Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
111. Seperti Keluarga


__ADS_3

Malam itu Dennis dan Kirana sedang dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi Annisa dirumah sakit.


Sejak percakapan dirumah sakit tadi, Kirana tak banyak bicara.


Dia hanya melihat keluar jendela mobil sambil termenung.


"Kirana.."


Panggilan Dennis sukses mengacaukan Kirana.


"Ehh.. emm.. I-iya mas.."


jawab Kirana dengan gugup sambil menundukkan kepala.


"Soal dirumah sakit tadi..."


"Iya aku ngerti kok mas, itu cuma guyonan.."


Kirana memotong ucapan Dennis.


"Maaf..."


Dennis tampak menyesal.


Kirana menggeleng.


"Lagian gak mungkin kan mas Dennis jatuh cinta sama gadis sepertiku.. Sedangkan disekeliling mas Dennis banyak gadis yang jauh lebih cantik."


gumam Kirana, namun Dennis tidak mendengarnya.


"Kamu bilang apa barusan..?"


tanya Dennis.


"Bukan apa-apa kok mas.."


Jawab Kirana sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Sebaiknya kamu kembali ke apartemenku dulu. Lagipula saat ini Annisa juga masih dirumah sakit kan.."


"Hahh..? Ke-ke apartemen mas Dennis..?"


Kirana tampak gugup dan salah tingkah.


"Kenapa..?"


tanya Dennis yang tampak bingung.


"Emm..."


"Hei, keluargamu kan juga tinggal disana.."


sanggah Dennis dan membuat Kirana tersadar.


"Astaghfirullah.. maaf mas, Aku kira..."


"Kamu pikir aku lelaki hidung belang yang suka membawa gadis ke apartemenku..? Dasar..."


omel Dennis.


Kirana tersenyum kecut.


Setibanya di apartemen Dennis, Kirana langsung disambut oleh ibu dan adik lelakinya, Anjar.


"Dimana Nabila..?"


Tanya Kirana karena tidak melihat adik bungsunya.


"Nabila masih tidur Na, tadi dia kelelahan habis belajar..


Maklumlah, dia harus banyak menyesuaikan materi pelajarannya.. ditambah lagi dia harus belajar berbahasa jepang.."


jawab ibu Kirana.


"Nak Dennis apa kabar..?"


tanya ibu Kirana.

__ADS_1


"Alhamdulillah kabar baik bu.. gimana kabar ibu, betah tinggal disini..?"


tanya Dennis.


"Alhamdulillah kabar ibu baik nak Dennis.. ya betah sih, cuma ibu bingung sama keadaan disini..


maklumlah, ibu kan dari kampung.."


"Pelan-pelan ibu juga pasti terbiasa kok.. lagipula, ada Anjar dan Nabila kan yang selalu menemani ibu.."


"Iya.. untungnya Anjar dan Nabila cepat belajar, jadi mereka gak terlalu kesulitan untuk berbaur dengan orang-orang disini.."


jawab Ibu.


"Syukurlah.. Yaudah, kalo gitu aku pamit dulu ya bu.."


"Loh, kenapa buru-buru kak..? makan malam disini aja dulu, ibu barj aja siap masak.."


Ujar Anjar.


"emmmm..."


Dennis berpikir sejenak.


"Udah jangan kebanyakan mikir.. kamu pasti jarang kan makan masakan Indonesia disini.."


Kemudian ibu Kirana menarik tangan Dennis menuju meja makan.


"Kalo gitu Nana bangunin Bila dulj ya bu.."


Kemudian Kirana bergegas menuju kamar Nabila.


Malam itu Dennis menikmati makan malam yang sangat berkesan.


Benar kata Ibu Kirana, dia memang nyaris tidak pernah makan masakan Indonesia selama di Jepang. tapi yang paling membuat berkesan adalah, kehangatan yang tercipta di keluarga kecil itu.


Sesuatu yang sudah tak pernah Dennis dapatkan sejak kepergian ibunya.


Malam ini Dennis benar-benar merasa seolah keluarganya ada didepannya, sedang bercengkrama sambil menikmati masakan ibu.


Ada rasa nyaman yang telah lama hilang dari jiwanya.


membuatnya sejenak melupakan semua kisah pahit dan kelam yang telah dia lewati.


Diam-diam Dennis memperhatikan ekspresi keluarga Kirana.


wajah mereka tampak sumringah, seolah mereka adalah keluarga paling bahagia didunia.


