
Sebulan berlalu sejak Dennis memutuskan untuk menghindar sementara dari Annisa.
Dan kali ini dia benar-benar yakin dengan hatinya, bahwa dia sudah merelakan Annisa sepenuhnya.
Pagi itu Dennis sudah bersiap untuk ke Kantor.
Sejak kembali ke Indonesia, Reyhan mempercayakan semua urusan ReRe Coorporation kepadanya.
Sedangkan Reyhan fokus membangun cabang perusahaan di Kobe sembari menunggu anaknya lahir.
Sebelum berangkat Dennis memeriksa ponselnya,
Dua panggilan tak terjawab dari ANNISA!
Dennis mempertimbangkan sejenak, kemudian mencoba menghubungi Reyhan.
"Hoi Bro.. Dimana lu..?"
Tanya Dennis.
"Dihati abang dong.."
jawab Reyhan sambil tertawa geli.
"*****.. ente kira ane jeruk makan jeruk apa.. Astaghfirullah..."
Dennis mengelus dada, sedangkan Reyhan masih tertawa terbahak diujung sana.
"Gimana kabar Annisa..?"
Tanya Dennis.
"Alhamdulillah, Annisa baik.. kandungannya juga baik."
Jawab Reyhan.
"Alhamdulillah.. syukurlah.."
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan seputar perkembangan perusahaan.
"Den.. lu oke kan..?"
Tanya Reyhan tiba-tiba.
"Okelah, kenapa..?"
jawab Dennis.
"Emm.. ini soal Annisa.."
"Bro.. jodoh itu udah diatur sama Allah.. Aku ikhlas, karena kau yang menjadi suaminya. Meski awalnya kau hanya ingin menebus semua rasa bersalahmu, tapi aku tau sekarang kau benar-benar mencintainya dengan tulus.. Dan aku bisa melepasnya dengan tenang sekarang, karena aku tau dia sudah bersama orang yang tepat.."
Dennis tersenyum.
"Ngomong-ngomong soal jodoh, apa kau gak terpikir mulai membuka hati untuk orang lain..?"
Tanya Reyhan.
"Hoii onta Korea.. sebagai sesama introvert kurasa kau juga paham kan gimana susahnya untuk menerima orang lain.
Kalo bukan karena diawali rasa bersalah, kurasa kau pun gak akan ngelirik wanita yang sekarang jadi istri sah mu.."
__ADS_1
Sindir Dennis sambil tertawa.
"Sialan kau Den.. Awas jadi bujang lapuk kau.."
rutuk Reyhan dan hanya dibalas tawa sumringah oleh Dennis.
"Rey.. Annisa wanita yang baik.. Tolong jaga dia ya. Tapi kalau sampai kau buat dia menangis, aku orang pertama yang akan menghajarmu."
Ucap Dennis.
"Hahaha.. sekarang kau justru terdengar seperti ayahnya.."
Ledek Reyhan.
"Yaa, anggaplah kau mendengarkan kata-kata itu dari seorang ayah yang mencemaskan putrinya. Tapi aku gak main-main Rey.."
Ucap Dennis dengan mimik serius.
"Baiklah ayah mertua, saya Reyhan Arbiantoro akan dengan sepenuh hati mencintai putri anda. Saya tidak bisa menjanjikan untuk tidak membuatnya menangis, tapi saya bisa pastikan sayalah orang yang akan menjaganya seumur hidup saya.."
Jawab Reyhan sambil tersenyum sumringah.
"Kupegang janjimu anak muda.."
Kemudian Dennis tertawa lepas.
☆☆☆☆☆☆
"Perlu bantuan Mas..?"
tanya Annisa saat melihat Reyhan yang kesulitan memasang dasinya di cermin.
Reyhan mengangguk sambil tersenyum.
Perlahan Reyhan menangkupkan kedua tangannya diwajah Annisa, kemudian mencium keningnya.
"Sayang.. Mas selalu merasa jadi laki-laki paling beruntung karena memiliki istri soleha seperti kamu.."
Ucap Reyhan sambil menatap Annisa dengan tatapan penuh cinta.
"Mas.. Nisa juga selalu merasa jadi wanita paling beruntung.. Karena Allah pertemukan Nisa dengan sosok suami yang soleh seperti mas.."
balas Annisa sambil tersenyum dan memeluk Reyhan.
"Mas jadi ingat, awal-awal kita ketemu dikampus dulu.."
