
"Nabila... Ya Allah... Bila kemana aja..?"
Kirana langsung meraih Nabila dari gendongan Dennis.
"Bila tadi diajak kerumah paman malaikat.. rumah paman malaikat gedeeee banget.. udah gitu kamarnya juga besar dan bagus, banyak mainan.."
Nabila bercerita dengan antusias.
"Mas,dimana kamu menemukan Bila..?"
tanya Kirana pada Dennis
"Dirumah paman malaikat.."
jawab Dennis enteng.
Kirana melihatnya dengan seksama.
"Kalung itu.. bukan kalung biasa. Aku sudah meletakkan alat pelacak di sela liontinnya."
Ujar Dennis
"Tapi, gimana Bila bisa sampai disana..?"
tanya Kirana.
"Paman malaikat yang jemput Bila.. Paman malaikat bilang mau ajak Bila main kerumahnya.."
Jawab Nabila polos.
"Na.. mas minta maaf sebelumnya, paman malaikat yang dikatakan Nabila, adalah ayah kandung mas."
Kirana menatap lekat pada Dennis seolah tak percaya.
"Ternyata kalian sudah kenal dia sebelumnya, mas sangat terkejut mendengarnya."
"Emm.. iya mas, paman mal..em, maksud aku.. ayah mas memang sering berkunjung kesini. Bila juga sangat dekat dengannya.."
jawab Kirana.
"Nana.. setelah ini tolong berhati-hatilah jika kalian mengenal orang asing. syukurlah dia adalah ayah mas. Jika dia orang jahat, mas gak tahu apa jadinya jika sampai Bila benar-benar diculik.."
"Iya, maaf mas.."
"Tuan malaikat, kapan kita bertemu paman malaikat lagi..?"
tanya Nabila.
"Bila pasti akan sering bertemu paman malaikat setelah ini.."
jawab Dennis sambil tersenyum.
"Apakah ayah mas pernah mengatakan sesuatu sebelumnya?"
tanya Dennis.
Kirana menggeleng.
"Kami mengenalnya karena dia sering kerumah sakit ini menggunakan kostum badut mas, hampir setiap hari dia datang kerumah sakit ini untuk menghibur anak-anak yang sakit. Bukan hanya Bila, anak-anak disini juga sangat dekat dengannya. Kami bahkan tidak tahu jika dia adalah ayah mas.."
jawab Kirana.
__ADS_1
"Astagaaa.. pantas saja.."
gumam Dennis.
"Maaf ya mas, aku gak mengatakan ini sebelumnya.."
"Sudahlah, bukan salah kamu.. Tapi mas mohon setelah ini berhati-hatilah dengan orang asing."
Ujar Dennis mengingatkan.
"Kak Nana.. Bila ngantuk.."
Gumam Nabila karena saat itu malam memang sudah larut.
Kirana meletakkan Nabila ke ranjang pasien, dan membenahi posisinya agar tidur dengan nyaman.
"Mas.. makasih banyak ya, mas udah bantu aku cari Nabila.. Kalo gak ada mas, aku gak tau harus kemana cari Nabila.."
Ucap Kirana dengan tulus.
"Kamu sudah mengenal ayah mas kan.. Apa masih ada lagi hal yang ingin kamu ketahui?"
Kirana mendadak gugup.
"Tapi.. ta.. tapi.. Aku belum mengetahui banyak hal tentang mas.."
jawab Kirana.
"Nana, Kamu mau mendengar satu cerita..?"
"Cerita..?"
Kirana tampak heran.
"Masya Allah.. mereka benar-benar saling mencintai karena Allah ya mas.. Meskipun memang diawali dengan rahasia kelam yang menyakitkan.. Tapi, apakah ada cerita seperti itu di dunia nyata..?"
Ujar Kirana.
"Nana... itu adalah kisah nyata perjuangan cinta Reyhan dan Annisa.."
jawab Dennis sambil tersenyum.
"Tuan Reyhan dan mbak Annisa..?"
Kirana tampak tak percaya.
"Nana.. banyak orang didunia ini yang terjebak dengan pola pikirnya sendiri.
sehingga dia buta, dan tidak bisa menerima sesuatu yang menurutnya tidak benar.
kebanyakan orang pasti berpikir, pernikahan haruslah dilakukan oleh dua orang yang sudah saling mengenal satu sama lain, dan saling mencintai. Itu tidak sepenuhnya salah,
tapi yang terpenting adalah..
dasar pernikahan tersebut terjadi..
Jika hanya karena cinta, maka cinta bisa hangus dimakan usia.
dan akhirnya, banyak hubungan yang kandas dalam perceraian. Dengan alasan tidak lagi sejalan.
padahal yang sebenarnya terjadi adalah karena mereka sendiri yang tidak ingin berada dijalan yang sama.."
__ADS_1
Kirana terkesiap mendengar penuturan Dennis.
"Nana.. Mas minta maaf jika keinginan mas menikahi kamu membuatmu merasa terbebani.
Tapi, mas benar-benar serius dengan itu.
Karena mas yakin, kamu adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup mas."
Kirana menarik napas dalam.
"Aku juga minta maaf mas, karena..
Aku belum sepenuhnya yakin dengan mas..
Lagipula, banyak wanita yang jauh lebih baik dariku.
Kenapa mas memilihku..?"
Dennis memejamkan mata sejenak.
"Karena mas yakin, surga mas ada di kamu.."
Jawab Dennis mantap.
Kirana tertegun. Hatinya berdesir mendengar jawaban Dennis.
Entahlah, dia merasa seperti tersihir dengan pesona seorang Dennis.
Dan senyumnya, entah sejak kapan Kirana selalu merasa lebih tenang saat melihat senyum itu.
"Mas.. apa kamu yakin kamu tidak salah memilih..?
Jika nanti kamu mengetahui semua kekurangan yang asa padaku, apa kamu akan tetap ridho dan berbesar hati dengan itu..?"
"Nana.. Gak ada manusia yang sempurna.. setiap manusia pasti punya kekurangan. mas juga bukan manusia sempurna.. Bahkan mungkin kamulah yang terlaku sempurna untuk mas.
Tapi, mas benar-benar yakin dengan keputusan yang mas ambil."
"Tapi mas.. perbedaan kita terlalu jauh.. aku cuma gadis kampung.. aku bahkan tidak lulus sekolah.
Sedangkan mas..."
"Kamu benar.. Mungkin mas bisa melakukan 90% yang tidak bisa kamu lakukan..
tapi, Kamu bisa melakukan 10% yang tidak bisa mas lakukan meski seumur hidup..
Mas ingin melengkapi 10% puzzle yang tidak ada dalam hidup mas.."
"Tapi mas..."
"Kirana Larasati, bersediakah kamu menikah dengan mas..?"
Degggg...
jantung Kirana berdetak cepat.
Otaknya serasa buntu. Dia segera menundukkan wajah, untuk menutupi kegugupannya.
Saat ini Dennis hanya berjarak beberapa langkah dihadapannya.
"Bismillah.. Insya Allah, aku bersedia mas.."
__ADS_1
Jawab Kirana sambil memejamkan mata.