
Pagi itu setelah selesai sholat subuh, Annisa menuju dapur.
Seperti biasa, dia akan melakukan rutinitasnya memasak untuk suami tercinta.
Ibu mertuanya sudah kembali ke Jerman malam tadi. Ayah mertuanya juga sudah berangkat ke Amerika. Sedangkan Reyna akan kembali ke London pagi ini.
Saat tiba didapur, ternyata sudah ada orang lain disana.
Dan dia adalah Kirana.
"Kirana..? Kamu udah bangun..?"
Sapa Annisa sambil duduk di meja makan.
"Iya mbak.. biasanya waktu dikampung sehabis subuh aku buatin sarapan untuk ibu dan adik-adikku sebelum berangkat kerja.."
jawab Kirana sambil tersenyum.
"Oh.. Yaudah, aku bantu ya.."
"Gak usah mbak.. mbak duduk aja, biar aku yang masak.. lagipula aku juga bingung harus melakukan apa dirumah sebesar ini.. aku juga tidak bisa berkomunikasi dengan ART yang lain.. mbak tahu sendiri kan, aku tidak bisa bahasa asing.."
Kirana tampak tersipu.
"Kirana.. aku juga sama sepertimu.. aku juga tidak bisa berbahasa asing.. sebelum mama, papa dan Ina tiba disini, satu-satunya yang bisa kuajak bicara hanya O-bachan.. sedangkan Mas Rey, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.."
Ujar Annisa.
"Mbak juga..?"
Kirana tampak tak percaya.
"Makanya aku senang banget ada kamu disini.. setidaknya aku punya teman untuk bicara.."
jawab Annisa.
Annisa berniat membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Namun baru saja berdiri, kepalanya terasa berat.
Dan tiba-tiba...
BRUKKK
Annisa ambruk dilantai.
"Astaghfirullah mbak... Mbak Annisa kenapa..?"
Kirana tampak sangat panik.
Kirana berteriak meminta tolong.
"Tolongg... sipapun tolong..!!"
Reyhan yang saat itu sedang menuju lantai satu terkejut mendengar teriakan seseorang yang meminta tolong.
Reyhan bergegas menuju sumber suara.
Dan betapa terkejutnya saat dia melihat istrinya tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Astaghfirullah.. sayang.. kamu kenapa..?"
Tanpa berpikir panjang Reyhan langsung memapah istrinya.
Bahunya terasa perih dan ngilu, namun dia mengabaikannya.
Baginya wanita ini jauh lebih penting.
Reyhan membawa Annisa kekamar disusul oleh Kirana yang membawa minyak angin.
Reyhan segera menghubungi Dennis dan memintanya untuk datang bersama Dokter dan memeriksa keadaan Annisa.
Tanpa dia sadari, luka dibahunya kembali berdarah dan darah itu mengenai baju koko berwarna putih yang dikenakannya.
"Astaghfirullah.. Tuan reyhan, maaf.. itu bahunya kenapa..?"
Tanya Kirana saat melihat noda darah di bahu Reyhan.
Reyhan baru menyadarinya, kemudian meminta Kirana untuk merahasiakan ini.
"Tolong jangan bilang apapun pada istriku. Ini hanya luka kecil."
jawabnya.
Tak lama kemudian Dennis tiba bersama Dokter yang akan memeriksa kondisi Annisa.
"Den.. tolong kamu temani dulu mereka, aku akan segera kembali.."
Kemudian Reyhan pergi meninggalkan Dennis bersama Kirana dan Annisa.
Tanya Dokter yang memeriksa keadaan Reyhan
"Situasinya mendesak Dok.."
jawab Reyhan.
"Jika seperti ini terus anda bisa kehilangan tangan anda.. Anda harus paham luka ini bukanlah luka kecil."
Omel dokter.
"Maaf Dok.."
Hanya itulah kata yang bisa diucapkan Reyhan.
Saat ini pikirannya justru terfokus dengan istrinya.
Bagaimana keadaannya?
apakah dia baik-baik saja?
Bagaimana jika dia sadar dan tidak menemukanku disampingnya?
Pikiran Reyhan berkecamuk hebat.
"Ini terakhir kali saya mengingatkan. Jika Anda masih tetap seperti ini, saya akan lepas tangan."
Ancam dokter tersebut sambil menjahit kembali luka di bahu Reyhan.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu di kediaman O-Bachan.
"Bagaimana kondisi cucu saya Dokter..?"
Tanya O-Bachan yang saat itu sudah berada di kamar Reyhan dan Annisa.
"Dia kelelahan nyonya. Kemarin saya sudah menyarankan agar dia istirahat total. Kondisi kandungannya sangat lemah. Saya sudah meresepkan obat dan vitamin yang harus dia minum. apakah dia masih minum obatnya..?"
"Iya Dokter, dia masih meminumnya.."
"Baiklah nyonya, sebaiknya untuk sementara biarkn di istirahat total. dan tolong makanannya juga dijaga.."
"Baik Dokter.."
Jawab O-Bachan..
"Nenek.. apakah mbak Annisa sedang mengandung..?"
Tanya Kirana saat Dokter kandungan sudah pergi.
"Ya.. itulah sebabnya dia disini.. Reyhan bilang istrinya ingin melahirkan anaknya dirumah ini.. Karena Reyhan juga dilahirkan disini.."
Jawab O-Bachan.
"Nenek istirahat saja, biar aku yang menjaga mbak Annisa.."
Ucap Kirana.
tak lama kemudian Dennis kembali setelah mengantarkan Dokter ke depan pintu.
"Kau siapa..?"
Tanya Dennis yang baru menyadari keberadaan Kirana.
"Saya.. saya Kirana Tuan.. Kemarin, Mbak Annisa dan Tuan Reyhan menolong saya.."
Kirana tampak sungkan saat berhadapan dengan Dennis.
Bukan tanpa alasan, karena ekspresi Dennis yang tampak dingin dan sorot matanya yang tajam, tentu saja membuat orang lain merasa canggung.
"Oh.. jadi kau yang bernama Kirana.."
"I-iya Tuan.."
jawab Kirana.
"Baiklah nona Kirana, alu titip Annisa. tolong jaga dia sampai Reyhan kembali.."
Kemudian Dennis keluar dari kamar.
Dan kini hanya ada Kirana yang sedang menemani Annisa yang masih belum siuman.
"Kirana.. nama yang bagus.."
Gumam Dennis.
__ADS_1