
Assalamualaikum temen-temen..
jika kalian suka dengan novel ini, mohon bantu dukungan vote nya yaa..
biar Author semakin semangat menulis..
betewe,
novel ini juga ikut contest loh.tapi belum masuk ranking..
kerna vote nya sedikit..
hikkss..ðŸ˜ðŸ˜
*Authornya CurCol
So,,,
please klik vote yang buanyakkk ya...😂😂
dannn,,,
seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya..
untuk kedepannya aku bakalan menambahkan genre action kedalam novel ini..
untuk itu, aku juga memerlukan waktu yang mungkin akan lebih lama dari biasanya untuk mematangkan script nya..
jadi mohon pengertiannya yaa readersku tersayang tercinta terkasih dan terlope lope..😊😊
happy reading..😘😘😘
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Minggu pagi, seperti biasa Annisa dan Reyhan sudah terbangun dan melaksanakan ritual subuh.
Annisa selalu melaksanakannya dirumah, sedangkan Reyhan memilih melaksanakannya berjamaah di masjid yang terletak tak jauh dari rumahnya.
Sejak merasa Annisa dalam bahaya, Reyhan membawa Annisa untuk tinggal dikediaman keluarganya.
Annisa tengah berjibaku didapur saat tiba-tiba ponsel Reyhan yang terletak diatas meja makan berdering.
Namun si empunya masih belum kembali dari mesjid,
karena biasanya dihari minggu setelah ibadah sholat subuh juga diadakan tausiyah yang dibawakan oleh ustad.
Annisa melihat sekilas identitas si penelepon yang ternyata tanpa nama.
tanpa berpikir panjang, Annisa langsung mengangkatnya.
Belum sempat Annisa mengucap salam, seseorang diseberang sana dengan suara beratnya sudah lebih dulu berbicara, atau lebih tepatnya mengancam.
"Percuma saja kau menghindariku anak muda.. karena aku selalu punya cara. tunggulah, kehancuran kalian sudah didepan mata."
Annisa tertegun.
Kemudian orang tersebut langsung memutus sambungan telepon bahkan sebelum Annisa mengeluarkan sepatah katapun.
Annisa terhenyak dikursi ruang makan, kakinya terasa lemah.
"Ya Allah.. siapa orang tadi.. dan apa maksud ucapannya..?"
gumam Annisa.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Annisa bahkan tak menyadari masakannya yang telah hangus.
beruntung saat itu Reyhan sudah kembali dan langsung memadamkan api kompornya.
"Sayang.. kamu kenapa..?"
tanya Reyhan sambil mengernyitkan kening.
Annisa hanya menggeleng.
"Mas.. boleh Icha tanya sesuatu..?"
__ADS_1
tanya Annisa.
Reyhan mengambil posisi duduk tepat disamping Annisa kemudian membelai kepalanya yang dibalut hijab.
"tanyakanlah.."
jawabnya
"Mas.. apa.. apakah.. apa mas punya.. itu.. emm.. maksud Icha.."
Annisa berbicara dengan gugup sambil meremas kedua tangannya diatas meja.
Reyhan meraih kedua tangan Annisa, kemudian mengecupnya dengan lembut.
"mas.. Icha minta maaf.. tadi Icha udah lancang menerima panggilan dari ponsel mas.."
Annisa tertunduk.
Reyhan yang tidak menduga hal tersebut langsung tertawa.
"Sayang.. kamu itu istri mas, bukan orang lain.. kenapa kamu harus merasa bersalah hanya karena kamu menerima panggilan di ponsel mas tanpa izin..?"
Annisa menatap suaminya, yang balas menatapnya dengan teduh.
"Mas.. apa kamu lagi ada masalah sama seseorang..?"
tanya Annisa dengan ekspresi yang sedikit ragu.
"Masalah..?
emm.. mas rasa gak ada sih.. kenapa sayang..?"
tanya Reyhan penasaran.
Annisa hanya menggeleng.
"Bukan apa-apa kok mas.."
jawabnya.
Reyhan kembali mengernyitkan kening.
dia membuka daftar rekaman panggilan terakhir (karena Reyhan sengaja memasang aplikasi perekam panggilan di ponselnya). Setelah mendengarkan rekaman panggilan tersebut raut wajahnya langsung berubah.
Reyhan mencoba menghubungi nomor tersebut, namun hasilnya nihil.
mungkin si pemilik nomor sudah menduga hal tersebut maka dia hanya menggunakannya untuk satu kali panggilan saja setelah itu membuang sim card nya.
Reyhan langsung mengirimkan bukti rekaman panggilan tersebut beserta kontaknya kepada Dennis melalui pesan whatsapp.
"Sayang.. kamu gak perlu cemas.. mungkin dia salah sambung, atau paling cuma kerjaan orang iseng aja.."
Reyhan berusaha menenangkan istrinya.
Annisa kembali menatap mata suaminya. dan entah kenapa dia merasa mata itu justru berkata sebaliknya.
meski dia sangat ingin mengetahui yang sebenarnya, namun akhirnya Annisa memilih untuk mempercayai suaminya.
*mas Rey pasti punya alasan kenapa dia merahasiakan ini dariku.
batin Annisa
"Sayang.. apa hari ini kamu mau mas puasa..?"
tanya Reyhan dengan senyum sumringah berusaha mencairkan suasana.
