
Saat Annisa mulai tenang Reyhan keluar dari ruangan pasien dan menemui Om Rizal.
"Om.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Annisa..?"
Tanya Reyhan.
Om Rizal menarik nafas dalam.
"Apa belakangan ini istrimu kelelahan atau banyak fikiran..?"
Reyhan tertegun.
Diingatnya kembali situasi belakangan ini.
memang Annisa kelelahan, ditambah lagi dengan situasi yang membuatnya berpikir terlalu keras.
"Om rasa lebih tepat kalau kamu bicarakan ini dengan Dokter Rina.. karena situasi yang dihadapi istrimu saat ini mungkin berkaitan dengan kondisi psikisnya.."
Om Rizal memberi saran.
"Tapi Om.. waktu itu Dokter Rina bilang Annisa udah gak perlu konseling dan dinyatakan sembuh.."
"Rey.. kondisi psikis seseorang ini sebenarnya rumit.. Om juga tidak begitu memahaminya, karena itu alangkah baiknya kamu konsultasikan keadaan istrimu ke Dokter Rina.."
"Iya om, nanti aku akan coba konsultasi ke Dokter Rina.."
jawab Reyhan.
Saat keluar dari ruangan Om Rizal, tiba-tiba ponsel Reyhan berdering. Dan yang menghubunginya adalah Pak Edo, manager di perusahaannya.
"Ada apa Pak Edo..?"
tanya Reyhan.
"Pak.. gawat pak.. ini benar-benar gawat.."
Ujar Pak Edo yang terdengar panik.
dan sayup-sayup Reyhan mendengar suara keributan yang mungkin berasal dari kantornya.
"Apa yang terjadi disana Pak Edo..?"
Tanya Reyhan yang mulai cemas.
"Tiba-tiba tadi beberapa orang preman memasuki area kantor dengan membawa senjata pak..
mereka membawa shot gun, pistol dan sebagian lagi menggunakan senjata tajam.. kondisi disini benar-benar kacau pak..
saya tidak tahu bagaimana persisnya keadaan diluar, arena saat ini saya sedang berada di ruangan pribadi Anda.."
Reyhan terkejut dan nyaris saja menjatuhkan ponselnya.
"Pak Edo, tolong bertahan sebentar dan tetaplah disitu.. saya akan segera kirimkan orang.."
dengan sigap Reyhan mengakhiri panggilannya, kemudian mencoba menghubungi Dennis.
"Den, kamu dimana..?"
__ADS_1
Namun sebelum Dennis menjawab, terdengar hiruk pikuk keributan dari tempat Dennis berada.
"Serangan balasan boss.. aku sekarang di mall."
"Disana juga..???"
Reyhan semakin merasa tersudut.
Reyhan kembali mengakhiri panggilannya.
kemudian dia mencoba menghubungi seseorang lagi sambil berlari menuju mobilnya.
"Pak Bambang, tolong siapkan bodyguard-bodyguard terbaikmu sekarang juga. ReRe Coorporation diserang oleh King Latina.. aku sedang menuju ke lokasi.. Dan perketat keamanan dirumah sakit."
"Baik boss, segera.."
Meski sudah menduga akan adanya serangan balasan, namun Reyhan tidak menyangka mereka akan menyerang di dua tempat berbeda.
Setelah memastikan kondisi dirumah sakit benar-benar aman Reyhan langsung melajukan mobilnya yang terparkir di parkiran Rumah Sakit tersebut dengan kecepatan tinggi, sambil memeriksa beberapa senjata yang bisa dia gunakan.
Mulai dari pistol, belati hingga shuriken.
Ya, selama ini Reyhan banyak belajar menggunakan semua senjata itu dari Dennis.
Bahkan kemampuan bela diri Reyhan pun masih lebih baik daripada Dennis.
Dan yang tidak diketahui oleh siapapun (kecuali Dennis),
dia adalah "The Second"
begitulah julukan yang diberikan para petinggi mafia kepadanya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Reyhan tiba di lokasi. Begitu juga dengan beberapa bodyguard yang diperintahkan oleh Pak Bambang.
Reyhan sudah menyelipkan beberapa senjatanya, dan tak lupa menggunakan masker penutup wajah.
hal itu dia lakukan agar dia tak dikenali.
Keadaan didalam kantor sudah sangat kacau.
banyak karyawan dan staff terluka ringan hingga parah, bahkan mungkin diantaranya ada yang tewas.
Reyhan memimpin anak buahnya yang kemudian langsung meringsek masuk kedalam kantor dan mulai menyerang membabi buta.
