
"siiaalll... bisa-bisanya aku kecolongan kali ini..!! tapi siapapun pelakunya, aku harus menemukannya secepatnya.."
Denis menggeram dikamarnya sambil mondar-mandir.
tak berapa lama kemudian ponsel Denis berbunyi.
dia segera mengangkatnya, kemudian terlibat obrolan serius dengan seseorang di telfon.
"oke, besok pagi coba kau pastikan lagi. jangan sampe kau salah informasi."
setelah usai berbicara di telfon Denis melempar ponselnya diatas kasur kemudian turut menghempaskan dirinya.
"apa benar kau orangnya..?? tapi kenapaaa..."
Denis menggumam sambil memijit pelipisnya dan berusaha memejamkan mata.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
malam itu Annisa dan Reyhan tak bisa tidur.
mereka duduk diruang tengah dan twnggelam dwngan pikiran masing-masing.
Annisa masih syok dengan peristiwa siang tadi, sementara Reyhan berkali-kali menatap layar ponselnya berharap segera mendapat kabar dari seseorang.
"Mas mau kopi atau teh..?"
Annisa mencoba mencairkan suasana.
Reyhan mengangguk, dan sesaat kemudian Annisa sudah berada didapur.
tak berapa lama kemudian Annisa muncul kembali dengan nampan yang berisi secangkir teh dan cemilan lalu meletakkannya diatas meja sambil duduk di sofa tepat disamping suaminya.
"ini tehnya mas.."
Reyhan menoleh kemudian memutar posisi kepada Annisa yang sekarang berada dihadapannya.
ditatapnya lekat wajah istrinya, matanya tampak sembab dan wajahnya tampak sayu.
Reyhan mengelus kepala istrinya tersebut, kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
"kamu pasti syok banget ya dengan kejadian itu.."
gumamnya.
Annisa mengangguk.
"aku takut mas..."
ujar Annisa lirih sambil terisak.
Reyhan menghapus airmata Annisa dan mengelus pipinya.
"gak ada yang perlu kamu takutkan.. dan kamu gak perlu pikirkan lagi soal kejadian itu.."
Reyhan berusaha menghiburnya.
"Tapi aku takut Mas... aku takut orang itu berbuat hal yang lebih gila..."
Annisa masih terisak.
kemudian Reyhan memeluknya, dan berusaha menenangkannya.
"Mas gak akan biarin itu terjadi.. kamu istri mas, dan mas akan melindungi kamu.."
Reyhan masih berusaha membujuk Annisa.
entah berapa lama Annisa menangis, hingga akhirnya tertidur dipelukan suaminya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sementara itu ditempat lain...
"jangan harap kamu bisa memilikinya.. dia hanya milikku.. dan sampai kapanpun akan tetap milikku.. aku akan menghancurkan kamu, dan orang-orang terdekatmu.."
seseorang bergumam sambil tersenyum licik.
diraihnya selembar foto Reyhan dan Annisa yang terpajang didinding kamarnya, kemudian disobeknya foto tersebut menjadi dua bagian.
satu bagian foto diletakkan diatas meja, sedang satu bagian lagi dibakarnya dengan menggunakan korek api hingga menjadi abu.
"kalau aku gak bisa memisahkan kalian, maka maut yang akan berbicara.."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Adzan subuh mulai berkumandang.
perlahan Annisa membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
dia menoleh kesana kemari, mencari sosok Reyhan yang tak ditemukannya.
"Mas..."
Annisa memanggil, namun tak ada jawaban.
kemudian Annisa mencari di ruang tamu, ruang tengah bahkan hingga kedapur, namun dia tetap tak menemukan Reyhan.
Annisa cemas dan pikirannya mulai kalut.
"Ya Allah.. Mas Rey kemana..."
gumamnya.
dia kembali kekamar, dan akhirnya menyadari satu hal.