"Astaghfirullah.. maaf mas, Icha sampe lupa.."
kemudian Annisa berdiri. dan ketika dia hendak beranjak, Reyhan justru menariknya kedalam pangkuannya.
Annisa yang tidak menduga hal tersebut menunduk malu. pipinya memerah.
meski mereka sudah sah menjadi suami istri, namun entah kenapa setiap perlakuan manis Reyhan selalu berhasil membuat jantungnya serasa mau copot.
"Mas.. Icha masak dulu yaa.."
Annisa yang masih merasa malu berusaha untuk berdiri, namun Reyhan justru melingkarkan tangannya memeluk Annisa dengan erat, sambil mengecup pipi isttinya tersebut yang tampak memerah.
__ADS_1
"kita pesan delivery aja.."
ucapnya.
Reyhan kemudian mengangkat tubuh istrinya.
"mas.. turunin..."
Annisa tampak canggung, namun Reyhan justru tampak tak perduli.
beruntungnya karena ini hari minggu, semua ART diliburkan.
hanya ada beberapa bodyguard dan satpam yang berjaga diluar rumah.
Reyhan membawa Annisa kekamar, kemudian membaringkannya diranjang.
dikecupnya lembut kening istrinya tersebut, sambil membaca doa.
(lanjut adegan 21+ gaesss...😂😂😂)
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu ditempat berbeda...
Tuan Kosasih tampak duduk dengan tenang, merasa seperti raja yang sedang duduk diatas singgasana.
"Sudah waktunya kita masuk ke panggung yang sebenarnya.. aku sudah tidak sabar melihat kehancuran keluarga Arbiantoro.."
Ucapnya sambil menyeruput cerutunya.
"jangan terburu-buru boss.. kita harus menyusun rencananya dengan matang.
lagipula Reyhan Arbiantoro juga bukan orang sembarangan boss.."
seorang pria berusia tiga puluhan berusaha mengingatkannya.
"rencana apalagi Kris.. aku sudah menyusun rencana ini selama bertahun-tahun sejak aku dijebloskan kepenjara jahanam itu.. dan sekaranglaah saat yang paling tepat untuk menjalankannya.."
"Tapi boss.. kita juga tidak bisa menyepelekan mereka.
terutama, pemuda yang selalu sigap berdiri dibelakangnya. aku merasa pemuda itu juga tidak bisa kita pandang sebelah mata. aku hanya tahu dia tercatat sebagai mahasiswa di Universitas milik keluarga Arbiantoro. tak ada informasi lain, seolah dia sengaja menyembunyikan jati dirinya."
Tuan Kosasih menarik nafas dalam.
"Abaikan dia.. urusanku adalah dengan keluarga Arbiantoro.. untuk apa kau membuang waktu hanya demi kacungnya..? hahh..??"
Tuan Kosasih mulai berang.
"maaf boss.. aku hanya mengingatkan.. dan salah besar jika boss memandangnya hanya sebagai kacung.. karena dia adalah orang kepercayaan keluarga Arbiantoro.
bahkan menurut sumber, dia sendiri yang merekrut boddyguard serta ART yang bekerja untuk keluarga Arbiantoro. aku pernah mencoba menyusupkan salah satu orangku, tapi ternyata gagal.. pemuda itu terlalu cerdik. dia bahkan mengetahui rencanaku sebelum aku menyadarinya."
"Jadi menurutmu apa yang harus kita lakukan..?"
tanya Tuan Kosasih yang tampaknya mulai terpengaruh dengan ucapan Kris.
"gunakan wanita itu boss.. istri dari Reyhan Arbiantoro.. aku sudah mengikutinya selama ini, dan aku rasa mereka sangat ceroboh. tidak seperti putri angkat keluarga mereka yang dijaga ketat meski sudah dimasukkan kesekolah asrama, mereka justru membiarkan wanita itu tanpa pengawasan."
jawab Kris.
"Hmm.. cukup menarik.. jadi menurutmu, apa yang bisa kita lakukan dengan wanita itu..?"
"Kita bunuh dia. tapi tidak sekarang.. akan lebih baik jika kita membunuhnya, bersama calon bayinya nanti.. itu akan jadi pukulan telak bagi Reyhan dan keluarganya."
"Tapi itu saja belum cukup Kris... itu belum setimpal dengan sakit yang kurasakan.."
Ujar Tuan kosasih sambil menghisap cerutunya lagi.
"tapi kehancuran Reyhan, adalah kehancuran total keluarga Arbiantoro boss.. karena dia adalah pewaris tunggal keluarga Arbiantoro. dengan begitu kita tidak perlu meminta bantuan dari sindikat mafia brengsek itu. mereka hanya ingin mengambil keuntungan darimu boss.."
jawab Kris
"hmm.. brilian.. gak sia-sia aku membayar mahal untuk menggajimu Kris.."
Tuan Kosasih berdiri, kemudian menepuk punggung orang kepercayaannya itu.
(dan tanpa mereka sadari, mereka justru telah masuk kedalam perangkap musuh..
__ADS_1
Author : "mungkin suatu saat nanti, Kau justru akan mengutuk orang kepercayaanmu itu boss"
wkwkwkwkwkwkwkwkkk...😂😂😂😂)