Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
79. Merindukanmu


__ADS_3

Hari menjelang subuh, saat Annisa terbangun dari tidurnya.


Saat dia membuka mata, dilihatnya ibu mertuanya yang setia menemaninya bahkan sampai tertidur di sofa.


Sedangkan adik iparnya, tampak masih terlelap di lantai beralaskan bed cover.


"Ya Allah.. Kasihan mama sama Ina.. mereka pasti lelah menjagaku.."


gumam Annisa.


Annisa berniat untuk bangun. Namun suara gesekan selimut tebalnyamembangunkan Bu Nirmala.


"Nisa.. Kamu mau ngapain..?"


Bu Nirmala mencoba membantu Annisa.


"Nisa mau ke toilet ma.."


Jawab Annisa.


"Yaudah, sini mama bantu.."


"Tapi ma..."


"Gak ada tapi.."


Tegas Bu Nirmala.


Akhirnya Annisa mengalah.


Setelah selesai membersihkan diri, Annisa menjalankan sholat Subuh bersama ibu mertuanya.


Dia tak tega membangunkan Reyna yang tampak lelah.


"Ma.. Apa Mas Rey belum ada telfon..?"


Tanya Annisa setelah selesai sholat.


Bu Nirmala terdiam sejenak.


"Emm.. Iya, tadi malam Rey telfon.. tapi karena kamu udah tertidur pulas, Rey minta mama untuk gak bangunin kamu.. Mungkin nanti Rey telfon lagi.."


Jawab Bu Nirmala.


*Ya Allah.. semoga anakku segera siuman


Batinnya


"Aku coba telfon deh.."


Annisa meraih ponselnya diatas nakas.


Bu Nirmala tampak merasa cemas..


"Alhamdulillah tersambung bu.."


Annisa tampak berbinar, sedangkan Bu Nirmala justru tampak bingung.


"Tapi kok gak diangkat yaa.."


Gumam Annisa.


saat Annisa akan menghubungi kembali, ternyata Reyhan menghubunginya lebih dulu.


"Ma.. Mas Rey telfon..."


Annisa semakin terlihat berseri, Namun Bu Nirmala justru semakin bingung.


"Assalamualaikum Mas.."


Sapa Annisa setelah menerima panggilan telfon dari Reyhan


"Wa-Wa'alaikumsalam.. Sayang.. Maaf ya, Mas..Beberapa hari ini.. Mas terlalu sibuk. Mas.. Mas nyaris gak ada waktu.."


Suara Reyhan terdengar parau dan terpatah-patah.


Annisa berusaha menahan tangisnya.


Kecemasan dan rasa takut yang sempat menghantuinya perlahan sirna, digantikan dengan rasa rindu yang sangat dalam pada kekasih halalnya.

__ADS_1


*Alhamdulillah ya Allah... Reyhan udah sadar


Batin Bu Nirmala yang mendengar percakapan Annisa dan Reyhan di telfon.


"Mas.. Kapan pulang..?"


Rengek Annisa.


"Secepatnya sayang, setelah semua urusan mas disini selesai.."


Jawab Reyhan


"Mas dimana sekarang..?"


Tanya Annisa.


"Mas di Busan sayang.. ada beberapa urusan.."


"Busan..? Tapi mama bilang Mas ke New York..?"


Annisa mengernyitkan kening.


"emm.. I-Iya.. Habis dari New York, Mas langsung ke Busan.. Mas lupa kabarin mama.."


Jawab Reyhan sedikit gugup.


"Mas.. Kerja sih kerja.. tapi kesehatan juga diutamakan.. Mas kebiasaan deh kalo udah soal kerjaan, lupa segalanya. Sampe-sampe istri sendiri juga dilupain.."


Omel Annisa


"Iya Istriku tersayang.. Mas baik-baik aja kok disini.. Mas cuma sedikit lelah.."


"Mas hati-hati disana.. Ingat, jaga iman, jaga mata dan jaga hati.. disini ada Annisa, satu-satunya istri yang selalu setia menunggu Mas pulang.."


Ujar Annisa.


