
Tuan Restu dan Joe sudah berada didalam ruangan tempat Reyna disekap.
Dengan cekatan Bima yang adalah mata-mata Dennis melepaskan ikatan tali yang melilit Reyna.
Dan tali itu juga yang akan mereka gunakan untuk kabur.
mata-mata yang lainnya menyelinap secara diam-diam keluar untuk memadamkan listrik sesuai rencana mereka.
Sedangkan salah seorang lagi memastikan situasi rute yang akan mereka lewati aman.
Di lantai satu pertarungan masih berlangsung sengit.
Beberapa korban mulai jatuh, bahkan banyak yang terluka.
Pak Bambang juga tak luput dari luka akibat sabetan senjata tajam yang menggores bahu kanannya, juga beberapa kali pukulan sempat mengenai tubuhnya.
tiba-tiba listrik padam, suasana menjadi semakin kacau karena mereka tak bisa melihat satu sama lain.
Sementara itu, Tuan Restu dan yang lainnya bersiap untuk turun dari balkon menggunakan tali yang sudah diikatkan di pagar balkon.
"Kita tidak punya banyak waktu. mungkin sebentar lagi listrik menyala, dan aku yakin tuan Kosasih juga sudah tahu itu. Sebaiknya kita bergerak cepat."
Joe mengingatkan.
Tuan Restu turun lebih dulu, dan dibawah sudah disambut oleh beberapa orang suruhannya yang memang sengaja disiagakan di titik itu.
Reyna menyusul berikutnya, kemudian Joe dan ketiga anak buahnya.
lampu menyala tepat saat Bima masih bergelantungan pada tali, belum menjejak tanah.
Beruntung karena situasi yang masih sangat kacau, sepertinya tak seorangpun melihatnya.
Bima langsung melompat dengan cepat dan bergabung dengan Tuan Restu.
"Lewat sini.."
Joe menunjukkan arah jalan khusus yang sudah dia persiapkan siang tadi, tentunya tanpa sepengetahuan tuan Kosasih.
Mereka tiba dibelakang gedung dan berada di jalan buntu.
Tembok penghalang pun terlalu tinggi untuk dilompati.
Bima beralih ke sisi sebuah pohon dan mengambil tangga yang sengaja mereka sembunyikan.
"Anda tidak perlu khawatir tuan, kami sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. dan ini adalah jalan keluar yang paling baik. Diluar sana beberapa orang suruhan Dennis sudah menunggu dan mereka yang akan membawa anda dan putri anda pergi dari sini. Cepatlah.. kita tak punya banyak waktu.."
ujar Bima.
Meski awalnya merasa ragu, namun akhirnya tuan Restu mengikuti instruksi Bima.
Dan benar saja, setelah mereka berhasil memanjat tembok tinggi itu beberapa orang dibalik tembok sudah siaga menunggu kedatangan mereka.
"Kami akan membantu yang lainnya disini.. sebaiknya kalian cepatlah pergi, sebelum mereka tahu.."
Ucap Joe dari balik tembok.
Sekarang tuan Restu dan Reyna sudah berada didalam mobil.
Tuan Restu segera memerintahkan Pak Bambang untuk mundur.
Sementara itu ditempat yang lain...
Tuan Kosasih baru saja tiba di markas utamanya.
"Mereka pikir mereka cerdik, bahkan mereka tidak bisa menemukanku disini.."
Gumam Tuan Kosasih dengan sinis.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Tuan.. kita diserang.."
Bima melaporkan.
Tuan Kosasih hanya tersenyum sumringah.
"Biarkan saja mereka. Dimana Joe..?"
__ADS_1
Tanya tuan Kosasih.
"Dia juga sedang kewalahan Tuan.. dan sepertinya mereka juga sudah membebaskan tawanan kita."
jawab Bima meyakinkan.
"Apa..??"
Wajah Tuan Kosasih berubah merah padam.
"Bagaimana mungkin bisa terjadi..?
Dimana Joe..? Apa yang kalian lakukan..?
Bagaimana mungkin kalian bisa kecolongan..??"
Tuan Kosasih mulai gusar.
"Jumlah mereka terlalu banyak Tuan.. kami kalah jumlah. Bahkan Dennis membawa anggota gengnya."
Jawab Bima dengan gaya di dramatisir.
"Lupakan orang-orang bodoh itu. Dengar Bima, sekarang kau cari Joe. tujuan utama kalian adalah keluarga Arbiantoro.
Habisi mereka!!"
Titah tuan Kosasih.
"Baik Tuan."
jawab Bima yang kemudian memutus sambungan telepon.
"Hendrik, coba kau buka rekaman CCTV di gedung itu. aku ingin tahu apa yang terjadi disana!"
perintah Tuan Kosasih.
Hendrik membuka laptopnya dengan cekatan dan segera melakukan apa yang diperintahkan Tuan Kosasih.
