Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)

Ana Uhibbuka Fillah (Season 2)
08. Ana Uhibbuka Fillah (S2)


__ADS_3

"Dennis, gimana Kirana?"


Tanya ibu Kirana saat melihat Dennis keluar dari ruangan Kirana dengan wajah kusut.


"Dia masih marah Bu. Kirana salah paham, dan itu semua karena Kim Youra."


Jawab Dennis lesu.


"Kim Youra? Siapa dia?"


Tanya Ibu Kirana.


Dennis baru sadar, ibunya belum tahu apapun. Akhirnya Dennis menceritakan masalahnya kepada ibu Kirana.


"Mungkin saat itu Kirana mencoba menghubungiku. Tapi karena ponselku tertinggal di apartemen Youra, dia yang menjawabnya. Aku gak tahu apa yang Youra katakan padanya, tapi aku yakin pasti Youra yang sudah membuat Kirana salah paham padaku."


Ucap Dennis dengan wajah merah menahan amarah.


"Jangan su'udzon dulu nak.."


Ibu Kirana mencoba menenangkan.


"Aku gak su'udzon bu, tadi aku mencoba menghubungi ponselku menggunakan ponsel milik Kirana setelah aku bicara dengan Reyhan. Dia menjawab panggilanku, dan mengira bahwa Kirana yang menghubungi ponselku. Dan kata-kata yang dia ucapkan, sangat menjijikkan."


Dennis membuang wajah kesembarang arah.


Kalau memang benar Kirana menghubungiku, pasti rekaman panggilannya tersimpan. Aku akan pastikan apa yang mereka bicarakan.


Batin Dennis.


"Bu, aku titip Kirana. Aku harus pergi, ada hal penting yang harus aku urus."


Kemudian Dennis meninggalkan rumah sakit.


Saat diparkiran, Denniz kembali menghubungi ponsel miliknya untuk bicara pada Youra.


"Temui aku di restoran XX, dan bawa ponselku, sekarang."


Ucapnya datar.


Belum sempat Youra menjawab, Dennis sudah mengakhiri panggilannya.


"Nona Kim Youra, sepertinnya anda sudah bersikap tidak profesional. Tidak, bahkan anda sangat lancang menjawab panggilan di ponselku."


Dennis menatap Kim Youra dengan tajam.

__ADS_1


"Dennis, biar aku jelaskan. Ini gak seperti yang kamu duga. Tadi aku hanya sedang bercanda."


Kim Youra berusaha menenangkan Dennis.


"Kemarikan ponselku."


Kim Youra meletakkan ponsel Dennis di atas meja.


Dennis menatap ponselnya dengan wajah sinis.


"Kalau aku gak salah ingat, rasanya saat terakhir kali aku gunakan ponsel ini baterainya hampir habis, seharusnya hanya bisa bertahan beberapa jam saja. Apa kau sengaja mengisi ulang baterainya dan berpikir untuk mempermainkan istriku dengan trik murahanmu itu?"


Kim Youra bergidik ngeri. Dia tahu persis bagaimana jadinya jika Dennis murka. Dia sanggup melakukan apa saja.


"Kenapa anda diam, Nona Kim Youra? Apa tebakanku benar?"


Dennis meraih ponselnya, kemudian membuka aplikasi perekam panggilan yang ada di ponselnya.


Terkadang dia lupa dengan pembicaraan- pembicaraan penting, dan aplikasi itu membantunya untuk merekam panggilan secara otomatis,sehingga dia bisa mendengarkan rekaman panggilannya jika diperlukan.


Dennis melihat beberapa panggilan masuk, tepat di hari saat ponselnya tertinggal di apartrmrn milik Kim Youra. Dennis membuka rekaman panggilannya, dan mendengarkan apa yang dikatakan Kim Youra pada Kirana.


Dennis tampak sangat marah, bahkan jika saja Kim Youra bukanlah seorang wanita mungkin dia akan menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi.


"Nona Kim Youra, sepertinya kau senang bermain. Baiklah, karena kau sudah memulai maka aku akan ikut bermain."


