Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
116. Menikahlah Denganku...


__ADS_3

Dua hari berlalu, Dennis hanya berdiam diri di sebuah rumah sederhana yang biasa dia datangi setiap kali pikirannya kacau.


Rumah itu, adalah tempat dimana banyak kenangan indah tercipta.


Rumah yang terletak di pinggiran kota Kobe.


Pagi itu Dennis terbangun karena mendengar suara bel pintu.


"Siapa yang bertamu sepagi ini.."


Gumam Dennis sambil beranjak dari tempat tidur.


"Ohayo..kore wa anata no kurumadesu ka?"


(Selamat pagi.. apakah itu mobil anda?)


Seorang pria menunjuk mobil lamborghini aventador hitam milik Dennis.


"Sōdesu, watashi no monodesu."


(Ya, itu milikku.)


jawab Dennis datar.


"Kuruma o ugokasemasu ka? Kuruma ga dōro o fusaide imasu."


(Bisakah anda memindahkannya? Mobil anda menghalangi jalan).


ucap pria tersebut.


"Wakatta"


(Baiklah)


Dennis meraih kunci mobilnya diatas nakas, kemudian memindahkannya.


Pagi itu cuaca mulai panas, dan orang-orang mulai berlalu lalang untuk memulai aktifitas mereka.


sudah menjadi kebiasaan bagi warga Jepang, untuk berjalan kaki. Mereka hanya menggunakan kendaraan pada situasi tertentu. Terlebih lagi di pinggiran kota.


Sudah dua hari Dennis berdiam diri dirumah ini,


menenangkan pikirannya yang tengah kacau.


Namun bayangan Nabila dan Kirana tak juga lepas dari benaknya.


Akhirnya Dennis memutuskan untuk mengunjungi keluarga Kirana.


"Mas Dennis.. syukurlah mas datang.. Bila mas.. Bila.."


Kirana tampak sangat panik saat baru saja membuka pintu.


"Ada apa dengan Bila..?"


Tanya Dennis terkejut.


"Sejak kemarin malam badannya panas tinggi mas.."


Tanpa menunggu aba-aba, Dennis langsung menuju kamar Nabila.


"Tuan malaikat..."


Gumam Nabila sambil menggigil lemah saat melihat kedatangan Dennis.


Dengan sigap Dennis langsung menggendong tubuh kecil Nabila.


"Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."


Ucap Dennis.


Kirana dan ibunya langsung meng iyakan, begitu juga dengan Anjar.


"Kore wa sūjitsu de naoru tsūjō no hatsunetsudesu. Shikashi, kare wa koko de atsukawa reru hitsuyō ga arimasu."


(Inj hanya demam biasa, dan akan sembuh dalam beberapa hari. Tapi dia harus dirawat disini.)


Ucap Dokter yang menangani Nabila.


"Yoroshikuonegaishimasu. Arigatō, dokutā."


(Syukurlah. Terimakasih Dokter.)


jawab Dennis.

__ADS_1


"Apa kata Dokter mas..? Bila sakit apa..?"


Tanya Kirana.


"Dokter bilang ini hanya demam biasa, dia akan sembuh dalam waktu beberapa hari. Tapi dia harus dirawat disini."


Jawab Dennis.


"Alhamdulillah.. tapi memang gak ada penyakit yang serius kan mas..? ini memang cuma demam biasa kan..?"


"Kak.. Dokter sendiri kok yang bilang, ini cuma demam biasa.. jadi kakak gak perlu panik ya."


Jawab Anjar.


"Kirana, bisa kita bicara sebentar?"


tanya Dennis.


"Emm.. Oke."


jawab Kirana sambil mengikuti Dennis yang berjalan didepannya.


Saat ini mereka sedang duduk di bangku taman rumah sakit tersebut.


"Apa yang ingin mas bicarakan?"


Tanya Kirana.