Ujar Reyhan sambil terkenang.
"Ternyata skenario Allah itu memang menakjubkan ya mas.. Siapa yang bisa menduga kalau akhirnya kita justru berjodoh.."
"Sayang.. jodoh, maut, rejeki.. semua itu rahasia Allah.. kita hanya bisa berikhtiar.. berusaha dan berdo'a untuk menjemput jodoh dan rejeki kita, sebelum maut menjemput kita.."
"Iya mas.. Tapi sampai sekarang sejujurnya Nisa masih gak nyangka loh.. Dari sekian banyak wanita yang jauh lebih cantik dan bahkan jauh lebih baik dari Nisa, Mas justru memilih Nisa.."
Ujar Annisa.
"Sayang.. bukan mas yang memilih kamu.. tapi Allah yang sudah mencatat nama kamu di Lauhul Mahfudz dan menetapkan kamulah yang menjadi takdir mas.."
"Mas.. Boleh Nisa tanya sesuatu..?
Tapi mas harus jawab dengan jujur ya.."
__ADS_1
Reyhan mengangguk sambil tersenyum.
"Mas ingat gak, dulu mas pernah kerumah Nisa dan bilang sama ibu kalo mas mau ngelamar Nisa..?
Apakah waktu itu mas memang benar-benar melamar Nisa..?"
tanya Annisa.
Reyhan tertegun mendengar pertanyaan Annisa.
"Mas.. kenapa diam..?"
Annisa menyentuh pipi Reyhan.
"Kamu mau mas menjawab jujur..?"
"Iya.. Nisa pengen tau alasan mas.."
ujar Annisa.
Reyhan menarik napas dalam.
"Mas minta maaf untuk itu sayang.. sejujurnya, waktu itu mas refleks.. bahkan saat itu mas sama sekali gak terpikir sedikitpun untuk mendekati kamu.."
Annisa menundukkan wajahnya. ekspresinya tampak sedih.
Reyhan yang menyadari hal tersebut kemudian meraih tangan Annisa dan menggenggamnya.
"Ada sesuatu yang terjadi, dan karena itulah akhirnya mas putuskan untuk benar-benar melamar kamu.."
ujar Reyhan.
Annisa menatap Reyhan dengan tatapan bingung.
"Iya sayang.. Ada alasan khusus kenapa mas melakukan itu.. Dan itu bukan karena cinta."
Annisa tampak semakin sedih mendengar pengakuan Reyhan.
"Apa alasannya..?"
tanya Annisa.
Reyhan menarik napas dalam.
Kemudian perlahan dia memegang tengkuk Annisa, dan mengecup bibirnya sekilas.
"Belum waktunya kamu tau.. Tapi satu hal yang harus kamu tau, Mas jatuh cinta pada kamu sesaat setelah mas resmi menjadi suami kamu.. Cinta itu hadir, atas izin Allah.."
Reyhan berbisik di telinga Annisa.
"Sayang.. Mas mencintai kamu karena Allah.. mas ingin tetap mencintai kamu di jalan Allah.. Karena cita-cita terbesar mas, adalah membawa kamu ke surga.."
Annisa tampak terharu mendengar jawaban dari suaminya.
Kemudian Annisa mengecup tangan Reyhan dengan takzim.
"Mas.. Nisa minta maaf.. selama ini Nisa sering salah paham sama mas.. Padahal mas udah berusaha jadi suami terbaik untuk Nisa, tapi Nisa bahkan belum mampu menjadi istri yang baik untuk mas.. Nisa harap mas ridho dengan Nisa.. Nisa takut Allah murka dengan Nisa jika mas gak ridho dengan Nisa.. Nisa takut jadi istri durhaka.. Mas.. tolong bersabar bimbing Nisa ya.."
ujar Annisa lirih.
"Sayang.. dengarkan mas.. Bagi mas, kamu adalah sosok istri terbaik. Mas juga minta maaf ya, kalau selama ini mungkin kamu pernah merasa kecewa dengan sikap mas.. Tapi, mas akan terus berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu.. kamu juga bantu mas ya.. Mulai sekarang dan seterusnya, sama-sama kita bina rumah tangga kita, menuju sakinah mawaddah warohmah.. dan semoga Allah kekalkan cinta kita, sampai ke jannahNya.."
__ADS_1
"Aamin.. Insyaa Allah mas.."
jawab Annisa sambil tersenyum tulus.