Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
45. Rencana Dennis


__ADS_3

Sudah lima belas menit sejak kepergian Reyhan, namun Dennis belum beranjak dari tempatnya.


dia masih menunggu seseorang, yang akan sangat membantu rencananya kali ini.


"Hoi kawan lama..."


Seorang pria dengan postur badan tinggi dan kekar, menggunakan setelan tuxedo hitam menghampiri Dennis yang duduk bersantai di sofa sambil menikmati kopinya.


Dennis menyalami pria itu, mempersilahkannya untuk duduk kemudian memanggilkan waiters untuk memesan sesuatu.


"Bagaimana misimu di Macau..?"


tanya Dennis berbasa-basi


pria itu tertawa.


"Tidak buruk boss.. setidaknya, aku berhasil menemui orang itu meski harus mengacaukan satu gedung Grand Lisboa dan membuatnya tersudut.."


jawab pria itu menyunggingkan senyum.


"hahahaa.. itu memang gayamu kan Chan.."


Ucap Dennis yang juga ikut tertawa.


pria itu menyeruput kopi pesanannya yang baru saja diantarkan oleh waiters.


"tapi kuharap misi kali ini lebih baik, eeh boss..?"


Chan menatap Dennis dengan seksama.


"Kapan aku pernah memberikanmu misi yang mudah Chan..?"


Dennis mengangkat sebelah alisnya.


"tapi kau baru melakukannya, memintaku menyeret si gorgon dari Grand Lisboa.. itu misi yang membosankan boss.."


"Tapi kau justru mengulur waktu dengan bersenang-senang disana kan.. kebocoran gas..?? haha.. entah berapa banyak sibodoh itu membayar media dan pihak berwajib untuk merekayasa peristiwa.."


Dennis berujar sinis.


"Baiklah, apa misiku kali ini..?"


tanya Chan yang tampaknya sudah sangat antusias.


Dennis memberikan dua foto.


foto Annisa dan foto tuan Kosasih.


"Dua orang ini.. aku mau kau berusaha mempertemukan mereka apapun caranya. tapi kau jangan sampai gegabah Chan, kudengar si tua bangka ini meminta bantuan dari 'King Latina'."


"hahahaa.. sepertinya aku akan reunian dengan musuh bebuyutan boss.."


Chan tampak tertarik.


"Baiklah, kuterima misi ini.."


lanjutnya.


"tapi, bagaimana pria tua ini memiliki akses menemui mereka..?"

__ADS_1


tentu bukan tanpa alasan, Chan sangat paham jika musuh bebuyutannya itu adalah mafia kelas berat. mereka nyaris tak terlacak kecuali oleh orang-orang yang memang sudah sangat mengenal sindikat hitam.


"Hei.. kau pikir dia cukup pintar..?


dia bahkan sudah terjebak dalam rencanaku.."


Jawab Dennis sambil tertawa sinis.


"Sudah kuduga, kaulah dalangnya.. karena pria tua ini tidak pernah bersinggungan dengan sindikat hitam sebelumnya. tapi harus kuakui, untuk pimpinan sindikat hitam kau bekerja terlalu sempurna. bahkan aku sendiri tak pernah tau siapa, apa dan bagaimana sebenarnya kalian.."


"Hahahaa.. apakah sekarang pimpinan Yakuza sedang memujiku..?"


tanya Dennis dengan senyum mengembang.


"Baiklah, sekarang jelaskan rencanamu.."


Dennis menyeruput kopinya.


"Cukup sederhana Chan.. aku hanya ingin mempertemukan mereka, kemudian aku sendiri yang akan menangkap si tua bangka itu."


jawab Dennis datar.


"Lalu kenapa kau harus meminta bantuanku..?


bukankah itu sangat mudah bagimu..?"


"Ayolah Chan.. aku hanya memberikanmu sedikit waktu untuk bersenang-senang.. kau urus sindikat sialan itu, sisanya menjadi urusanku.. dan sebenarnya, memancingnya bertemu dengan King Latina hanya pengalihan perhatian.. dia pasti mengira dia sudah aman.. dia bahkan tidak pernah tau siapa sebenarnya musuhnya.."


ujar Dennis.


