
Mereka baru saja tiba di apartemen pukul 10 malam.
"Kak Dennis, ayo kita main ludo.."
tawar Bila sambil mengedipkan mata.
"Bila.. ini kan udah malam, kak Dennis juga pasti capek.."
Ucap Kirana.
"Sebentar ajaaa.. pliiisss... satu ronde aja deh.."
Nabila tampak memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Oke.. janji ya, satu ronde aja.. kamu harus istirahat.."
jawab Dennis setelah menimbang beberapa saat.
"Siap bosss.. Tapi, Bila ada satu permintaan.."
Ucap Bila yang tampak serius.
"Permintaan apa..?"
tanya Dennis sambil mengernyitkan kening.
"Bila akan minta itu sebagai hadiah, kalo Bila menang lawan kak Dennis.."
jawab Bila mantap.
"Oke, baiklah tuan putri..."
Ujar Dennis sambil tersenyum.
Dalam hati Dennis menerka-nerka, apa yang sedang diinginkan oleh gadis kecil yang ada dihadapannya.
*mungkin dia ingin mainan, atau hal-hal yang sebenarnya sepele.
Batin Dennis.
Dan akhirnya....
"Horeee... Bila menang lagi.. Kak Dennis kalah..."
Nabila berteriak dengan gegap gempita seolah baru memenangkan lotre berhadiah besar.
semua yang ada diruangan itu tertawa melihat tingkah Nabila.
"Jadi, boleh Bila minta hadiah Bila..?
Soalnya cuma Kak Dennis yang bisa kabulin permintaan Bila.."
"Everything For u, princess..."
jawab Dennis sambil tersenyum.
"Janji ya, Kak Dennis harus kabulkan permintaan Bila.. Bila janji, setelah ini Bila gak akan minta apapun.."
"Insyaallah.."
jawab Dennis.
"Tenshi, imōto to kekkon shite"
(Tuan Malaikat, tolong menikahlah dengan kakakku)
Nabila mengatupkan kedua tangannya.
Dennis tertegun mendengar permintaan Nabila.
dia bahkan nyaris kehilangan kata.
Bagaimana bisa anak sekecil dia justru meminta hal yang mungkin dia belum mengerti.
"Nabila-chan.. Sore wa dono yō ni kanōdesu ka?
Kore wa jōdandesu"
(Nabila.. Bagaimana mungkin..?
Ini sebuah lelucon)
Dennis tertawa mengira Nabila sedang menjahilinya.
__ADS_1
"Kore wa jōdande wa arimasen. Denisu ni Nana to kekkon sa setai"
(Ini Bukan lelucon. Aku ingin kak Dennis menikahi kak Nana)
"Fukanō o kitai shinaide kudasai, Bila-chan"
(jangan mengharapkan hal yang mustahil, Bila)
Anjar menengahi.
"Shikashi, kare wa watashi no tenshidesu.Soshite kare wa watashi ni yakusoku shimashita."
(Tapi dia adalah malaikatku. Dan dia sudah berjanji padaku.)
Nabila mulai menangis.
Kirana yang baru saja kembali dari dapur setelah mengambil beberapa cemilan merasa heran melihat Nabila yang sedang menangis.
"Bila, kamu kenapa..?"
Tanya Kirana sambil memeluk Nabila.
Sementara Dennis dan Anjar masih tertegun.
Nabila hanya menggeleng, kemudian berlari kekamarnya.
"Nabila kenapa..?"
Tanya Kirana sambil melirik pada Dennis dan Anjar.
"Gak apa kok kak, biasalah.. namanya juga anak-anak.."
Jawab Anjar berbohong, sambil mengerlingkan mata pada Dennis.
"Yaudah, kakak coba bujuk Bila dulu.."
Ucap Kirana yang kemudian meninggalkan Anjar dan Dennis yang masih duduk diruang keluarga.
"Kak.. maaf soal tadi.. Kakak gak perlu pikirin, namanya juga anak-anak.. besok lusa dia pasti lupa.."
Ucap Anjar.
"Anjar, kakak pulang dulu. dan tolong jangan katakan apapun pada Kirana soal ini, termasuk kejadian di restoran tadi.."
Kemudian Dennis pergi setelah berpamitan pada Anjar.
Sedangkan ibu sudah lebih dulu masuk ke kamar karena merasa lelah.