Reyhan tergelak mendengar ucapan Annisa.


"Di mata dan hati mas, cuma kamu satu-satunya bidadari yang akan jadi pendamping mas Insya Allah sampe surga.."


"Mulai tuh gombalnya.."


Gumam Annisa


Ucap Reyhan tulus.


"Nisa juga rindu Mas.. jangan lama-lama ya disana.."


Jawab Annisa dengan manja.


"Iya sayang.. setelah semua urusan Mas selesai, mas akan teleportasi dari Busan ke Kobe.."


jawab Reyhan seloroh.


"Hemm.. awas loh kalo lama, ntar Nisa susulin Mas ke Busan.."


Ancam Annisa sambil tertawa sumringah.


"Yaudah, Mas tutup dulu telfonnya sayang.. Kamu baik-baik ya disana.. I Love U my zaujati.."


"I Love U more my zauji.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Kemudian Reyhan mematikan ponselnya.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Satu jam sebelumnya, dirumah sakit


Reyhan mulai sadar. Dilihatnya sekeliling, ruangan ber cat putih. Tempat ini terasa asing baginya.


"Aku dimana.."


Gumamnya.


"Alhamdulillah Rey, kamu udah sadar.."


Tuan Restu dan Dennis yang menemani Reyhan diruang rawat inap tersebut tampk lega.

__ADS_1


Dennis segeea memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Reyhan.


"Aku dimana pa..?"


Tanya Reyhan.


"Kamu di rumah sakit Rey.. Kemarin kamu tertembak.."


Jawab Tuan Restu


"Kosasih.. gimana dengan Kosasih pa..? Apa dia berhasil melarikan diri..?"


Tuan Restu menggeleng.


"Hampir saja, tapi Dennis berhasil menembakkan peluru terakhirnya dan tepat mengenai kepala Kosasih. Dia tewas ditempat."


Jawab Tuan Restu.


"Dan sekarang semuanya udah selesai Rey.."


Sambung Dennis yang datang bersama seorang dokter dan perawat.


"Masih belum Den.."


Tiba-tiba wajah Reyhan tampak suram.


Dennis tampaknya mengerti apa yang membuat Reyhan tampak gusar.


"Bos.. Cepat atau lambat kau harus menceritakan yang sebenarnya pada Annisa.


Meski si tua bangka itu sudah tewas, tapi tidak menutup kemungkinan Annisa bisa saja mengetahuinya dari orang lain.."


Saran Dennis.


"Astaghfirullah.. Nisa... Den, Annisa gimana..?"


Reyhan tampak panik, hingga hampir saja mendorong perawat pria yang sedang mengganti perban di bahunya.


"Annisa aman bos.. Aldo yang menjaga mereka selama kita pergi."


"Alhamdulillah.."


Reyhan menarik napas lega.


"Dok, kapan saya bisa keluar dari sini..?"


Tanya Reyhan pada Dokter yang menanganinya.


Dokter tersebut mengernyitkan kening.


"Segera, setelah luka anda membaik.."


Jawab Dokter tersebut.


"Apa saya gak bisa keluar hari ini juga Dok..?"


Tanya Reyhan lagi.


"Maaf Pak, tapi kondisi anda belum memungkinkan.


Anda harus dirawat selama beberapa hari untuk memulihkan luka di bahu anda.


Dan jangan menyetir atau melakukan pekerjaan yang berat untuk sementara setidaknya sampai jahitannya mengering."


Titah Dokter.


Setelah Dokter pergi, Reyhan tampak uring-uringan.


Diraihnya ponsel diatas nakas untuk menghubungi seseorang, namun ternyata ponselnya mati.


"Den.. pinjam ponsel dong.."


Dennis yang menyadari ponsel Reyhan lowbat, bukannya memberikan ponselnya Dennis justru memberikan charger ponsel.


"Lebih baik kau charge ponselmu. Aku yakin Annisa sangat cemas sekarang."


saran Dennis


Reyhan menerima charger tersebut kemudian mencolokkannya.

__ADS_1


__ADS_2