
"Pak Edo.. apa maksud gambar itu..?"
tanya Reyhan dengan gusar saat telepon telah tersambung.
"Itulah yang sedang saya cari tahu pak. tadi waktu saya akan menuju kerumah Bapak, Wahyu meminta
saya menyampaikan surat itu kepada Bapak. dia bilang surat itu titipan dari seorang wanita."
Jawab Pak Edo.
"Wanita..?
Pak Edo, minta Kepala Staff Keamanan membuka rekaman CCTV, kita harus cari tahu siapa wanita itu. Aku akan segera ke kantor. Dan tolong batalkan meeting hari ini."
Titah Reyhan.
"Baik Pak, kalah begitu untuk lebih detailnya bisa kita bicarakan dikantor. Saya juga sedang dalam perjalanan kembali kekantor. Sebelumnya saya minta maaf pak, karena telah lancang membuka surat anda.."
jawab Pak Edo.
"Sayang.. Mas minta maaf, Mas harus kekantor sekarang.. ada hal penting.."
Ucap Rryhan pada Annisa yang masih terlihat bingung.
"Yaudah.. gak apa-apa kok.. lagian Mas kan pimpinan, pasti ada hal-hal penting dikantor yang memang harus mas tangani langsung."
jawab Annisa.
Denis tengah berbincang dengan bi Minah saat notifikasi ponselnya berbunyi.
satu pesan masuk dari Pak Edo.
Dennis langsung membukanya, dan sangat terkejut melihat isinya.
Nyaris saja Dennis kelepasan mengatakannya pada Reyhan, namun Reyhan langsung memberi isyarat telunjuk di bibirnya.
"Pak Edo bilang ada masalah penting. aku harus kekantor sekarang. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan Den.."
"Aku bisa handle semuanya Bos.. sebaiknya temani Annisa dirumah, bukannya tadi Annisa memintamu memasak..?"
Dennis mengerling ke arah Reyhan.
"Kalo emang ada hal penting yang harus ditangani dikantor aku gak apa kokk.."
Ucap Annisa yang sejak tadi berada dibelakang suaminya.
"Oh, gak.. ini bukan masalah genting kok.. hanya urusan kecil.. Bagi Reyhan, kamulah yang terpenting. dan memang sudah seharusnya Reyhan menjaga dan menemani kamu.."
Jawab Dennis.
"Emm.. iya, sepertinya Dennis cukup bisa diandalkan kali ini sayang.."
Sambung Reyhan yang tampaknya mulai mengerti maksud Dennis.
"Mas yakin..?"
Tanya Annisa.
"Yaa.. sebaiknya kita lanjutkan memasak sayang, biar Dennis yang mengurus semuanya.."
Kemudian Reyhan merangkul bahu istrinya dan menggiringnya kembali ke dapur.
Dennis mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Reyhan.
"Biar aku handle masalah surat itu, jaga Annisa. kita tidak tahu apa rencana si tua bangka itu saat ini."
Reyhan memasukkan ponselnya ke saku setelah membaca pesan dari Dennis.
"Sayang.. kayaknya Mas pengen ke suatu tempat.."
Ujar Reyhan.
"Kemana..?"
__ADS_1
tanya Annisa. heran.
"tiba-tiba mas ingin pulang ke Kobe.."
Jawab Reyhan.
Annisa mengernyitkan kening.
"Mas rindu *o-bachan.."
(*Sebutan Nenek dalam bahasa jepang)
Ibu dari Tuan Restu Arbiantoro (Ayah Reyhan) adalah wanita keturunan Jepang asli, dan pewaris tunggal dari bisnis keluarga secara turun temurun yang saat ini dikelola oleh tuan Restu. Sejak Suaminya (kakek Reyhan) meninggal dalam kecelakaan, Nenek Reyhan kembali ke negaranya dan menetap di Kobe. Bahkan Reyhan juga dilahirkan dan pernah menikmati masa kecil di Kobe sebelum ayah dan ibunya memboyong mereka ke Indonesia.
"Hemm.. kalo dipikir-pikir, aku juga baru ketemu o-bachan satu kali, saat kita menikah.."
"Jadi,, bisa kan kita pergi..?"
Bujuk Reyhan.
"Yaudah.. nanti setelah semua urusan kuliah selesai, kita liburan ke Kobe.. aku juga ingin melahirkan anak kita disana Mas.."
jawab Annisa.
Reyhan menggeleng.
"Mas ingin kita pergi hari ini juga.."
