Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
07. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak Kirana dipindahkan ke ruang rawat inap, kondisinya sudah mulai membaik.


Namun sejak kemarin dia tidak berbicara pada suaminya.


Dia bahkan meminta Dennis untuk pergi dan tidak menemuinya.


Kirana merasa hancur.


Dia sudah kehilangan bayinya dan menurutnya itu adalah kesalahan suaminya sendiri.


"Nak Dennis, ibu harap kamu bisa bersabar ya. Kirana baru saja kehilangan janinnya dan itu adalah pukulan yang berat untuknya. Mungkin Kirana bersikap seperti itu karena dia belum bisa menerima musibah ini."


Ucap ibu Kirana saat sedang duduk bersama Dennis di lorong rumah sakit.


"Aku harus bagaimana bu? Aku juga hancur. Aku juga terpukul. Tapi Kirana justru mendiamkanku begitu saja."


Dennis mulai tampak frustasi.


"Nak, setiap manusia pasti akan di uji. Dan ini adalah ujian untuk kalian. Percayalah, akan ada jalan keluar dari semua musibah ini."


Dennis terdiam. Dia tak pernah menduga akan mengalami musibah seberat ini justru ketika dia sudah mulai menikmati hidupnya.


Saat sedang berdiam, tiba-tiba ponsel milik Kirana berdering.


Dennis segera menjawab panggilannya.


"Assalamualaikum Den, apa kau masih di rumah sakit?"


Suara Reyhan terdengar menyapa.


"Waalaikumsalam. Iya bos, Kirana masih perlu dirawat."


Jawab Dennis.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Pak Edo untuk menggantikan kamu menangani proyek baru kita di Indonesia."


Dennis mengernyitkan kening.


Kenapa Reyhan menghubungiku dengan ponsel Kirana?


Batinnya.


"Ehm, bos. Kalau soal pekerjaan kenapa kau gak langsung hubungi ke ponselku?"


Tanya Dennis.


"Sudah kulakukan, yang menjawab panggilanku adalah seorang wanita dan itu bukan Kirana."


Jawab Reyhan datar.


Dennis mengernyitkan kening. Dia sampai lupa beberapa hari ini dia memang tidak memegang ponselnya karena dia fokus dengan Kirana. Tapi, bagaimana mungkin ponselnya dijawab oleh oranglain?


Tidak mungkin itu asisten rumah tangganya, mereka tidak akan sekurang ajar itu untuk menjawab panggilan ponsel milik majikan mereka.


"Den, ponsel kamu ada pada Youra."

__ADS_1


Ucap Reyhan menyadarkan Dennis yang tengah berpikir keras.


"A-apa..gimana bisa..?"


Dennis tercengang.


Setelah mengakhiri panggilannya Dennis menghubungi ponselnya menggunakan ponsel milik Kirana.


Sementara itu di tempat lain..


Kim Youra menatap sinis saat layar ponsel Dennis tertera nama "My Wife".


"Cih, wanita ini.. Sepertinya akan semakin seru kalau aku menggodanya lagi."


Gumam Youra sambil tersenyum sinis.


Youra belum mengetahui kejadian yang menimpa Kirana. Dia mengira Kirana sedang menghubungi Dennis.


Kemudian Youra menjawab panggilannya.


"Kau lagi Nona.. Maaf, Dennis sedang mandi. Dia baru saja tiba di apartemenku."


Youra langsung mengkonfrontasi tanpa tahu siapa yang menghubungi.


"Oh ya? Benarkah? Apa kau yakin orang yang ada disana adalah Dennis? Kalau di Indonesia, mungkin aja itu gendoruwo yang sedang menyamar menjadi sosok manusia. Apakah dia juga mengajakmu untuk tidur bersama? Jika ya, itu berarti kamu sudah tidur dengan gendoruwo."


Umpat Dennis dengan kesal.


Wajah Kim Youra langsung pias saat mengetahui siapa yang menghubunginya.


Kim Youra tertawa renyah untuk mencairkan suasana.


"Mohon maaf Nona Kim Youra, kerja sama kita batal. Saya tidak ingin menjalin kerja sama dengan orang yang tidak profesional."