Tanpa sadar, Dennis pun larut dalam kebahagiaan keluarga itu.


Setelah selesai makan malam, Nabila mengajak Dennis dan Anjar untuk bermain ludo.


"Yang kalah besok harus traktirin jalan-jalan ya.."


Tuntut Nabila yang tampak merasa percaya diri.


Bocah delapan tahun itu memang merasa sesumbar, karena selama ini setiap bermain Kirana dan Anjar selalu mengalah padanya.


"Oke, Kak Dennis setuju.. Tapi, gak boleh curang ya.."


tantang Dennis.


Kemudian Dennis menemani Anjar dan Nabila bermain ludo diruang keluarga.


Tentu saja Dennis banyak mengalah dalam hal ini.


Sebenarnya mudah saja baginya untuk mengalahkan kedua adik Kirana, namun dia merasa tertantang dengan tuntutan Nabila.


Ibu dan Kirana tersenyum sumringah melihat ketiga orang yang sedang bertarung dengan sengit.


Bahkan Kirana sesekali tampak membantu Nabila menjalankan bidak ludonya.


Permainan selesai, dengan hasil Nabila yang menang telak.


Semenfara Dennis yang memang sengaja memposisikan dirinya untuk kalah, tertawa geli melihat kehebohan Nabila.


"Yeyyy.. Bila menang.. Berarti besok Kak Dennis harus traktir Bila jalan-jalan..."

__ADS_1


Nabila bersorak riang.


Bagi Dennis tentu bukanlah hal yang sulit untuk membawa Nabila jalan-jalan kemanapun yang dia mau. tapi bagi Nabila, jalan-jalan adalah hal yang sangat luar biasa. Karena kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Nabila nyaris tidak pernah merasakan bahagianya momen itu.


Dennis merasa trenyuh melihat senyum Nabila, bocah kecil yang telah banyak merasakan kesulitan hidup.


Dia bahkan telah lupa bagaimana wajah almarhum ayahnya. Dan bagi bocah seusianya, kasih sayang dari kedua orangtua yang lengkap tentu sangat dibutuhkan.


Namun sejak ayahnya meninggal, ibu dan kakaknya yang menjadi tulang punggung keluarga nyaris tidak ada waktu untuk menemaninya.


begitu juga dengan Anjar, sepulang sekolah dia juga harus bekerja untuk biaya sekolahnya.


Belum lagi biaya pengobatan ibunya yang sangat besar.


Hal itulah yang memaksa Nabila untuk tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.


Sejak masuk sekolah Nabila sudah terbiasa mengurus dirinya sendiri.


Malam itu keluarga Kirana tampak sangat bahagia melihat keceriaan Nabila.


Begitu juga dengan Nabila yang sangat antusias memikirkan perjalananny besok.


"Baiklah, karena kakak yang kalah sekarang Bila boleh minta apa aja.."


tawar Dennis.


"Bila mau jalan-jalan..."


jawab Nabila bersemangat.


"Cuma itu..?"


tanya Dennis yang dibalas anggukan mantap dari Nabila.


"Oke, Bila mau jalan-jalan kemana..?"


tanya Dennis.


"Kemana ajaaa..."


jawab Nabila.


"Kalo gitu sekarang Nabila harus segera tidur, karena besok pagi kak Dennis akan bawa Nabila jalan-jalan seharian.."


"Seharian..?


Kak Dennis gak bohong kan..?"


Dennis menggeleng dengan antusias.


"Pokoknya besok pagi, kak Dennis akan jadi tour guide khusus untuk Bila.."


jawab Dennis meyakinkan.


"Ibu sama kak Nana ikut juga kan..?"


"Harus dongg... pokoknya semuanya harus ikut.."


jawab Dennis.


"Horreee... Bu, ibu dengar kan.. besok semuanya harus ikut.. Bila senang banget bu.. Besok akan jadi hari ulangtahun paling menyenangkan untuk Bila.."


Dennis tertegun sejenak.


Jadi ternyata, karena itulah Nabila meminta untuk jalan-jalan bersama keluarganya.. Yang bagi Dennis adalah hal sepele, namun justru sangat berarti bagi bocah seperti Nabila.


"Mas.. makasih banyak ya.."


Ucap Kirana sat mengantarkan Dennis menuju parkiran.


"Makasih untuk apa..?"


tanya Dennis.


"Karena mas udah memberi kebahagiaan untuk Nabila.."


"Sama-sama.."

__ADS_1


jawab Dennis tersenyum tulus.


__ADS_2