"Den, maafin aku Den.. Aku gak bermaksud.."


Kim Youra sudah menangis terisak dan tubuhnya bergetar ketakutan.


"Kau tahu kan bagaimana jika aku mempermainkan oranglain.. Dan kau yang memintanya, baiklah. Ayo kita bermain. Pastikan saja kau punya uang yang cukup untuk bertahan hidup, karena perusahaan kalian akan segera bangkrut."


Kim Youra mendelik. Dia tak menyangka Dennis mengetahui soal itu.


"Kenapa, terkejut? Apa kau pikir aku sebodoh itu Nona Kim Youra? Sejak awal aku sudah tahu semuanya."


"Kalau kau sudah mengetahuinya, lalu kenapa kau setuju untuk bekerja sama dengan kami?"


Kim Youra mulai memberanikan diri.


"Ya, tadinya kupikir kerja sama kita akan berjalan dengan sangat baik, tentu itu akan menguntungkan kedua perusahan kan. Tapi mengingat apa yang sudah kamu lakukan, sepertinya sekarang aku lebih tertarik untuk mengakuisisi Perusahaan milik kalian dan menendangmu dari perusahaan itu. Bagaimana, cukup adil kan?"


Kim Youra kehabisan kata. Dia tidak menduga Dennis akan melakukan itu semua. Dalam hati dia menyesali perbuatannya. Jika saja dia tahu ini akan terjadi, tentu dia lebih memilih aman.


"Den.. Tolong maafkan aku Den.. Aku benar-benar tidak bermaksud. Begini saja, bawa aku menemui istti kamu dan aku akan jelaskan semuanya. Aku yang salah, aku yang sudah mengkonfrontasi dia dan membuatnya cemburu."

__ADS_1


Kim Youra berusaha membujuk Dennis.


"Ya, dan berkat permainan licikmu itu kami kehilangan anak kami. Bahkan sekarang istriku menjauhiku. Apakah menurutmu kesalahan sebesar itu layak untuk di maafkan?"


Kim Youra tertegun. Dia tidak menduga masalahnya akan sebesar ini.


"Baiklah Nona Kim Youra, kurasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."


Dennis berdiri, namun tiba-tiba Kim Youra berlutut di kakinya.


"Den, tolong maafkan aku Den. Aku akan lakukan apapun asal kamu bersedia memaafkanku."


Dennis menatap Kim Youra dengan nanar.


"Apakah kamu bisa mengembalikan bayi kami?"


Kim Youra mengerjap. Tentu saja tidak. Dia bukan Tuhan yang bisa memberi dan mengambil kembali nyawa manusia dengan mudah.


"Menyingkirlah dari hadapanku, atau aku akan membuatmu lebih menyesal."


Dennis mulai kehilangan kesabaran.


Merasa ciut dengan ancaman Dennis, akhirnya Kim Youra beranjak pergi sambil menangis.


"Wanita ular, bisa-bisanya dia lakukan itu."


Dennis mengumpat sepanjang perjalanan. Dia akan kembali ke rumah sakit dan mencoba memberi penjelasan pada Kirana.


"Dennis, syukurlah kamu kembali nak. Ibu sangat khawatir pada Kirana. Dia mengunci pintunya dari dalam, entah apa yang dia lakukan."


Dennis baru saja tiba di rumah sakit dan disambut Ibu Kirana yang sedang sangat panik.


Bahkan beberapa orang perawat juga sudah berusaha membujuk Kirana, namun wanita itu tak bergeming.


"Nana, buka pintunya sayang.."


Dennis mencoba membujuk, namun tak ada jawaban.


"Nana, kalau kamu gak buka pintunya mas akan dobrak."


Ucap Dennis dengan tegas.


Namun Kirana tak juga memberi jawaban. Merasa khawatir dengan keselamatan istrinya, Dennis langsung mendobrak pintu tersebut hingga akhirnya menjeblak terbuka.


"Kirana...!"

__ADS_1


Pekik Dennis yang langsung berlari menghampiri Kirana.


__ADS_2