Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
98. Rahasia Terbongkar


__ADS_3

"Sayang.. Hari ini mas lembur dikantor. Kalau kamu perlu apa-apa, kamu bisa bicara pada bi Ijah.."


Ujar Reyhan.


"Bi Ijah..?"


Annisa mengernyitkan kening sambil membenahi kemeja dan dasi Reyhan.


"Oh iya, mas lupa bilang.. Bi Ijah baru tiba tadi malam setelah kamu tidur. Mas sengaja minta Bi Ijah kesini untuk menemani kamu, sambil menunggu Kirana. Lagipula, dulu Bi Ijah pernah tinggal lama dirumah ini dan dia sudah fasih berbahasa jepang, jadi kamu tidak akan mengalami kesulitan dirumah ini selama mas pergi.."


jawab Reyhan sambil mengecup singkat kening Annisa.


Wajah Annisa tampak berbinar. Karena selama di Indonesia Annisa sangat dekat dengan para ARTnya, terutama bi ijah dan bi minah yang sudah Annisa anggap seperti ibu sendiri.


"Makasih ya mas.."


Ucap Annisa sambil tersenyum.


Reyhan mengelus kepala Annisa dengan lembut.


"Everything for you dear.."


balas Reyhan sambil memeluk Annisa.


Setelah selesai sarapan dan berpamitan Reyhan berangkat menuju kantornya.


banyak pekerjaan yang menunggunya hari ini, ditambah lagi meeting dengan beberapa client untuk membahas kerja sama dan lain sebagainya.


"Bi Ijah... Nisa kangennn..."


Annisa menghambur dan memeluk bi Ijah yang sedang mencuci piring didapur.


"Bibi juga kangen non.."


jawab Bi Ijah sambil membalas pelukan Annisa.


"Bi Ijah kapan sampai..?"


Tanya Annisa sambil duduk di meja makan.


"Tadi malam non.. Den Aldo yang jemput bibi, katanya disuruh den Reyhan nemenin non Nisa disini.."


jawab bi Ijah.


"Aku seneng banget bi Ijah ada disini, jadi ada yang nemenin aku deh.. aku bosan bi disini, mas Rey gak ngijinin aku keluar rumah sendirian.. Bahkan kuliah juga aku jalani online.."


"Iya, bibi paham non.. tapi den Reyhan melakukan itu semua juga demi non Annisa.. Den Reyhan gak mau sampai terjadi apa-apa sama non Annisa dan calon bayinya.."


Ujar Bi Ijah.


"Mas Rey bilang, bibi pernah tinggal lama disini kan..?"


"Iya non, dulu waktu den Reyhan dan Non Reyna masih kecil-kecil, bibi tinggal disini dengan tuan dan nyonya besar.. Bi Minah yang tinggal di Indonesia. Tapi sejak Den Reyhan dan Non Reyna pindah ke Indonesia, tuan Restu meminta bibi untuk tinggal di Indonesia juga untuk menjaga Den Reyhan dan Non Reyna. Keluarga tuan Restu itu sangat sulit percaya dengan orang lain Non.. apalagi sejak..."


Bi Ijah memotong kalimatnya.


"Sejak kapan bi..?"


tanya Annisa yang rampak penasaran.


"Sejak den Reyhan nyaris diculik.."


jawab Bi Ijah dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


"Iya, Nisa tahu soal itu bi.. Mas Rey juga pernah cerita sebelumnya. dan mas Rey bilang Dennislah yang saat itu membantunya kabur dari si penculik saat mobil mereka mengalami kecelakaan.."


Bi Ijah menatap Annisa dengan tatapan heran.


"Tidak non, saat itu mas Rey sendirian.. Mas Rey disekap didalam sebuah gudang.."


jawab Bi Ijah.


Annisa juga menatap bi Ijah dengan heran.


"Tapi waktu itu mas Rey sendiri yang bilang kalau supir pribadinya berusaha menculiknya, tujuh belas tahun yang lalu.. Beruntung saat itu ada Dennis disana yang menolongnya dan mereka berhasil kabur saat mobil yang dibawa oleh supir pribadi mas Rey mengalami kecelakaan.."


gumam Annisa.


"Kecelakaan..? Sepertinya bibi paham maksud non, tapi sejauh yang bibi tahu, tidak ada kasus penculikan.. bahkan supir pribadi den Reyhan saat itu harus dipenjara karena mobil yang dia kemudikan menabrak seseodang dan menyebabkan orang itu meninggal.. atau jangan-jangan, memang saat itu den Reyhan yang tidak menceritakan kejadian itu..?"


Bi ijah mengernyitkan kening.


Tiba-tiba ponsel Annisa berdering, panggilan dari Reyhan.


"Assalamualaikum sayang.. apa kamu sedang sibuk..?"


Tanya Reyhan


"Waalaikumsalam.. gak kok mas, Nisa lagi ngobrol sama bi Ijah.. apa mas perlu sesuatu..?"


tanya Annisa.


"Emm.. sayang, kamu tahu ruang kerja mas kan..?"


tanya Reyhan.


"Iya.. kenapa mas..?"


"Yaudah, Nisa cari dulu berkasnya ya mas.."