"astaghfirullah... aku lupa.. Mas Rey kan biasanya shalat subuh dimesjid.."
__ADS_1
gumamnya.
kemudian Annisa bergegas membersihkan diri untuk melaksanakan shalat subuh.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"sayang.. hari ini gak usah kekampus dulu ya.."
ujar Reyhan saat mereka menikmati sarapan pagi
"kenapa mas..?"
tanya Annisa sambil mengerutkan kening.
"hari ini mama balik ke Indo bareng kolega-kolega bisnisnya dan rencana mama mau bawa mereka ke raja ampat. mama minta kamu ikut.."
Annisa terdiam sesaat.
*aku udah terlalu sering absen kuliah, gimana dengan beasiswaku nanti..
batin Annisa
"sayang.. kamu baik-baik aja..?
masih mikirin kejadian kemarin..?"
Annisa menggeleng.
"Mas... kamu tau kan selama ini aku kuliah dari beasiswa.. kalo aku sering absen, gimana dengan beasiswaku nanti.."
gumam Annisa sambil menunduk.
meskipun sudah resmi menjadi bagian dari keluarga Arbiantoro yang merupakan pemilik universitas, namun Annisa cukup tau diri.
"Sayang.. kamu itu tanggung jawab mas.. sekalipun kamu kehilangan beasiswa, Mas mampu untuk membiayai kamu bahkan sampai ke oxford atau harvard university sekalipun.. jadi kamu gak perlu khawatir.."
Annisa kembali menggeleng.
"aku gak mau membebani kamu mas.."
Reyhan tertegun. ditatapnya lekat mata Annisa, kemudian dikecupnya kening istrinya tersebut dengan lembut.
"bagi seorang suami, istri bukanlah beban.. dan jangan pernah berpikir kamu akan menjadi beban.. kamu justru adalah berkah terindah yang Allah berikan untuk mas.."
ujar Reyhan.
Annisa menunduk dengan pipinya yang memerah, matanya pun mulai berkaca karena haru.
*alhamdulillah.. ya Allah.. terimakasih karena sudah memberikanku suami seperti mas Rey..
batin Annisa
"jadi gimana, kamu mau kan ikut mama ke raja ampat..?"
"kamu gak ikutan mas..?"
tanya Annisa.
"uppsss... maaf nyonya Reyhan Arbiantoro yang terhormat, tapi acara itu khusus untuk kaum feminim.."
ujar Reyhan sambil tertawa
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
pukul 09.30 pagi Annisa sudah selesai packing dibantu suaminya.
hari itu Reyhan juga tidak masuk kuliah karena berniat menemani istrinya hingga ke bandara.
"mas.. kamu benedan gak ikut..?"
tanya Annisa saat mereka sudah tiba dibandara dan berkumpul dengan rombongan mama.
Reyhan menggeleng.
"have fun sayang.. ingat, tetap jaga kesehatan ya.. dan jangan terlalu capek disana.. setelah urusan mas disini selesai mas susulin kesana..
ya anggap aja sekaligus honeymoon.."
ucap Reyhan sambil memeluk istrinya tersebut
"duhh... yang manten baru.. maafin mama ya Rey,, mama pinjam dulu istri kamu untuk beberapa hari.."
ucap mama sambil tersenyum.
"no problem ma... tapi jangan lama-lama ya.. takutnya nanti ada yang rindu.."
jawab Reyhan sambil mengelus kepala istrinya tersebut.
tepat pukul 10.00 pesawat lepas landas dari bandara S.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"gimana Den.. ada titik terang..?"
tanya Reyhan saat mereka bertemu di salah satu coffeshop.
"bos.. kalo aku kasih tau aku yakin kau pasti gak percaya bos.. aku rasa aku tau orangnya. tapi masalahnya..."
"kenapa..?"
tanya Reyhan sambil mengerutkan kening.
"masalahnya pelakunya salah satu orang terdekat Nisa bos.."
