
pagi itu Reyhan tiba dikampus lebih awal dari biasa.
salah satu pegawai administrasi menghubunginya dan mengatakan seseorang mengirim paket untuknya melalui driver ojol (ojek online).
"siapa pengirimnya bu..?"
tanya Reyhan saat menerima amplop berwarna coklat dari bu Mega, pegawai administrasi dikampusnya.
"tadi mang sarip yang terima dari driver ojolnya, katanya kiriman ini untuk kamu."
jawab bu Mega.
kemudian Reyhan membuka amplop tersebut yang ternyata berisi beberapa lembar foto Annisa saat dibandara S dan saat tiba didepan hotel tempatnya menginap.
wajah Reyhan langsung terlihat tegang.
segera diraihnya ponselnya dan dia menghubungi seseorang.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"sekarang jelasin gimana gua bisa tenang..!!"
ujar Reyhan geram sambil melempar amplop berwarna coklat di atas meja tepat dihadapan Dennis.
"itu artinya dugaanku benar bos.."
jawab Dennis santai
"Den.. Nisa itu istri gua..!!"
bentak Reyhan yang semakin uring-uringan
"aku semakin yakin dia sengaja memancingmu untuk bertindak sesuai rencananya. tenang aja bos.. orang-orang yang aku tugaskan untuk jagain Nisa dan ibumu selama disana juga bukan orang sembarangan. mereka cukup tau apa yang harus mereka lakukan.
kalo kau nyusulin Nisa, rencanaku untuk membongkar si peneror ini justru bakal berantakan."
Reyhan terduduk dikursinya dengan wajah kusut.
*jika perkiraanku benar, satu-satunya orang yang sanggup berbuat sejauh ini cuma "dia"
tapi kalau aku menudingnya tanpa bukti situasinya justru akan semakin sulit. aku yakin dia pelakunya. aku hanya perlu mencari buktinya
batin Dennis.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sementara itu ditempat lain...
"Cha, yuk ikut mama keluar.. kamu gak bosan dikamar terus..?"
ajak Bu Nirmala
Annisa menggeleng.
"gak ma, Icha disini aja yaa.."
jawab Annisa.
"kamu yakin..?"
Annisa mengangguk mantap.
jika saja bukan karena titah suaminya yang baru saja menelfon dan bersikeras memintanya untuk tetap tinggal dihotel, ingin rasanya menikmati hari terakhirnya dengan memuaskan diri untuk keluar dan menikmati keindahan tempat wisata itu.
"gak lama lagi setelah resort dan villa pribadi kita disana rampung, kamu boleh balas dendam dan puas-puasin liburan disana.."
begitulah jawaban Reyhan saat dia membujuk agar diizinkan keluar.
*Mas Reyhan kenapa ya.. beberapa hari ini sikapnya aneh.. entah kenapa aku ngerasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku
batin Annisa.
tiba-tiba ponselnya berbunyi, satu notifikasi pesan dari suaminya.
"sayang, ingat pesan mas ya.. jangan kemana-mana.."
*entah sejak kapan mas Rey jadi over protective begini
batin Annisa
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"gimana Den..?"
tanya Reyhan pada Dennis saat mereka berpapasan dikoridor kampus.
"dalam proses bos.."
jawabnya sambil tersenyum sumringah.
__ADS_1
"dan kalau kau ikuti rencanaku, aku rasa kita bisa mengungkap pelakunya."
sambungnya.
"rencana apa..?"
"sebarkan berita tentang pernikahanmu. bila perlu gelar pesta yang megah.
itu cara terbaik dan tercepat untuk memancing sipelaku."
"Ini sama aja dengan misi bunuh diri bhambhanggg..
yang ada bini gua bakal ngambek sampe tujuh hari tujuh malam.."
"tapi ini satu-satunya cara bos.. aku yakin sipeneror itu pasti bakal muncul secara diam-diam dan merusak situasi.."
"dan kalau memang begitu artinya Nisa juga dalam bahaya kan.. Den lu kasih ide bisa yang lebih bagusan dikit gitu..?? Gua gak bakal biarin hal buruk sekecil apapun terjadi ke istri gua.."
"justru karna aku tau kau bakal melindungi istrimu, makanya aku sarankan ini.. dan nantinya aku juga bakal menempatkan orang-orang kepercayaanku disekitar kau dan Nisa, juga di lokasi. just trust me bos, kau tau aku kan.."
Reyhan menarik nafas panjang.
"terserah lu Den.. yang pasti jangan sampe terjadi apa-apa sama istri gua meski cuma tergores seujung kuku. lu paham kan.."
kemudian Reyhan berlalu meninggalkan Denis.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sore itu, Reyhan bersiap menjemput istri dan ibunya di bandara.
saat hendak keluar dan mengunci pintu rumah, tanpa sengaja matanya tertuju ke sebuah amplop berwarna coklat yang diletakkan persis dibawah pintu rumahnya.
meski sempat ragu, akhirnya Reyhan memungut amplop tersebut dan memeriksa isinya.
wajahnya tampak tegang.
dari dalam amplop Reyhan menemukan potongan berita dari sebuah surat kabar yang tampak sudah sangat lusuh.
tangannya bergetar, dan refleks dia menjatuhkan diri di kursi terasnya.
kembali diliriknya potongan koran tersebut, dan pikirannya semakin kacau.