"Baiklah yang mulia, akan kulaksanakan misi kali ini dengan sempurna.."


beberapa saat mereka diam. hingga akhirnya Chan kembali membuka keheningan.


"Ayahmu.. dia memintamu untuk pulang.. dia ingin kau mengambil alih."


ujar Chan dengan lirih


"Katakan padanya Chan, aku tidak akan pulang sebelum aku lebih kuat darinya. Lagipula, masih ada misi yang harus kuselesaikan.."


jawab Dennis dengan nada dingin.


"Dengar Den.. saat ini keadaan semakin genting. jika kau tidak segera mengambil alih dan meredam situasi ini, aku takut akan terjadi pertikaian sesama anggota sindikat. kau juga sangat paham itu kan.."


"aku tidak akan mengikuti cara ayahku Chan.. dia bahkan sanggup 'membuang' keluarganya sendiri.."


"tapi dia melakukan itu bukan tanpa alasan.. dia hanya ingin melindungi kalian dengan cara menjauhkan kalian darinya. kau tau sendiri Den, dalam dunia hitam keluarga bisa jadi titik kelemahan yang akan dimanfaatkan oleh pihak musuh.."


"Ya.. itu karena mereka menunjukkan taring mereka sebagai anggota sindikat.. dan itu sangat bodoh menurutku.. mereka sendirilah yang bersedia naik di atas panggung dengan tujuan agar mereka disegani, ditakuti oleh sindikat lain. sekarang kau lihat aku.. aku hanya berada dibalik panggung, menyelinap diantara mereka. dan aku berhasil melakukannya.. dalam satu sindikat, setidaknya sepuluh diantaranya adalah kaki tanganku.."


"hahahaa.. kau memang hantu paling menyeramkan dalam sindikat hitam boss.. baiklah.. aku tidak akan memaksamu.


tapi aku harap kau bersedia menemuinya.."


Dennis hanya mengangguk.


"aku harus pergi sekarang. jika tidak orang tua itu akan memukul kepalaku dengan tongkatnya.."


tanpa aba-aba Chan langsung bangkit dari kursinya kemudian keluar dari Cafe tersebut.

__ADS_1


tak berapa lama kemudian seseorang menghubungi Dennis.


"semua berjalan sesuai rencana boss.. sudah kupastikan salah satu mata-mata musuh melihat kau menemui Chan.."


*habislah kau tua bangka


batin Dennis


setelah ponselnya mati, Dennis beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan cafe tersebut.


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Sore itu Annisa tengah berbaring di kamar sambil memainkan ponselnya. tubuhnya terasa berat untuk digerakkan, sepertinya dia sangat kelelahan setelah perjalanan panjang.


"Assalamualaikum sayang.."


Reyhan muncul dari balik pintu


"Waalaikumsalam mas.. gimana meetingnya?"


tanya Annisa sambil beranjak dari posisinya.


"Alhamdulillah, semuanya lancar.."


jawab Reyhan.


"Mas.. kita ke makam ibu ya..?


udah lama Icha gak ziarah.."


"Besok aja ya.. lagian muka kamu agak pucat..kamu baik-baik aja..?"


tanya Reyhan sambil menyentuh dahi istrinya.


"ehm... mungkin cuma kecapean aja sih.."


jawab Annisa


"kamu agak demam.. mas panggilin Om Rizal ya.."


"Gak usah mas.. lagian Om Rizal juga pasti repot kan di Rumah Sakit.. Icha baik-baik aja kokk.. mungkin cuma butuh istirahat.."


jawab Annisa.


"yaudah.. mas mandi dulu ya.."


saat Reyhan akan menuju kamar mandi setelah meletakkan ponsel dan tas laptopnya diatas nakas, tiba-tiba Annisa memeluknya dari belakang.


Reyhan yang tidak menduga sebelumnya tersenyum.


"sejak kapan istri mas ini berubah jadi manja..?"


Reyhan menarik tangan Annisa, hingga kini mereka berdiri berhadapan kemudian mengecup lembut keningnya.


Annisa hanya menggeleng perlahan sambil menunduk.


Reyhan kembali menarik Annisa, merengkuhnya dalam pelukan.


"Tapi mas suka.."

__ADS_1


bisiknya sambil memeluk Annisa dan mengelus pucuk kepalanya.


__ADS_2