"maksud lu..??"
__ADS_1
Reyhan terbelalak tak percaya
"saksi dan bukti 90% mengarah ke orang ini.. tapi aku gak yakin bos.. karena orang ini kurasa gak punya alasan khusus untuk melakukan itu.."
"siapa orangnya..?"
Denis mengepalkan kedua telapak tangannya diatas meja.
"sejujurnya, aku gak yakin bos.. tapi saksi dan bukti mengarah ke orang ini."
"siapa..???"
tanya Reyhan dengan sedikit lebih tegas
"siapa orangnya yang berani ganggu ketenangan istri gua den..? tolong lu kasih tau gue siapa orangnya.."
sambungnya.
"Lisa bos..."
jawab Denis sambil mengusap kedua telapak tangannya.
"hahh..?? Lisa..??
jangan ngaco lu den.. lu kalo kasih info tu yang bener dong.. gak mungkinlah dia pelakunya.. lu kan tau sendiri selama ini mereka sahabatan, bahkan udah kayak keluarga sendiri.. gua gak mau tau, lu coba pastikan lagi pelakunya..!!"
"ya akh jyga gak yakin bos.. tapi masalahnya bukti dan saksi..."
"bukti dan saksi apaa..???"
tanya Reyhan yang mulai kehilangan kendali.
"bangkai kelinci itu bos.. gua cari tau ke beberapa petshop, dan ternyata orang yang membeli kelinci itu adalah Lisa.."
emosi Reyhan memuncak. dia bergegas meninggalkan coffeshop dan hendak menemui Lisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"loh, Rey.. tumben main kemari.. ada perlu apa..?"
tanya Lisa yang terkejut saat membuka pintu rumahnya yang digedor dengan keras dan ternyata pelakunya adalah Reyhan.
"gak usah basa basi. apa tujuan lu ngelakuin itu semua..?"
"tujuan ngelakuin apa..??"
tanya Lisa yang tidak mengerti maksud ucapan Reyhan.
"GAK USAH BELAGAK BEGO.. GUA UDAH TAU SEMUANYA..!!!"
Bentak Reyhan.
Lisa terkejut dan menatap Reyhan dengan tatapan bingung.
beruntung Denis segera tiba dan menjadi penengah diantara mereka.
"Lis.. ingat kelinci yang kemarin..?"
tanya Denis berusaha tetap tenang sementara Reyhan yang masih tersulut emosi mwmilih memukul tembok.
"maksud kamu bangkai kelinci itu..? kenapa..?"
tanya Lisa heran.
"setelah kutelusuri, ada saksi yang bilang sehari sebelumnya kamu beli kelinci di petshop K. dan kelinci itu juga yang dikirimkan ke Nisa.."
jawab Denis
Lisa terbelalak.
"kalian ngaco..!! Aku alergi bulu hewan, Icha pun tahu itu.. jadi gimana mungkin aku beli hewan berbulu..??"
"gak usah cari alibi..!!!"
bentak Reyhan
"ini bukan alibi Rey.. dari dulu kulitku memang alergi terhadap bulu hewan.. kalo tersentuh sedikit aja pasti langsung muncul bintik-bintik merah dan gatal.. kamu boleh tanya Icha kalo kamu gak percaya..
bahkan aku pernah dirawat dirumah sakit selama 2 minggu setelah aku gak sengaja nemu anak kucing dijalan dan menggendongnya.."
Reyhan terhenyak.
"jadi siapa...
siapa pelakunya..??"
gumam Reyhan sambil mengusap wajahnya.
sementara Denis dan Lisa hanya bisa menatapnya dengan iba.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
hayooo...
siapa nih kira-kira pelakunya..?
ada yang bisa nebak..?
yuk yuk main tebak-tebakan..
coret dikolom komentar yaa..😊😊😊
dan tetap dukung Ana Uhibbuka Fillah
😊😊😊
__ADS_1