
Dennis membanting keras pintu apartemennya.
pikirannya masih sangat serabut.
semua kilasan masalalu bersama almarhumah ibunya bermain indah dibenaknya, seolah dia sedang menonton sebuah film.
Dia terhenyak diatas sofa, kemudian meraih minuman kaleng yang terletak diatas nakas.
Diteguknya minuman itu sampai tak bersisa, untuk melepaskan dahaga.
perlahan napasnya mulai kembali normal, bersamaan dengan dering ponselnya.
Dirogohnya saku celana jeansnya untuk mengambil ponsel. Namun belum sempat menerima panggilan tersebut sudah berakhir.
Kemudian dia meletakkan ponselnya di atas nakas tanpa melihat siap yang baru saja mencoba menghubunginya.
Dia bangkit dari sofa, kemudian berjalan gontai menuju kamarnya.
malam itu dia merasa sangat lelah dan ingin segera tertidur.
tidur yang panjang.
Ponselnya kembali berdering, namun kali ini Dennis sudah berada di alam mimpinya sendiri.
dia terlelap, diiringi kilasan kenangan indah bersama sosok wanita yang paling dia rindukan.
Sementara itu ditempat lain...
"Gimana mas, udah dapat kabar dari Dennis..?"
Annisa meletakkan secangkir teh hangat diatas meja.
Reyhan menggeleng.
"terakhir dia kasih kabar, katanya operasinya udah selesai dan ibu Kidana udah dipindahkan ke ruang rawat inap.."
jawabnya.
"Yaudah, coba ditelfon lagi aja besok.. mungkin Dennis kelelahan, sejak kemarin dia mengurus banyak hal.."
"ya, semoga aja memang begitu sayang.."
jawab Reyhan sambil menggenggam tangan Annisa yang duduk disampingnya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Matahari sudah tinggi saat Dennis terbangun dari tidur panjangnya.
Dia tersentak saat melihat jam di dinding kamarnya.
"Astaga.. udah jam dua belas.."
ujarnya sambil langsung lompat dari kasur dan buru-buru membersihkan diri.
Setelah tampilannya rapi dia bersiap berangkat ke kantor, namun dia lupa dimana letak ponselnya.
Dia bahkan mencoba menghubungi ponselnya menggunakan telepon kabel namun ponselnya tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"yasalam.. giliran udah mepet gini ponsel pake lowbat.. Yaudahlah, paling juga ntar ketemu."
Kemudian Dennis bergegas meraih kunci mobilnya.
Sesampainya di kantor Dennis sudah disibukkan dengan segala macam laporan dan rencana meeting dengan klient.
Reyhan sudah memberikan mandat sepenuhnya pada Dennis untuk mengurus perusahaannya untuk sementara waktu selama dia berada di Kobe.
"Den.. Pak Reyhan mau bicara.."
Pak Edo menyerahkan ponselnya pada Dennis yang sedang menandatangani beberapa berkas penting.
"Hoii Onta Korea.. kebangetan lu ya.. dari semalam ditelfonin gak nyambung.."
Omel Reyhan saat Dennis sudah menjawab teleponnya.
"Hehe.. maap bos, ponselku lowbat dan aku lupa letakin dimana.."
jawab Dennis sambil cengengesan.
"Kebiasaan lu mah emang.. gimana kondisinya ibu Kirana..?"
tanya Reyhan to the point.
"Astaghfirullah.. aku hampir lupa..
aku belum tau kabar selanjutnya gimana, tapi setelah membereskan semua berkas-berkas ini aku akan langsung cek ke rumah sakit."
jawab Dennis.
"Annisa dari semalam khawatir, karena Kirana juga gak bisa dihubungi. tolong kabari segera kalo kamu udah dirumah sakit."
"Baiklah Paduka, perintah anda akan segera saya laksanakan. Sekarang, bisakah saya memeriksa beberapa berkas penting mengenai kerajaan..?"
Ujar Dennis masih dengan gaya sengak.
"Kalau begitu baiklah Patih, laksanakan tugasmu."
jawab Reyhan sambil tertawa ringan.
"Gimana mas..?"
tanya Annisa yang saat itu berada disamping Reyhan.
"Sayang, Dennis masih terlalu sibuk hari ini.. tapi tadi mas udah minta dia untuk segera cek ke rumah sakit.."
jawab Reyhan sambil mengelus pucuk kepala istrinya.
"Mas.. Icha mau ngomong sesuatu.."
Annisa memainkan jari-jarinya tampak gelisah.
Reyhan mengerutkan kening melihat tingkah istrinya.
"Kamu kenapa sayang..? apa kamu masih mencemaskan soal Kirana..?"
tanya Reyhan.
__ADS_1
"Bukan soal itu.."
jawab Annisa sambil menggeleng perlahan.
Reyhan menarik tangan Annisa dan membawanya duduk di sofa.
Ditatapnya wajah istrinya yang tampak sedang gelisah dengan tatapan sendu.
"sekarang katakan.. apa yang sedang kamu pikirkan..?"
tanya Reyhan sambil menggenggam kedua tangan Annisa.
"Emm.. itu soal.. emm.."
Annisa tampak semakin gugup.
"Sayang.. jangan pernah memendam masalah atau kekhawatiranmu sendiri.. ingat, kamu punya mas yang akan berusaha pasang badan untuk semua masalah kamu.."
"Mas.. Icha minta maaf mas..."
Mendadak Annisa bersimpuh sambil menangis.
Reyhan meraih pundak Annisa, kemudian menariknya kedalam pelukannya.
"Maaf untuk apa..?"
tanya Reyhan sambil menatap mata Annisa yang sudah sembab karena airmata.
"Mas.. uang yang kemarin mas kasih ke Nisa, uang itu Nisa kasih ke Kirana untuk biaya pengobatan ibunya.. Nisa minta maaf mas, Nisa gak ijin lebih dulu sama mas.."
Raut wajah Annisa tampak menyesal.
Reyhan tersenyum, kemudian mengecup kening Annisa dengan lembut.
"Sayang.. itu adalah hak kamu.. mas gak mempermasalahkan untuk apa kamu gunakan uang itu. karena mas yakin, kamu bisa menggunakannya dengan bijak.."
Jawab Reyhan sambil mengusap kepala Annisa.
"Mas gak marah..?"
Tanya Annisa.
Reyhan menggeleng sambil tersenyum dan menatap Annisa dengan tatapan teduhnya.
"Justru mas bangga, memiliki istri sebaik dan setulus kamu.. Mas sangat bersyukur, karena Allah sudah turunkan satu bidadari terbaik dari surga untuk menjadi bagian dari hidup mas."
"Mulai tuh gombalnya.."
Annisa memanyunkan bibir.
Reyhan tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Semoga kelak anak-anak kita mewarisi sikap umminya ya sayang.."
ujarnya sambil mengelus perut Annisa yang masih tampak rata.
"Aamiin.. Insyaallah mas.. nanti kita didik anak-anak kita sama-sama ya mas.. biar jadi anak-anak yang soleh.. Icha pengen banget nantinya anak-anak kita menjadi hafiz Qur'an seperti abinya.."
__ADS_1
"Iyaa sayang.. bila perlu nanti mas bangun pondok pesantren khusus untuk anak-anak kita dan akan diajarkan oleh guru-guru yang profesional dan berkompeten.."
jawab Reyhan sambil tersenyum tulus