
Sore itu setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Dennis segera menuju ke rumah sakit untuk membesuk ibu Kirana.
Setibanya di rumah sakit, dari jauh Dennis melihat Kirana sedang berbicara dengan seorang pria di koridor. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, namun wajah Kirana tampak santai saat berbicara dengan pria tersebut.
Dia bahkan sesekali tersenyum.
"Siapa pria itu..? Kenapa sepertinya dia sangat akrab dengan Kirana..?"
Gumam Dennis sambil menatap tak bergeming.
Belum sempat terjawab, rasa penasaeannya semakin membuncah saat melihat adik-adik Kirana yang juga tampak sangat dekat dengan peia tersebut.
"Apa mungkin Kirana memiliki hubungan spesial dengan pria itu..? tapi jika memang benar, kenapa dia baru muncul sekarang..?"
Dennis masih bertanya-tanya tak menentu, sampai akhirnya tanpa sengaja Kirana menoleh kearahnya dan menyadari kehadirannya.
Kirana menyunggingkan senyum sambil berjalan mendekat ke arah Dennis.
"Assalamualaikum mas.. mau jenguk ibu ya..?"
Sala Kirana saat sudah berdiri dihadapan Dennis.
"Waalaikumsalam.. eh, iya.. gimana kondisi ibu kamu..?"
tanya Dennis mencoba bersikap wajar.
"Alhamdulillah, kondisi ibu mulai membaik mas.."
jawab Kirana sambik tersenyum.
"Alhamdulillah.. Reyhan dan Annisa berkali-kali menanyakan kabar kamu dan ibu kamu. terutama Annisa, dia sangat mencemaskan ibu kamu. tapi dia tidak bisa menghubungi ponselmu.."
"Astaghfirullah.. iya mas, kemarin karena dalam keadaan kalut aku sampe lupa bawa charger. ponsel yang dikasih mbak Annisa lowbat.."
jawab Kirana.
"Kalo kamu gak keberatan, kita bisa membeli charger ponselnya sekarang.. mumpung masih sore dan outlet ponsel belum tutup.."
tawar Dennis.
"Gak usah mas.. nanti malah ngerepotin.. Boleh aku pinjam ponsel mas Dennis aja sebentar..?
aku mau kabarin mbak Annisa.."
"Nah itulah masalahnya, aku juga lupa ponselku ada dimana dan sekarang ponsel itu lowbat."
jawab Dennis acuh tak acuh.
"Ya ampun mas.. ponsel itu kan barang yang sangat penting, apalagi ponsel mas Dennis. pasti banyak data-data penting. Mas udah coba cari..? takutnya ponsel itu terjatuh dijalan.."
Ujar Kirana.
__ADS_1
"Gak kok, aku yakin ponselku ada dirumah.. karena malam tadi seseorang sempat menghubungiku gak lama setelah aku tiba dirumah. tapi ya gitu, aku lupa letakin dimana.."
jawab Dennis sambil cengengesan.
"Syukurlah kalau memang mas yakin ponsel itu ada dirumah.."
"Asyik banget ngobrolnya.."
sapa pria yang sebelumnya berbicara dengan Kirana.
Pria itu kini berdiri disamping Kirana, tepat dihadapan Dennis.
"Mas Raffi.. kenalin mas, ini mas Dennis, bos aku.. mas Dennis, ini mas Raffi, lurah didesa kami.."
Dennis dan Raffi saling berjabat tangan dengan sorot mata yang sama tajamnya.
ada aura mencekam saat keduanya saling memperkenalkan diri masing-masing dengan senyuman yang sama sinisnya.
Namun tampaknya Kirana tak menyadari hal itu.
"Nana, mas pamit dulu ya.. dan soal pembicaraan kita tadi, mas tunggu jawaban kamu segera.."
Ujar Raffi sambil tersenyum, kemudian berlalu begitu saja.
*Baru jadi lurah aja lagaknya udah kayak pejabat negara.. Kalo aku mau Walikota juga bisa kulengserkan..
Umpat Dennis dalam hati.
"Mas.. ayo ke ruangan ibu.."
"Gimana kondisinya bu..?"
tanya Dennis saat sudah duduk disamping ranjang pasien.
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik nak Dennis.. terimakasih ya sudah repot-repot menjenguk ibu.."
jawab ibu Kirana sambil tersenyum.
"Wah, kayaknya hari ini ibu sumringah banget yaa.."
Goda Dennis.
"Hari ini banyak yang jengukin ibu mas, makanya ibu senang.. karena ibu merasa banyak orang yang perduli sama ibu.. iya kan bu.."
ujar Kirana yang dibalas anggukan oleh ibunya.
"Iya.. malahan tadi ada pak lurah juga.. padahal kan pak lurah itu kerjaannya pasti banyak, tapi masih sempat-sempatnya jengukin ibu.."
jawab Ibu Kirana.
Dennis merasa risih saat ibu Kirana memuji Raffi.
__ADS_1
*Lurah mah paling banyakan duduk, makan gaji buta
umpat Dennis.
"Oh iya bu, setelah ibu pulih nanti rencananya saya akan bawa ibu sekeluarga ke Kobe. dengan begitu ibu gak perlu jauh dari Kirana, dan ibu bisa bertemu Kirana kapanpun ibu mau.."
Kirana dan ibunya tampak terkejut mendengar perkataan Dennis.
"Kobe..? tapi, Kobe itu dimana ya..?"
tanya ibu Kirana.
"Kobe itu di Jepang bu.. nanti adik-adik Kirana juga bisa melanjutkan sekolah disana. Saya lihat adik-adik Kirana semua cerdas, jadi menurut saya akan sangat baik jika mereka memiliki kesempatan untuk belajar di salah satu sekolah terbaik di Jepang.."
jawab Dennis.
"Emm.. maaf mas Dennis, bisa kita bicara diluar sebentar..?"
tanya Kirana.
"Yaudah.. Bu, aku bicara sama Kirana sebentar ya.."
Kemudian Dennis keluar mengikuti Kirana yang sudah lebih dulu ada diluar.
"Mas.. apa maksud pembicaraan kamu tadi..?
kamu gak bicarakan ini sebelumnya sama aku, kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu sama ibu..?"
tanya Kirana.
"Ya saya rasa lebih baik jika ibu dan adik-adikmu berada didekatmu.."
jawab Dennis acuh.
"Tapi mereka mau tinggal dimana mas..? aku sendiri masih hidup menumpang dengan Tuan Reyhan dan mbak Annisa.. aku gak mungkin bawa mereka kerumah tuan Reyhan.. lagipula keluargaku pasti akan kesulitan tinggal di Kobe, karena mereka tidak memahami bahasa dan budaya Jepang.. Belum lagi biaya hidup disana pasti sangat mahal.."
"Soal itu saya yang akan atur semuanya, dan saya pastikan keluargamu bisa tinggal dengan nyaman di Kobe."
jawab Dennis.
"Tapi mas..."
"Saya tidak menerima penolakan, Kirana. Ini perintah. Jika kamu menolak, saya bisa meminta pihak rumah sakit untuk menghentikan perawatan ibu kamu dan kamu harus membayar biaya operasi ibu kamu.."
Ancam Dennis.
Kirana menarik napas dalam.
"Terserahlah, pasa akhirnya aku gak punya pilihan kan.."
jawab Kirana pasrah.
__ADS_1
*Setidaknya si lurah karbitan itu gak akan tebar-tebar pesona sok penting lagi.
batin Dennis