dia tidak mungkin melupakan peristiwa itu, meski sudah 16 tahun berlalu.
perasaan takut, menyesal, dan perasaan bersalah yang teramat sangat.
mungkin hari ini Annisa bukanlah istrinya.
dia membenamkan wajahnya pada telapak tangannya.
pikirannya kalut, cemas, was-was.
bagaimana jika Annisa mengetahui hal ini?
bagaimana jika Annisa tidak bisa menerima kejadian ini dan justru malah membencinya?
saat sedang berkecamuk dengan pikirannya, tiba-tiba dia dikagetkan dengan nada dering dari ponselnya.
dirogohnya saku celananya kemudian dia mengangkat telfon tersebut tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"Gimana Rey.. kamu suka dengan surprisenya..?
ehmm... tadinya aku pikir mau kasih kejutan itu untuk istri kamu, tapi kurasa kamu juga berhak mendapatkannya.."
ucap orang di telfon.
Reyhan semakin kacau, dia coba mengingat pemilik suara ini yang memang dia rasa familiar.
"apa maumu..?"
tanya Reyhan
"apa mauku..? bukannya udah jelas..? aku mau...
kamu dan Annisa berpisah..atau...."
belum sempat orang tersebut menyelesaikan ucapannya, Reyhan langsung mematikan ponselnya.
namun baru saja dia akan menyimpan ponselnya, tiba-tiba ponsel itu berdering kembali.
dengan perasaan yang masih campur aduk Reyhan kembali mengangkatnya dan lagi lagi tanpa memastikan si penelfon.
"dasar perempuan jalang..!! berhenti mengusik kehidupanku.. dan jangan pernah berani mengusik istriku atau kau akan tanggung sendiri akibatnya..!!"
Annisa terlonjak kaget.
dilihatnya layar diponselnya untuk memastikan kontak siapa yang dia coba hubungi.
"mas ini kenapa..? Icha coba telfon dari tadi nomor sibuk, giliran udah nyambung aja langsung marah-marah.."
__ADS_1
rutuk Annisa.
Reyhan mengernyitkan kening, kemudian dilihatnya kontak dengan nama My Zaujati jelas terpampang.
"astaghfirullah... sayang, maaf.. tadi mas salah ngomong.. sayang dah sampai kah..?"
Reyhan berusaha bersikap sewajar mungkin.
"dah dari satu jam yang lalu mas... katanya mau jemput, tapi Icha call pun nomor mas sibuk.."
Annisa menceracau.
"iya maaf... yaudah mas jemput sekarang ya..
jangan kemana-mana, tunggu mas sampai.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
dibandara...
setelah mematikan ponselnya, tanpa sengaja seorang menabrak Annisa dan membuat ponselnya terjatuh.
"maaf, gak sengaja.."
ucap orang tersebut yang hanya dibalas anggukan oleh Annisa.
kemudian dia memungut ponselnya yang jatuh dilantai.
*untung aja gak rusak..
gumam Annisa.
"Hei, Nisa... kok kebetulan kita bisa ketemu disini.."
Annisa menoleh ke sosok yang menyapanya.
"Loh,, Denis.. kok kamu bisa ada disini..?"
Annisa sedikit terkejut karena tiba-tiba bertemu dengan sahabat karib suaminya itu.
"kebetulan aku mau jemput seseorang disini, cuma belum nongol juga orangnya.."
jawab Denis berbohong.
kamu sendiri kok bisa ada disini..? sama Rey..?"
tanya Denis.
Annisa menggeleng.
"ini justru aku lagi nunggu mas Rey jemput.. Udah dari satu jam yang lalu begitu aku sampe, tapi mas Rey belum nongol juga.."
kemudian Annisa menceritakan secara ringkas liburannya dengan ibu mertuanya.
"lah, trus ibu mana..? kok gak bareng..?"
"iyaa, ibu masih ada urusan bisnis disana.. sebenarnya aku juga masih pengen disana, pengen nikmatin liburan.. tapi yaa mau gimana lagi, Mas Rey tu udah ngomel-ngomel minta aku segera pulang.."
jawab Annisa.
Dennis hanya mengangguk seolah menganggap itu hal yang wajar.
"tapi Den, kayaknya ada yang aneh sama mas Rey.."
ujar Annisa.
"aneh..? aneh gimana maksudnya..?"
tanya Dennis sambil mengernyitkan kening.
kemudian Annisa menceritakan sikap Rey yang beberapa hari terakhir terasa aneh.
tiba-tiba jadi over protective, setiap satu jam dia minta video call, dan yang paling aneh adalah kecemasannya yang luar biasa namun tidak beralasan.
"Den.. kamu sahabatnya mas Rey kan.. apa,, kamu tau sesuatu tentang ini..?"
tanya Annisa dengan wajah serius.
Dennis merasa terpojok karena tiba-tiba Annisa menanyakan hal ini. tentu saja dia tahu semuanya, namun memberitahukannya pada Annisa bukanlah hal yang bijak.
"ehhmm.. kalo soal itu,, yaa aku rasa wajar aja siih Nis..
laki-laki mana sih yang tahan berjauhan dari orang yang paling dia sayang.. apalagi kalian baru aja menikah.. jadi menurutku dia cuma merasa kesepian, karena gak ada kamu didekatnya."
*maaf Nisa.. belum waktunya kamu tau yang sebenarnya
batin Dennis.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
__ADS_1