Ucap Dennis dengan nada sinis.


"Hei, kenapa kamu jadi sentimen begitu. Lagipula proyek ini adalah kerja sama antara perusahaan kami dengan ReRe Corp. Seharusnya Tuan Reyhan lah yang berhak membatalkannya."


"Apa kau tak tahu? Reyhan sudah menyerahkan tanggung jawab proyek ini sepenuhnya kepadaku. Dan dalam hal ini, keputusanku juga berlaku."


Wajah Kim Youra semakin pias. Dia sudah merasa lega karena akhirnya bisa bekerja sama dengan ReRe Corps dan itu akan menyelamatkan perusahaan keluarganya yang sedang di ambang kehancuran. Jika kerja sama ini dibatalkan, maka bisa dipastikan perusahaan milik keluarganya akan bangkrut. Saham mereka akan anjlok.


"Den, tolong jangan seperti ini."


Kim Youra memelas, namun Dennis langsung mengakhiri panggilannya.


"Siaallll!!!"


Kim Youra melemparkan ponsel milik Dennis ke atas kasur.


"Dasar perempuan ular. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu. Apa karena ini Kirana marah padaku?"


Gumam Dennis.


Dennis mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian masuk ke ruangan yempat Kirana dirawat.

__ADS_1


Melihat kedatangan Dennis, Kirana langsung memalingkan wajah.


"Sayang, sampai kapan kamu mau mendiamkan mas seperti ini?"


Dennis duduk di hadapan Kirana.


Kirana tak bergeming, dia hanya menatap jendela kaca ruangan tersebut dengan pikiran yang masih kalut.


Sejujurnya, Kurana sangat merindukan Dennis. Tapi jika mengingat apa yang sudah terjadi, Kirana merasa sakit hati. Dia berpikir Dennis benar-benar selingkuh, karena Dennis dan wanira simpanannya itu dia kehilangan bayinya.


"Sayang.."


Dennis meraih tangan Kirana, namun Kirana langsung menepisnya.


"Pergilah mas, aku tidak ingin melihat kamu disini. Bukankah sangat bagus jika aku kehilangan bayiku? Dengan begitu kamu bisa meninggalkanku dan kamu bisa pergi bersama j****g kamu itu."


Kirana mengumpat dengan kalimat sarkas.


"Astaghfirullah Kirana.. Apa yang kamu pikirkan?


Apa kamu pikir mas gak sedih kehilangan bayi kita?


Kirana, kamu sudah salah paham. Kamu benar-benar salah paham.."


Dennis berusaha menahan amarahnya mendengar ucapan sarkas dari istrinya itu.


"Salah paham? Kalau memang ini kesalah pahaman bagaimana bisa wanita j****g itu menjawab panggilanku? Apakah ponsel kamu punya kaki dan bisa berjalan sendiri ke apartemen wanita itu?"


Dennis menghela napas panjang.


"Waktu itu aku bersama Reyhan, dan kami sedang membahas kerja sama untuk proyek baru. Mas yakin ponsel itu tertinggal di apartemennya. Itu kenyataan yang sebenarnya. Dan kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan itu pada Reyhan."


"Menanyakannya pada Reyhan? Dia itu sahabat kamu, tentu aja dia akan membela kamu."


Dennis menggeleng.


"Kirana, Reyhan itu orang yang jujur. Dia tidak akan membela orang yang salah, bahkan meskipun itu adik kesayangannya sendiri."


Kirana tertegun. Pikirannya benar-benar serabut.


"Pergilah mas, aku ingin sendiri."


Ucapnya lirih.


Dennis menghela napas.


"Baiklah.. Kalau kamu butuh apa-apa, mas ada diluar."


Kemudian Dennis melangkah gontai keluar dari ruangan tempat Kirana dirawat.


Kirana menatap punggung suaminya dengan perasaan hati yang tersayat.


Kenapa kita jadi seperti ini mas.. Aku sangat merindukan kamu, tapi apa yang sudah kamu lakukan? Kamu justru mengkhianati aku, bahkan wanita itu yang membuatku kehilangan bayiku.


Airmata Kirana menetes, kemudian dia segera mengusapnya dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2