
Malam itu selepas isya, Annisa mulai membongkar lemarinya dan mengambil beberapa potong pakaian yang akan diberikan kepada Kirana.
"Sayang.. Kamu ngapain..?
Untuk apa semua baju-baju ini..?"
Tanya Reyhan yang baru saja tiba dan merasa heran melihat apa yang dilakukan istrinya.
"Eh, mas udah pulang.. Capek ya abis nge gym..?"
Tanya Annisa.
Sore itu Reyhan pergi dari rumah bersama Dennis dengan alasan nge gym, Padahal sebenarnya dia pergi ke rumah sakit untuk check up.
"Emm.. ya, sedikit.."
jawab Reyhan sedikit canggung.
"Baju-baju ini untuk apa sayang..?
Jangan bilang kamu mau pergi.."
Reyhan tampak serius.
Annisa berdiri di hadapan Reyhan, kemudian meletakkan tangannya di dada Reyhan.
"Gimana mungkin Nisa pergi Mas.. Rumah Nisa ada disini.."
Jawab Annisa.
Reyhan tersenyum mendengar jawaban Annisa.
"Istri mas sekarang udah pinter gombal yaa.."
Ledek Reyhan.
"Kan belajar dari ahlinya.."
Jawab Annisa sambil tersenyum.
"Jadi untuk apa baju-baju ini..?"
tanya Reyhan.
"Untuk Kirana mas.. gak apa kan kalo sementara ini dia tinggal dengan kita..?"
Tanya Annisa.
Reyhan mengangguk.
"Mas.. boleh Nisa minta sesuatu..?"
Tanya Annisa lagi.
"Kamu mau minta apa sayang..?"
"emmm.. Ini soal Kirana mas.."
Jawab Annisa.
"Kenapa dengan Kirana..?"
__ADS_1
Tanya Reyhan sambil mengernyitkan kening.
Annisa menceritakan kejadian yang menimpa Kirana kepada Reyhan.
"Astaghfirullah.. Kasihan dia.."
Ujar Reyhan.
"Mas.. Boleh gak kalo Kirana ikut pulang bareng kita ke Indonesia dan kerja sama kita aja..?
Toh Bi Minah juga mau pulang kampung kan.."
Annisa memelas.
"Bi Minah mau pulang kampung..?
Kok Mas gak tau itu..?"
Tanya Reyhan.
"Iya Mas.. Alhamdulillah, dari hasil gaji Bi Minah selama ini akhirnya berhasil buka usaha kecil-kecilan dan dikelola oleh anak Bi Minah dikampung.. Karena usahanya mulai maju, anak Bi Minah minta Bi Minah untuk berhenti kerja dan kembali ke kampung.."
Jawab Annisa.
"Alhamdulillah.. Kalo gitu Mas serahin semuanya sama kamu sayang.. yang jadi ratu dirumah itu kan kamu.."
Ujar Reyhan sambil tersenyum dan mengelus kepala Annisa.
"Bener Mas..? Jadi Kirana boleh kerja sama kita kan..?"
wajah Annisa tampak berbinar.
"Iya sayang..."
Setelah merapikan beberapa pakaian Annisa membawanya dengan keranjang menuju kamar Kirana.
"Assalamualaikum Kirana.. Ini baju-bajunya.. dan ini juga ada mukenah sama sajadah.. kamu pake aja yang nyaman menurut kamu.."
Sapa annisa sambil menyodorkan keranjang yang dibawanya.
"Waalaikumsalam.. waduh, aku jadi ngerepotin ya mbak.."
Kirana menerima keranjang yang disodorkan Annisa.
"Gak ngerepotin kok..
Emm.. Kirana.. Boleh kita bicara sebentar..?"
Tanya Annisa.
"Iya boleh kok mbak.."
Kemudian Annisa duduk di sofa, diikuti oleh Kirana.
"Ada apa ya mbak..?"
Tanya Kirana ingin tahu.
"Begini Kirana.. aku udah bicara sama Mas Rey..