"Rekamannya tidak bisa diakses bos..
Sepertinya ada yang sengaja merusaknya.."
(Yang mereka tidak tahu, Aldo sudah merusak data rekaman CCTV tersebut sebelumnya, setelah dia mengambil data rekaman yang dia perlukan sebagai bukti).
"Apa..?? Kenapa..?"
Tuan Kosasih semakin gusar.
"Apa sebenarnya rencana mereka..?
Kenapa situasinya jadi seperti ini sekarang..?"
Gumam Tuan Kosasih dengan sinis.
Dan tiba-tiba...
"GUBRAKKK..!!!"
Dari luar markas terdengar suara benturan keras.
"lihat didepan, apa yang terjadi disana..!!"
titah Tuan Kosasih.
Belum sempat anak buahnya memastikan, pintu ruangan tempat mereka berada didobrak dengan paksa.
Tuan Kosasih yang merasa mulai terpojok langsung bersiaga, dengan M-16 tergenggam erat ditangannya.
"DORRR..!!"
Spontan Tuan Kosasih langsung menembakkan senjatanya kearah pintu, dan tepat mengenai bahu Reyhan yang berada paling depan.
Dennis yang melihat hal tersebut tak tinggal diam,
pertarungan sengit terjadi.
Dan meski bahunya terluka, Reyhan masih mampu untuk berada dalam pertarungan.
__ADS_1
Mereka saling adu senjata, saling menghindar dan berkelit satu sama lain.
Sementara suasana diluar ruangan pun tak kalah menegangkan.
Pertarungan dimana-mana. mereka saling menyerang membabi buta.
Reyhan dan Dennis berusaha memojokkan Tuan Kosasih.
Hendrik pun tak tinggal diam.
Diraihnya laptop diatas meja dan dilemparkan kepada Dennis yang langsung ditangkis dengan kakinya.
Namun itu memberikan cukup jeda untuk Hendrik bersiap dengan senjatanya.
Nyaris saja Dennis terkena peluru, namun Reyhan dengan sigap melemparkan shuriken kearah Hendrik dan tepat mengenai lehernya.
Hendrik langsung roboh bersimbah darah.
Sementara Tuan Kosasih sudah berlari keluar ruangan saat mereka menyerang Hendrik.
"Rey.. ayo kita kejar si tua bangka itu.. jangan sampai dia lolos. Hanya ini kesempatan kita untuk menangkapnya."
"Bagaimana dengan Pak Edo..? apakah mereka akan segera tiba..?"
tanya Reyhan.
"Mereka hampir tiba. kita harus bertahan sebentar.. Kau harus kuat Rey.."
Dennis memapah Reyhan yang mulai tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.
Beberapa jam sebelumnya..
Seseorang bernama Joe yang mengaku sebagai orang kepercayaan Tuan Kosasih menghubungi Reyhan, dan mengatakan akan membantunya.
Berkat bantuan Joe, mereka berhasil merubah rencana dengan tepat.
Informasi yang diberikan oleh Joe akan sangat berguna, dan akan memberatkan hukuman tuan Kosasih jika dia berhasil ditangkap.
Tuan Kosasih menjalankan bisnis gelap.
Dia adalah mafia pemasok narkoba lintas negara yang selama ini diburu oleh Polisi.
Dan markas itu, adalah tempat mereka menyimpan barang haram tersebut sebelum mengirimkannya kepada bandar-bandar besar yang memesannya.
Reyhan dan Dennis berusaha mengejar Tuan Kosasih.
Di sisa kesadarannya, Reyhan merogoh saku dan mengambil shuriken terakhirnya.
Dilemparkannya shuriken itu sekuat tenaga, dan akhirnya berhasil mengenai kaki kanan Tuan Kosasih.
Orang tu itu menjerit histeris, tongkatnya terjatuh kelantai.
Namun dia masih berusaha melarikan diri dengan kakinya yang pincang.
beberapa anak buah Tuan Kosasih juga mencoba menghalangi dan menyerang Reyhan, namun anak buah Dennis berhasil menghalau mereka.
Sementara Dennis langsung berlari mengejar Tuan Kosasih.
Masih belum menyerah, Tuan Kosasih tetap berlari menuju keluar markas.
Dengan sigap Dennis meraih senjatanya, dan menembakkannya tepat kearah kepala Tuan Kosasih.
"DORR..!!!"
Tuan Kosasih ambruk seketika.
Pak Edo tiba bersama Aparat Kepolisian berusaha menghentikan pertarungan tersebut.
Bahkan beberapa orang Aparat Kepolisian juga terluka akibat sabetan senjata.
Sementara itu, Reyhan sudah ambruk di posisinya.
Dia tak sadarkan diri.
"Rey...!!!"
Pekik Dennis.
__ADS_1
Namun pria itu sudah tak lagi merespon.