Dennis menatap Kirana sekilas, kemudian menghela napas panjang.


"Menikahlah denganku..."


Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Mas..."


Kirana membulatkan mata sempurna.


"Ya, menikahlah denganku. Demi Bila.."


"Demi Bila..?"


Kirana mengernyitkan kening.


"Karena Bila memintaku menikahimu."


Kirana meluapkan kekesalannya.


"Tapi Kirana.."


"Sudahlah mas.. Kamu gak perlu memikirkan permintaan Bila yang gak masuk akal. Aku sangat berterimakasih karena mas Dennis benar-benar mempedulikan keluargaku, tapi Mas gak perlu bertindak sejauh itu."


Ujar Kirana dengan tegas.


Kirana bangkit dari posisinya.


"Kirana..."


Dennis mencoba meraih tangan Kirana, namun gadis itu menepisnya.


"Tolong mas, jangan pernah mengorbankan diri mas seperti ini untukku dan keluargaku. Sudah terlalu banyak hutang yang harus kutanggung."


Kemudian Kirana berlalu meninggalkan Dennis yang terdiam mematung.


Dennis mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa ini begitu sulit? Apa yang salah? Kenapa keadaan ini memberatkanku?"


Gumam Dennis.


"Kak, dimana kak Dennis?"


tanya Anjar saat melihat Kirana kembali sendirian.


"entahlah."


jawab Kirana datar.


"Ada apa kak?"


tanya Anjar yang merasa heran melihat ekspresi Kirana.


"Gak ada apa-apa."

__ADS_1


Jawab Kirana.


"Biasanya sih kalau wanita bilang gak ada apa-apa itu selalunya ada apa-apa.."


Gumam Anjar, namun masih terdengar oleh Kirana."


"Kalo kakak bilang gak ada apa-apa ya artinya gak ada apa-apa."


Ujar Kirana ketus.


*Sebaiknya aku bertanya pada Kak Dennis.


Batin Anjar.


"Dimana ibu?"


tanya Kirana.


"Didalam, nemenin Bila."


jawab Anjar.


tanpa mengatakan apapun Kirana langsung meninggalkan Anjar yang sedang duduk di area koridor.


"Kak.. apa yang terjadi?"


Tanya Anjar saat melihat Dennis yang baru saja kembali dengan wajah yang sedikit kusut.


Dennis menghela napas panjang.


"Dia menolakku."


jawabnya datar.


"Maksudnya?"


Tanya Anjar tak mengerti.


"Kirana.. Dia menolakku.."


"Kakak nembak Kak Kirana..?


Kak Dennis, Kak Kirana memang gak mau pacaran.. Dia itu maunya langsung nikah aja.."


"Jadi kenapa dia menolakku..?


Anjar, apa aku masih kurang baik untuk menjadi suami?


menurutmu apa yang salah?"


Dennis tampak bertingkah seperti orang konyol.


"Apa yang kakak katakan padanya?"


Tanya Anjar yang tampak ingin tahu.


"Aku katakan padanya untuk menikah denganku, tapi dia justru marah padaku."


jawab Dennis polos.


Anjar tertawa melihat reaksi Dennis.


"Kakak belum pernah nembak perempuan sebelumnya?"


tanya Anjar.


"Kenapa?"


Dennis mengernyitkan kening.


"Kakak tiba-tiba ngajak dia menikah, tanpa ada omongan apapun sebelumnya, tanpa ada pendekatan, yang ada kakak dianggap cowo random gak jelas.."


jawab Anjar sambil tertawa.


"Gini aja.. Setelah Bila sembuh nanti, aku dan Bila akan bantu kakak untuk memenangkan hati Kak Kirana..


gimana..?"


tawar Anjar.


"Kamu yakin..?"


Dennis tampak ragu.

__ADS_1


"Tenang aja, kita punya senjata pamungkas : NA-BI-LA.."


Jawab Anjar dengan santai.


__ADS_2