Kami bermaksud menawarkan kamu untuk bekerja dengan kami.. Kebetulan salah satu ART dirumah kami pulang kampung.. Tapi itupun kalo kamu gak keberatan.."
__ADS_1
"Alhamdulillah... Mbak.. makasih banyak mbak..
Iya aku bersedia kok mbak.. yang penting aku bisa bekerja yang halal untuk bantu keluarga.."
Wajah Kirana tampak berbinar.
"Alhamdulillah.. Dan kalau kamu perlu sesuatu, kamu jangan sungkan ya.. nanti dirumah juga ada Bi Ijah dan ART lain.. Mereka pasti akan sangat senang menerima kedatangan kamu.."
"Iya mbak.."
Jawab Kirana.
Saat akan merapikan pakqian yang diberikan Annisa, Kirana terisak.
"Kirana.. Kamu kenapa..?"
Tanya Annisa.
Kirana menggeleng sambil mencium sajadah yang diberikan Annisa.
"Aku malu sama Allah mbak.."
Isaknya.
"Malu kenapa..?"
Tanya Annisa.
"Sebelum tiba disini, aku juga sama seperti mbak.. aku juga mengenakan hijabku, bahkan sejak aku masih kecil. Almarhum ayah selalu berpesan, jika satu langkah saja wanita keluar dari rumah tanpa menutup auratnya maka satu langkah juga dia mendorong ayahnya menuju pintu neraka..
Tapi setelah disini, Aku dipaksa membuka hijab..
Bahkan temanku membuang semua pakian yang aku bawa dan menggantinya dengan pakaian yang terbuka.. Aku benar-benar malu mbak.. Tapi aku terpaksa.. Aku gak sanggup membayangkan bagaimana ayah akan disiksa dengan keadaanku yang sekarang.. Aku benar-benar..."
Kirana tercekat.
Annisa dengan sigap langsung memeluk Kirana dan membawanya duduk di sofa.
"Kirana.. Allah itu Maha Mengetahui.. Allah tahu itu bukan keinginan kamu.. dan Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang.. Apa yang terjadi pada kamu saat ini bukanlah kesalahan kamu.. Tapi, ini adalah ujian yang harus kamu lewati.."
"Tapi ini berat mbak... sangat berat.. terkadang aku sendiri merasa aku tidak mungkin mampu melewatinya.. Pernah aku berpikir untuk mengakhiri hidupku.. Tapi tiba-tiba wajah ibu dan adik-adikku terlintas dibenakku.. Hanya karena merekalah aku bertahan sampai saat ini mbak.."
"Kirana.. Allah yang lebih tahu batas kemampuan kita. dan Allah memberikan ujian ini untuk kamu, karena Allah sayang kamu.. Dan Allah tahu kamu mampu melewatinya..kamu tahu Kirana..?
Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.."
Kirana menatap Annisa, kemudian tersenyum.
"Mbak benar.. Allah sayang aku.. setidaknya sampai saat ini marwahku sebagai seorang wanita masih terjaga.. Aku benar-benar takut mbak.. Kalau aja aku gak ketemu mbak dan mas Reyhan, mungkin sekarang hidupku sudah hancur sehancur-hancurnya mbak.."
"Kirana.. Allah itu sesuai dengan sangkaan hambaNya.. Jika kita berprasangka baik pada Allah, dan kita yakin dengan pertolongan Allah, pertolongan itu bisa datang darimana saja. Bahkan meskipun kita berpikir itu adalah hal yang mustahil terjadi.."
"Iya mbak.. aku benar-benar bersyukur karena Allah memberikan pertolonganNya melalui wanita berhati mulia seperti mbak.. Suami mbak sangat beruntung, memiliki istri seperti mbak.."
Annisa tersenyum.
"Justru aku yang beruntung Kirana.. memiliki suami yang soleh dan penyayang seperti Mas Rey..
Dan mudah-mudahan, kelak kamu juga dipertemukan dengan laki-laki soleh yang menyayangi kamu juga keluarga kamu.."
"Aamiin... semoga aja ya mbak.."
__ADS_1
Kirana tersenyum tulus.