
batin Kirana sambil menangis haru.
Setelah prosesi akad nikah yang sakral, acara dilanjutkan dengan resepsi di sebuah gedung mewah.
"Assalamualaikum bidadari surgaku.."
Sapa Dennis saat memasuki ruang tempat Kirana dirias.
Kirana yang terkejut dengan kedatangan Dennis langsung menundukkan wajah. Dia bahkan lupa menjawab salam.
"Salam gak dijawab dosa loh.."
ledek Dennis sambil tersenyum.
"wa-waalaikum-waalaikumsalam..mas.."
jawab Kirana dengan terbata.
Dennis mengusap kepala Kirana yang telah tertutup hijab sempurna.
Jantung Kirana serasa nyaris copot.
Ini pertama kalinya dia disentuh oleh lelaki, dan lelaki itu telah sah menjadi suaminya.
"Ayo kita keluar, tamu undangan sudah menunggu.."
Dennis mengulurkan tangannya.
Meaki gugup, Kirana menerima uluran tangan Dennis sambil tersenyum.
acara resepsi berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak tamu undangan yang hadir dj acara resepsi tersebut.
Hari itu, adalah hari bersejarah sekaligus paling membahagiakan bagi Dennis dan Kirana.
__ADS_1