Reyhan dengan sigap menggunakan senjata yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
entah sudah berapa lama bentrokan itu terjadi, hingga akhirnya Reyhan dan anak buahnya berhasil memukul mundur preman-preman yang menyerang mereka.
beberapa preman berusaha melarikan diri, namun ternyata pasukan polisi bersenjata lengkap sudah menghadang mereka lebih dulu.
beberapa orang preman ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
sementara itu sebagian polisi lainnya membantu di TKP untuk membuat situasi kembali kondusif.
Sementara itu dilokasi yang lain...
Dennis dan anak buahnya mulai kewalahan mengatasi bentrokan yang terjadi.
__ADS_1
diluar dugaan, ternyata hampir seluruh staff dan karyawan di mall tersebut membelot dan justru berbalik menyerang mereka.
beruntung saat itu bantuan datang tepat waktu.
pasukan polisi bersenjata lengkap tiba dilokasi dan langsung mengamankan beberapa orang preman yang diduga sebagai provokator.
Beberapa jam kemudian situasi kembali kondusif, meskipun tempat terjadinya bentrokan tampak sangat kacau.
di mall, semua barang berserakan. pecahan kaca dan barang lainnya juga berhamburan dilantai.
tak jauh berbeda, dikantor pun juga demikian.
anak buah mereka yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit. sedangkan yang tewas setelah diotopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya akan segera dikembalikan kepada keluarganya untuk di kebumikan.Sementara itu Reyhan dan Dennis sudah berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Peristiwa bentrokan yang terjadi di dua tempat dan cukup menyita perhatian orang-orang yang menyaksikannya tersebut pun tak luput dari incaran para awak media.
mulai dari wartawan koran, wartawan tv hingga wartawan berita online saling berebut untuk meminta keterangan dari Reyhan dan Dennis yang baru saja keluar dari ruang penyidikan sebagai saksi, karena mereka tidak diijinkan masuk ke dua lokasi tempat terjadinya bentrokan.
Dennis tampak terluka di beberapa bagian. sudut matanya tampak memar, lengan jasnya terkoyak dan ada luka sayatan belati yang sudah dibebat dengan perban dilengan itu. kakinya pun sedikit terpincang akibat keseleo.
Sedangkan Reyhan, kondisinya sedikit lebih baik.
hanya memar diujung bibir dan luka goresan di telapak tangannya yang juga sudah dibebat dengan perban.
Bahkan dia tak tau dimana ponselnya, mungkin terjatuh saat dia sedang menghadapi beberapa orang preman tadi.
"Aku akan kembali kerumah sakit. Kau pulang dan beristirahatlah, kau pasti lelah."
Ucap Reyhan.
Dennis mengangguk, kemudian mereka berpisah arah.
beberapa orang bodyguard pun bersiaga melindungi mereka dari awak media yang sangat gencar mencari berita.
Sementara itu dirumah sakit...
Situasi mendadak heboh setelah beberapa orang staff rumah sakit yang sedang beristirahat diruangan melihat berita di tv tentang peristiwa bentrokan tersebut.
"Bukankah pemilik ReRe Coorporation adalah keponakan Dokter Rizal..? dan yang kudengar ReRe Corpooration juga yang memberikan banyak bantuan dana di rumah sakit ini untuk orang-orang yang tidak mampu.."
"Astagaa... sudah seperti gangster saja.."
"Apa masalah mereka sebenarnya..? atau mungkin mereka punya musuh..?"
"Menurut spekulasi sementara pelakunya adalah orang-orang yang pernah kalah saing dengan ReRe Coorporation.. mungkin mereka sedang melampiaskan kemarahannya."
Begitulah desas-desus yang terdengar dilingkungan Rumah Sakit sore itu.
Namun Annisa belum mengetahui apapun.
dia ada diruangan vvip bersama mertuanya dan satu orang dokter juga perawat yang sengaja disiagakan jika terjadi sesuatu.
Beruntung sang mama sudah mengetahui peristiwa itu sebelumnya, dan berusaha mencegah Annisa untuk menonton tv. bahkan dia tidak diijinkan memegang ponselnya.
Reyhan tiba dirumah sakit dan langsung menuju ruang vvip tempat istrinya dirawat.
Sebelum masuk ke ruang pasien, Reyhan menutupi lukanya lebih dulu dengan foundation wajah dan sarung tangan.
__ADS_1
setelah dirasa cukup, Reyhan langsung memasuki ruangan vvip.