Kemudian Annisa bergegas menaiki tangga, mengambil kunci ruang kerja Reyhan dan swgwra ke ruang yang dimaksud.


Ini pertama kalinya Annisa memasuki ruang kerja Reyhan. Selama tinggal dirumah ini Reyhan juga sangat jarang berada diruang kerjanya, hanya sesekali saat tengah malam setelah Annisa terlelap seperti tengah malam tadi.


"Yaampun mas.. ruang kerja kamu kok berantakan banget sih.."


gumam Annisa sambil meraih berkas map cokelat diatas meja.


"Mungkin ini berkasnya.. Yaudah deh, aku akan bereskan ruangan ini setelah Aldo mengambil berkasnya."


Kemudian Annisa turun ke lantai satu, bersamaan dengan tibanya Aldo.


Setelah menyerahkan berkasnya kepada Aldo, Annisa kembali ke atas. tepatnya, keruang kerja Reyhan.


Annisa mulai menata ruangan tersebut agar terlihat lebih rapi.


banyak berkas berserakan dimeja. Annisa memperhatikan dan menyusun berkas itu satu persatu, agar nantinya Reyhan lebih mudah menemukan berkasnya.


Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah potongan artikel surat kabar yang sudah tampak lusuh.


Diraihnya potongan artikel tersebut dengan headline 'Kecelakaan Tragis di Jl. XXX, Satu Orang Korban Kritis'


Annisa memperhatikan foto mobil sedan berwarna hitam yang telah ringsek didalam artikel tersebut. Annisa kembali teringat peristiwa yang terjadi pada dirinya dan ayahnya delapan belas tahun yang lalu.


Mobil itu sama persis, seperti mobil yang menabrak almarhum ayahnya dan menyebabkan ayahnya harus dirawat di ruang ICU hingga akhirnya meninggal.


Annisa mulai membaca isi artikel tersebut. Dan entah kebetulan atau tidak, tanggal dan lokasi kejadian pada artikel tersebut sama persis dengan tanggal dan lokasi kecelakaan yang menimpa ayahnya.

__ADS_1


Mata Annisa terpaku pada satu baris kalimat 'Korban kritis seorang pria berusia 30 tahun diketahui bernama Sumarna yang saat itu hendak menyebrang bersama putrinya yang berusia tiga tahun, segera dilarikan kerumah sakit terdekat'


Deggg...


Jantung Annisa berdegup tak beraturan. Napasnya terasa sesak.


Airmatanya terjatuh, bersamaan dengan potongan artikel yang terjatuh ke lantai.


"Kenapa... Kenapa artikel ini ada disini.."


Gumam Annisa.


Annisa kembali meraih potongan artikel tersebut, dan membacanya kembali.


Lagi-lagi matanya tertuju pada barisan kalimat lain,


'Tersangka berinisial K telah diamankan dari lokasi kejadian. Berdasarkan keterangan, saat itu tersangka akan kembali kerumah majikannya setelah menjemput anak dari majikannya. Namun anak dari majikannya tersebut tidak ditemui di lokasi kejadian'


Annisa terduduk di kursi berlengan diruang kerja Reyhan.


Tubuhnya terasa lemah, dadanya terasa sesak.


Annisa menangis sesegukan diruangan tersebut.


Dengan sisa tenaga, Annisa berusaha mencari artikel lainnya yang mungkin tersimpan diruangan tersebut.


Hingga akhirnya Annisa menemukan beberapa potongan foto keluarganya.


dia menemukan empat buah foto.


foto pertama, adalah foto saat dia masih berusia dua tahunan bersama dengan ayah dan ibunya.


Saat itu mereka sedang berada disebuah taman hiburan.


Foto kedua, adalah foto Annisa bersama ibunya.


Didalam foto itu Annisa menggenggam sebuah piala sambil tersenyum sumringah.


Dia ingat persis, itu adalah saat dia meraih juara satu umum lomba olimpiade sains. Ketika itu dia masih duduk di bangku SMP.


Foto ketiga, Annisa sangat yakin foto itu diambil secara diam-diam di semester awal perkuliahannya.


Sedangkan foto terakhir, adalah foto seorang pria yang sedang berdiri tepat disamping mobil sedan berwarna hitam.


Dan, dia ingat persis.


Pria itulah yang telah menabrak ayahnya.


Dia pernah bertemu pria itu satu kali, saat masih didalam jeruji besi.


Dan betapa terkejutnya Annisa saat melihat name tag dibaju seragam pria itu, 'Kosasih'


Annisa menggenggam keempat foto tersebut, bersama dengan artikel surat kabar yang tadi dia baca.


"Kenapa mas Rey memiliki ini semua..?


Kosasih, jadi ternyata pria tua yang waktu itu adalah orang yang dulu menabrak ayahku.. bagaimana mungkin aku bisa lupa..."


Dadanya terasa semakin sesak, seolah ada batu besar yang menimpa.


ingin rasanya dia berteriak, namun dia bahkan tak lagi punya tenaga untuk bangkit.


Dicobanya untuk berdiri, namun tiba-tiba pandangannya terasa gelap.

__ADS_1


Dan akhirnya, Annisa ambruk dilantai.


__ADS_2