Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
09. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

Tampak Kirana tersungkur di lantai. Wajahnya pucat, suhu tubuhnya tinggi.


Dennis langsung menggendong tubuh istrinya dan merebahkannya di ranjang pasien, kemudian bergegas memanggil Dokter.


"Tsuma wa dō narimashita ka?"


(Apa yang terjadi pada istriku?)


Tanya Dennis saat Dokter selesai memeriksa keadaan Kirana.


"Kanojo wa mada akanbō o ushinatte odoroita. Anata wa kare ni seishinkai to hanasu jikan o ataerubekidesu."


(Dia masih terkejut karena kehilangan janinnya. Sebaiknya anda berikan dia waktu untuk berbicara pada psikiater.)


"Daijōbu, isha."


(Baiklah, Dokter)


"Dennis, apa kata dokter?"


Tanya Ibu Kirana.


"Dokter bilang Kirana masih syok karena kehilangan janinnya. Kita perlu membawa dia ke psikiater."


Jawab Dennis.


"Psikiater? Tapi Dennis, Kirana tidak gila.. Dia hanya belum bisa menerima kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya."


"Bu.. Orang-orang yang pergi ke Psikiater, belum tentu mereka adalah orang gila. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mengalami trauma psikis seperti yang di alami Kirana. Percayalah bu.. Aku suaminya, dan aku juga berharap yang terbaik untuk Kirana."


Jawab Dennis.


Akhirnya ibu Kirana mengalah.


"Baiklah, terserah nak Dennis saja. Tapi ibu mohon, tolong jaga Kirana ya nak Dennis. Biar bagaimanapun juga sekarang dia adalah tanggung jawab kamu."


Dennis mengangguk.


Tak lama kemudian Annisa dan Reyhan tiba di rumah sakit. Mereka mendengar kabar tentang Kirana dan langsung bergegas mwnuju ke rumah sakit.


"Den, gimana kondisi Kirana?"


Tanya Annisa begitu mereka tiba.


Dennis menjelaskan kepada Reyhan dan Annisa situasi yang sedang dia hadapi.


"Sekarang aku benar-benar bingung.. Aku gak tahu lagi harus gimana.."


Dennis terduduk sambil bersandar di tembok dan menutup wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Reyhan dan Annisa yang melihat situasi ini merasa iba pada Dennis dan berniat membantunya. Apalagi selama ini Dennis adalah salah satu teman yang paling berjasa pada mereka.


"Mas, sini deh aku mau bicara sebentar.."


Bisik Annisa kemudian menarik suaminya menjauh dari Dennis.


"Mas, sepertinya aku punya ide untuk menolong Dennis. Aku gak tahu sih apakah cara ini akan berhasil atau gak, tapi setidaknya kita bisa mencobanya kan.."


Ucap Annisa.


"Ide apa?"


Tanya Reyhan.


"Mas, kamu tahu kan aku juga pernah mengalami trauma seperti yang dirasakan oleh Kirana. Sebagai sesama wanita, apalagi pernah mengalami guncangan jiwa yang hebat, aku tahu persis bagaimana rasanya mas."


"Lalu, apa yang bisa kita lakukan?"


Tanya Reyhan.


"Ehm.. Begini mas, menurutku sebaiknya untuk sementara kita membawa Kirana kembali ke Indonesia. Dan aku rasa, mbak Rina bisa membantu Kirana.."


Usul Annisa.


(Mbak Rina adalah Psikiater yang pernah membantu Annisa : Cerita di Season 1)


"Kamu benar juga sayang, mas sama sekali gak kepikiran soal Dokter Rina. Tapi, gimana dengan Dennis?"


Tanya Reyhan.


"Tapi sayang.."


Reyhan tampak ragu.


"Mas, percaya deh. Kirana hanya sedang kecewa dengan keadaan dan perlu waktu untuk menenangkan diri. Dengan bantuan dari Mbak Rina, Insya Allah Kirana akan segera membaik."


"Tapi, siapa yang akan menemani Kirana disana sayang?"


Tanya Reyhan.


"Tentu aja kita mas.. Aku juga udah rindu kampung halaman.. Kamu gak keberatan kan mas?"


Akhirnya Reyhan menyetujui rencana istrinya dan menjelaskan rencana itu pada Dennis.


"Rey, Nissa, aku berharap banyak pada kalian.."


Ucap Dennis dengan wajah putus asa.


"Den, Kirana itu wanita yang tegar. Aku yakin dia akan baik-baik aja."

__ADS_1


Ucap Reyhan.


"Den, untuk sementara biar aku yang menemani Kirana ya. Aku juga sangat ingin berbicara dengannya."


Dennis mengangguk setuju.


Annisa masuk ke dalam ruangan, dan tampak Kirana yang masih sangat lemah berbaring di ranjang. Wajahnya sangat pucat dan sayu, seolah kehilangan gairah hidup.


"Mbak.. Anak aku mbak..."


kirana menangis terisak saat Annisa menghampirinya.


"Kirana, aku tahu ini sangat berat untuk kamu. Aku sendiri gak bisa membayangkan seandainya aku yang mengalami kejadian ini. Tapi, jangan sampai ujian ini justru membuat kamu lupa diri. Kirana, percaya sama Allah.. Allah memberikan kamu cobaan seberat ini, karena Allah tahu kamu mampu.. Dan kalau kamu bisa berlapang hati menerima ketentuan Allah, Insyaa Allah anak kamu sudah menunggumu di surga."


Annisa memeluk tubuh Kirana yang bergetar karena menangis.


"Ini semua salah mas Dennis mbak..


Mas Dennis dan.. Dan perempuan itu.."


"Perempuan itu? Apa maksud kamu Kirana?"


Annisa mengernyitkan keningnya.


"Mas Dennis selingkuh mbak.. Dia bahkan berada di apartemen wanita selingkuhannya itu.."


Kirana semakin terisak.


"Astaghfirullah Kirana, Dennis gak mungkin seperti itu. Kamu pasti salah paham.. Kirana, Dennis sangat mencintai kamu. Aku yakin dia gak akan mengkhianati kamu.."


"Tapi itu kenyataannya mbak.. Aku dengar sendiri dari perempuan itu. Waktu aku coba hubungi mas Dennis. Kalau perempuan itu bukan selingkuhannya, bagaimana mungkin ponsel mas Dennis ada di tangannya mbak.. Dan, Dan dia sendiri yang bilang kalo mas Dennis ada di apartemennya.."


Kirana tampak masih frustasi.


"Jadi, karena itu kamu marah pada Dennis?"


"Karena dia yang sudah membuat aku keguguran mbak...."


"Astaghfirullah Kirana, istighfar.. Dennis itu calon ayah dari anak kamu, gak mungkin dia tega melakukan itu. Kirana, kamu benar-benar salah paham. Begini saja, aku akan bicara pada Dennis."


"Gak mbak, aku gak mau. Aku gak mau dia ada disini. Tolong suruh dia pergi mbak.."


Annisa mengusap punggung Kirana.


"Kirana.. Apa kamu ingin kembali ke Indonesia?"


Tanya Annisa, dan Kiran langsung mengangguk setuju.


"Tolong bawa aku pergi dari sini mbak. Aku gak mau ketemu Dennis pokoknya aku gak mau.."

__ADS_1


Kirana masih menangis terisak.


Dennis yang diam-diam mendengarkan dari balik pintu merasa sangat terpukul.


__ADS_2