"Anjar, tolong jelasin sama kakak apa sebenarnya yang terjadi dengan Bila..?"
tanya Kirana dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan apa-apa kak, ya mungkin emang Bila lagi bad mood.. namanya juga anak-anak.."
jawab Anjar.
"Tapi Bila gak pernah sampe seperti ini sebelumnya.. tolong jawab dengan jujur.."
Kirana berusaha menginterogasi Anjar.
"Kak, aku capek. Aku tidur duluan ya.."
Kemudian Anjar langsung ngeloyor pergi meninggalkan Kirana yang masih bertanya-tanya.
"Tenshi, imōto to kekkon shite.."
(Tuan Malaikat, tolong menikahlah dengan kakakku)
Tiba-tiba Dennis teringat pada ucapan Nabila.
Dennis tak bisa mengabaikan begitu saja ketika melihat wajah gadis kecil itu yang penuh harap.
Ya, gadis kecil itu memintanya untuk menikahi Kirana.
Dennis menepikan mobilnya, kemudian menghela napas panjang.
Dennis menyandarkan kepalanya di kursi, sambil memejamkan mata.
Bayangan wajah Nabila yang tampak sedih masih terlintas dibenaknya.
Tiba-tiba bayangan itu berganti menjadi bayangan seorang gadis kecil lain yang seusia Nabila.
"Kak Dennis, Kakak kan udah janji sama Dinda.."
__ADS_1
Gadis itu mengatupkan kedua tangannya sambil menangis.
Dennis mencoba meraih gadis kecil itu, namun yang ia dapati hanyalah udara kosong.
"Dinda... Dinda..."
Dennis mencoba memanggil gadis kecil tersebut didalam kekalutannya.
Saat pikirannya sedang serabut, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Dennis segera tersadar.
"Kyō, tasukete kuremasen ka?"
(Pak, bisakah anda membantu saya?)
Tampak seorang pria yang sedang menggendong gadis kecil berdiri disamping mobilnya.
Dennis keluar dari mobilnya.
"Nanika otetsudai dekimasu ka?"
(Apa yang bisa saya bantu?)
tanya Dennis.
"Watashi no musume, kanojo wa byōkidesu. Watashi wa kare o sugu ni byōin ni tsurete ikanakereba narimasen.Watashi o byōin ni okutte kuremasen ka?"
(Putriku, dia sakit. Saya harus membawanya ke rumah sakit segera. Bisakah anda membawa kami ke rumah sakit?)
Tanya pria tersebut dengan wajah yang penuh harap.
"Haitte"
(Masuklah)
jawab Dennis sambil membuka pintu mobilnya.
"Dōmo arigatōgozaimashita.."
(Terimakasih banyak)
Ucap pria tersebut yang kemudian masuk ke dalam mobil sambil memangku putri kecilnya.
"Anata no musume wa dō narimashita ka?"
(Apa yang terjadi pada putrimu?)
Tanya Dennis sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kyō no gogo, kare wa genkideshita. Shikashi, totsuzen kare no taion wa takaku narimashita. Kare wa zutsū ga shita to itte ki o ushinatta."
(Siang tadi dia baik-baik saja, tapi tiba-tiba suhu badannya semakin tinggi. Dia pingsan dan mengatakan kepalanya sakit.)
Jawab pria tersebut.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. dokter dan perawat langsung memeriksa kondisi pasien.
namun sayang, nyawanya tidak tertolong.
gadis kecil itu meninggal saat diperjalanan.
Pria tersebut tampak sangat terpukul. Dia berteriak dan menggjncang tubuh putrinya, berharap gadis kecil itu terbangun.
Namun usahanya sia-sia.
Melihat peristiwa yang terjadi dihadapannya, Dennis kembali teringat pada Dinda.
Gadis kecil yang pernah dia kecewakan, karena dia tidak bisa memenuhi keinginan gadis tersebut.
Hingga akhirnya gadis itu menghembuskan nafas terakhir.
Dan tiba-tiba, wajah polos Bila kembali terbayang dibenaknya.
wajah yang tampak kecewa.
Dennis berjalan gontai meninggalkan rumah sakit tersebut.
Pikirannya semakin serabut.
"Haruskah aku menikahinya..?"
gumam Dennis pada dirinya sendiri
__ADS_1