Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
04. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

"Mas.. Bangun.."


Kirana menguyel pipi suaminya yang sedang terlelap.


"Kenapa sayang?"


Tanya Dennis dengan mata yang masih sedikit terpejam.


"Aku pengen bakso kosong."


Ucapnya sambil tersenyum manja.


"Hah?"


Dennis tampak terkejut.


Diraihnya ponsel di atas nakas, kemudian melihat jam di layar.


"Sayang, sekarang masih jam 1. Besok aja ya mas cariin bakso kosong buat kamu."


Ucap Dennis dengan nada sedikit memohon.


"Tapi aku pengennya sekarang mas.. Kalau kamu gak mau cariin, biar aku pergi sendiri."


Ancam Kirana.


Baru saja Kirana akan turun dari ranjang Dennis langsung melompat bangun.


"Yaudah biar mas cari dulu baksonya."


Ucapnya sambil meraih dompet, ponsel dan kunci mobil.


"Makasih suamiku sayang.. Sweetnya.."


Puji Kirana dengan nada manja sambil mengecup pipi Dennis.


Kesal sih, tapi kalo imut gini gimana bisa marah coba.


Batin Dennis sambil tersenyum sumringah.


"Mas pergi dulu ya."


Setelah berpamitan pada Kirana Dennis bergegas pergi.


"Oke, sekarang waktunya berpikir. Cari bakso kosong di Jepang tengah malam begini, sampe Goku jadi hokage juga mustahil.


Kecuali.."


Dennis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gak lucu kan balik ke Indonesia cuma buat beli bakso kosong doang terus balik lagi kesini. Yasalam. Ternyata menghadapi satu orang wanita lebih melelahkan daripada menghadapi sepuluh orang bos mafia."


Dennis menghentikan mobilnya sesaat untuk berpikir, tepat didepan mini market yang masih buka.


"Beli bakso kosong di Jepang tengah malam begini emang mustahil. Tapi, kalo buat sendiri mungkin bisa."


Gumam Dennis sambil tersenyum.


Setelah membeli daging sapi mentah dan beberapa bahan yang diperlukan Dennis bergegas kembali ke apartemennya.


"Sekarang, tinggal cari tutorialnya di sosial media."

__ADS_1


Akhirnya Dennis berjibaku di dapur dengan bermodalkan bahan seadanya dan tutorial dari sosial media.


"Dennis, kamu ngapain didapur jam segini?"


Tanya Ibu yang baru saja selesai melaksanakan sholat tahajud.


"Kirana ngidam bakso kosong bu. Jam segini mustahil ada resto yang buka dan menjual menu itu. Apalagi ini di Jepang. Jadi aku pikir lebih baik membuatnya sendiri."


Jawab Dennis.


"Ya ampun, kasihan banget kamu. Yaudah sini ibu bantuin."


"Gak usah bu, lagian udah mau selesai kok. Ibu lanjut tidur aja."


Tolak Dennis dengan halus.


"Yasudah, kalau begitu ibu tinggal ya."


"Iya bu."


Jawab Dennis yang masih fokus dengan masakannya.


"Dennis, terimakasih banyak ya."


Ucap ibu sambil menatap Dennis dengan tatapan teduh.


"Makasih untuk apa bu?"


Tanya Dennis.


"Untuk semua kebaikan kamu terhadap keluarga ibu, terutama kepada Kirana. Ibu minta maaf ya, jika selama ini keluarga ibu banyak merepotkan kamu."


Jawab Dennis sambil tersenyum tulus.


"Dennis, ibu titip Kirana ya. Tolong jaga dia. Ibu percaya dia pasti akan bahagia jika bersama kamu."


"Insyaa Allah bu, kita sama-sama jaga Kirana ya. Apalagi sebentar lagi ibu akan mendapatkan cucu pertama, kebahagiaan keluarga kita akan semakin lengkap."


Ibu Kirana hanya mengangguk.


"Bu, besok kita ke rumah sakit ya. Cek kandungan Kirana. Udah masuk bulan ke empat. Setelah itu kita akan melihat rumah baru yang akan kita tempati.


Disini kan ibu tahu sendiri, apartemennya bertingkat. Aku gak tega melihat Kirana yang harus naik turun tangga setiap hari."


"Yasudah, kalau begitu ibu kembali ke kamar ya nak Dennis. Jangan lupa pesan ibu tadi, ibu titip Kirana sama kamu ya."


Kemudian Ibu Kirana kembali ke kamarnya.


Pukul tiga dini hari, akhirnya Dennis selesai berperang dengan perkakas dapur.


"Kalau mengikuti tutorial sih rasanya semua udah oke."


Gumam Dennis sambil mencicipi sedikit kuah bakso untuk memastikan rasanya.


"Wah, kayaknya sekarang lebih baik aku alih profesi jadi cheff aja kali ya."


Gumamnya sambil menata bakso kosong di dalam mangkuk.


Setelah semuanya selesai Dennis membawanya ke kamar dan melihat Kirana yang sudah tertidur.


Dennis meletakkan bakso tersebut diatas nakas kemudian duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Sayang, bangun. Ini mas udah bawain baksonya."


Ucap Dennis dengan lembut sambil mengusap pipi Kirana.


Kirana menggeliat sejenak kemudian menatap jam di dinding kamar, pukul tiga pagi.


"Kok lama banget mas?"


Tanya Kirana.


"Sayang, di Jepang cari restoran yang jual bakso kosong itu mustahil."


Jawab Dennis sambil meraih mangkuk bakso diatas nakas.


"Nih kami coba dulu."


Dennis menyuapkan bakso kosong tersebut pada Kirana.


"Gimana, enak?"


Tanya Dennis.


"Emm.. Lumayan sih, tapi sedikit kurang garam."


Jawab Kirana.


Dennis menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum sumringah.


"Ini pertama kalinya loh mas masak."


Ucapnya.


"Hah? Maksudnya ini baksonya mas masak sendiri?"


Tanya Kirana seolah tak percaya.


Dennis mengangguk sambil kembali menyuapkan bakso kosong tersebut.


Kirana tertawa sumringah.


"Ya Allah, kasihannya suami aku sampai penat masak. Maaf ya sayang."


Ucap Kirana sambil mengusap pipi Dennis.


"Sayang, besok-besok ngidamnya jangan yang aneh-aneh lagi ya. Please..."


Ucap Dennis memohon.


"Mas, yang pengen itu anak kamu yang didalam sini loh. Kata orang tua dulu kalo gak keturutan ngidamnya nanti anaknya ileran. Emang kamu mau nanti anak kita ileran?"


Lagi-lagi Dennis menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Makasih ya mas, karena selama ini mas sudah berusaha jadi suami siaga untukku dan anak kita."


Ucap Kirana dengan tulus.


"Karena itu adalah tanggung jawab mas sebagai suami kamu. Dan mas melakukan itu dengan ikhlas.


Karena kamu dan anak kita, adalah hal terpenting dalam hidup mas. Kalian adalah prioritas mas."


Jawab Dennis sambil tersenyum tulus.

__ADS_1


__ADS_2