Ujar Reyhan sambil memeluk Annisa.
"Hari ini..?"
Annisa terbelalak.
Reyhan sangat paham dengan sikap istrinya.
"Please.."
Reyhan mmasang wajah memelas sambil menyatukan kedua tangannya.
untuk sementara kamu tetap bisa mengikuti jadwal dan materi kuliah secara online..
jadi mas rasa gak ada masalah dengan itu.."
Annisa semakin bingung melihat tingkah suaminya.
tak biasanya dia menginginkan sesuatu sampai seperti itu.
bahkan jadwal dan materi kuliah secara online..?
Annisa terdiam sambil menatap Reyhan.
"Sayang..."
Reyhan melambaikan tangannya didepan wajah Annisa.
"Emm.. Mas.. apa itu gak terlalu berlebihan..?"
Tanya Annisa.
Reyhan menggeleng.
"Pokoknya mas ingin kita ke Kobe hari ini juga..
Kita akan berangkat dengan Jet pribadi milik papa, tadi mas udah minta pak Bambang mepersiapkan semuanya termasuk dokter kandungan dan beberapa perawat."
"Mas.. kamu aneh hari ini.."
Ujar Annisa.
Reyhan mengecup kening Annisa, kemudian berlari menuju kamar.
"Mas packing dulu.."
__ADS_1
Ucapnya.
Annisa hanya memandang punggung suaminya dengan perasaan bingung.
Bukan tanpa alasan Reyhan tiba-tiba meminta kembali ke Kobe.
karena kota itu adalah salah satu daerah kekuasaan Yakuza.bahkan *Yamaguchi-Gumi yang merupakan kelompok yakuza terbesar bermarkas di Kobe.
Reyhan merasa akan lebih aman jika Annisa berada disana. Terlebih lagi di kediaman keluarga O-bachan.
setelah selesai packing, Reyhan menghubungi Pak Burhan untuk membicarakan jadwal perkuliahan yang akan diikuti oleh Annisa secara online.
Jika dia bukanlah pewaris dari ReRe Coorporation dan pemilik saham terbesar dikampus itu tentu itu adalah hal yang mustahil.
Setelah berbincang selama beberapa saat dengan Pak Burhan dan menyelesaikan urusannya, Reyhan langsung menarik tiga buah koper besar dari kamar menuju lantai satu.
"Mas... kamu serius..?"
Tanya Annisa saat berpapasan dengan Reyhan di tangga.
"Mas serius sayang.. kita berangkat malam ini juga.."
jawab Reyhan mantap.
Annisa meraih lengan suaminya, dan menariknya ke sofa.
"Mas.. tolong jelaskan, ada masalah apa sebenarnya..?"
tanya Annisa.
"Masalah..?
Gak ada apa-apa sayang.. Mas cuma merasa rindu dengan tanah kelahiran mas.."
jawab Reyhan.
Annisa menatap mata suaminya, seolah mencari kejujuran disana.
"Mas.. aku ini istrimu.. mungkin, kamu bisa membohongi orang lain tapi tidak denganku..
sorot matamu menyiratkan kecemasan, kekhawatiran..
apa terjadi sesuatu yang buruk..?
apakh ada penyerangan lagi seperti waktu itu..?"
Tanya Annisa.
Reyhan tertegun.
Bagaimana mungkin dia bisa mengatakannya.
situasi ini terlalu sulit untuk dipahami oleh Annisa yang selama ini hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Bagaimana mungkin dia sanggup mengatakan bahwa bahaya mengincar nyawanya dan calon anaknya setiap saat.
Tidak, dia tidak mungkin bisa mengatakannya.
Dia sangat memahami jalan pikiran Annisa.
Selain itu, dia juga belum sanggup mengatakan hal yang sebenarnya.
akan sangat berbahaya bagi Annisa jika dia mengetahui semuanya dalam situasi ini.
"Mas..."
Annisa mengguncang bahu Reyhan yang sejak tadi hanya diam mematung.
Reyhan menangkupkan kedua tangannya diwajah Annisa, kemudian dia mengecup lembut kening istrinya.
"Sayang.. kamu hanya perlu tahu bahwa Mas akan selalu melindungi kamu, dan anak kita.. kamu percaya kan sama mas.."
Reyhan menatap Annisa dengan tatapan teduhnya.
Annisa mengangguk, kemudian memeluk Reyhan.
__ADS_1
"Yaudah, aku akan ikut kemanapun mas pergi.."
Ucapnya.