
Sore itu Dennis kembali mengunjungi Nabila dirumah sakit.
Namun kali ini, tentu saja bukan sekedar kunjungan biasa.
Hari ini dia akan meminta jawaban Kirana atas lamarannya.
"Bu, Anjar, Bila.. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian.."
Ucap Dennis saat mereka sedang berbincang ringan di ruang rawat Nabila.
Ibu yang sudah menebak apa yang akan dibicarakan Dennis mengangguk sambil tersenyum.
Semenrara Kirana, jangan tanya bagaimana gadis itu.
Dia sedang berkutat dengan batinnya sendiri.
Dia hanya tertunduk di pojok ruangan.
"Aku, ingin meminta izin dari kalian.. Aku ingin menikahi Kirana.."
Kalimat itu meluncur dengan begitu saja.
Dan tentu saja hal itu disambut baik oleh keluarga Kirana, terutama Nabila.
"Nak Dennis.. Ibu sama sekali tidak keberatan.. Tapi, keputusan tetap ada ditangan Kirana.. sebaiknya, nak Dennis bicarakan dengan Kirana. Kami semua sudah merestui.."
Jawab Ibu Kirana sambil tersenyum.
"Bagaimana Kirana, apakah kamu bersedia..?"
tanya Dennis sambil menatap lurus pada Kirana yang masih menunduk.
Kirana memberanikan diri untuk menatap Dennis.
"Sebelum aku memberi jawaban, aku minta waktu tiga hari. Dan selama tiga hari itu aku ingin benar-benar mengenal mas Dennis, termasuk keluarga mas."
Ucap Kirana.
Dennis tertegun mendengar jawaban Kirana.
Pemuda itu menghela napas panjang.
"Baiklah.."
Jawab Dennis akhirnya.
*Kenapa mas Dennis sepertinya berat menyanggupi permintaanku?
Batin Kirana sambil menatap lekat pada Dennis.
☆☆☆☆☆☆
Malam itu giliran Kirana yang menjaga Nabila dirumah sakit.
Saat sedang menjaga Nabila, tiba-tiba ponselnya berdering.
satu panggilan dari nomor baru.
Kirana keluar dari ruangan tersebut untuk menjawab panggilannya.
"Astaga.. apa-apaan orang tadi, udah dibilangin salah sambung kok masih aja ngeyel.."
gumam Kirana sambil berjalan kembali menuju ruang rawat Nabila.
Betapa terkejutnya Kirana, saat tidak mendapati Nabila di ranjangnya.
__ADS_1
Kirana mencarinya disekitar ruangan, bahkan hingga keluar ruangan namun dia tidak juga menemukan Nabila.
Kirana mulai panik.
Tapi dia juga tidak berani mengabari Anjar dan Ibunya, karena dia takut ibunya yang khawatir justru akan membuat tekanan darahnya naik.
Merasa tak ada pilihan lain, akhirnya Kirana mencoba menghubungi Dennis.
"Assalamualaikum.. Mas, tolong mas.. Bila.. Bila mas.."
Kirana berbicara sambil terisak.
"Waalaikumsalam.. Na, coba kamu tenang dulu.. jelaskan ada apa dengan Bila..?"
tanya Dennis yang juga merasa khawatir.
"Bila gak ada mas.. aku udah cari kesana kemari, tapi gak ketemu juga.."
Jawab Kirana sambil menangis.
"Oke, kamu tenang dulu.. aku segera kesana.."
Tanpa berpikir panjang Dennis langsung melajukan sepeda motornya menuju ke rumah sakit tempat Nabila dirawat.
"Mas.. Bila hilang mass..."
Kirana menangis sesegukan saat Dennis baru saja tiba.
"Na, kamu tenang dulu ya.. Mas akan coba cari Bila.."
Dennis dan Kirana mencari disekitar rumah sakit, bahkan beberapa orang perawat dan security juga ikut membantu.
sayangnya Nabila tak ditemukan dimanapun.
bukannya kamu ada disini bersamanya..?"
tanya Dennis.
"Tadi.. sebelum Bila hilang.. seseorang menghubungiku mas.. aku keluar dari ruangan untuk menerima panggilannya karena mengira itu panggilan penting.. tapi.. tapi ternyata itu hanya nomor salah sambung.. saat aku kembali.. Bila.. Bila.. Dia udah gak ada mas.."
Jawab Kirana gugup sambil sesegukan.
Rahang Dennis mengeras, wajahnya tampak cemas setelah mendengar jawaban Kirana.
Sepertinya ada hal yang sedang dia pikirkan.
Dennis meminta pihak rumah sakit untuk membuka rekaman CCTV.
Dan ternyata kecurigaannya benar...
Dari rekaman CCTV terlihat Nabila dibawa oleh tiga orang pria setelah dibius sebelumnya.
Pihak rumah sakit menyarankan Dennis untuk melaporkan kasus ini pada polisi, namun Dennis menolaknya dengan tegas.
Dennis mengirimkan copian rekaman CCTV kepada Aldo, kemudian memintanya melacak keberadaan Nabila.
Kalung hello kitty yang dia berikan pagi tadi, Dennis sengaja memasang alat pelacak diselipan berlian liontinnya.
Dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
"Mas.. gimana mas..? apakah mereka tau dimana Bila..?"
tanya Kirana saat melihat Dennis berjalan mendekatinya.
"Nana, tenanglah.. kita pasti akan segera menemukannya.."
__ADS_1
jawab Dennis mantap.
tiba-tiba ponselnya berdering.
"Bang, aku udah lacak keberadaan anak itu. tapi, kurasa ada yang aneh.."
Ucap Aldo.
Segera kirim lokasinya. Apa yang aneh?"
tanya Dennis.
"Kau lihat saja sendiri.."
Jawab Aldo singkat, kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Aldo langsung mengirimkan lokasi keberadaan Nabila kepada Dennis.
Dengan sigap Dennis membuka ponselnya saat mendengar suara notif.
Aldo sudah mengirimkan lokasinya.
Dennis menatap layar, dan tiba-tiba matanya tampak membulat sempurna.
Sepertinya ada hal yang membuatnya sedikit terkejut, namun dia berusaha untuk tampak tenang.
*Astagaaa.. sudah kuduga sebelumnya, ternyata dia pelakunya. apa yang dia inginkan sebenarnya?
Batin Dennis sambil masih terus menatap layar ponselnya.
Sementara itu, Kirana tak henti menangis.
"Nana.. Mas yakin Bila baik-baik aja sekarang. dan Mas janji, kita akan segera bertemu dengannya.."
Ucap Dennis berusaha menenangkan Kirana.
"Ya Allah... mass... kenapa harus Bila mas.. kenapa harus Bila..."
Kirana tampak syok.
Tentunya bukan tanpa alasan.
Kirana sudah sangat trauma, saat tiba di negara ini dan ternyata dia justru akan dijadikan wanita malam.
Bagaimana dengan nasib Nabila..
"Nana.. lihat mas.. Hei, lihat mas.. Bila pasti baik-baik aja.. mas janji akan bawa Bila. Sekarang kamu tunggu disini, jangan pergi kemanapun. tetaplah diruangan ini. Mas akan jemput Bila.."
Kirana menatap lekat pada Dennis yang sedang berusaha menenangkannya.
"Mas.. kamu yakin kamu bisa menemukannya..? Kita harus cepat mas.. aku gak mau sampai Bila kenapa-kenapa.."
Kirana masih tampak syok.
"Nana.. percaya sama mas.. Bila pasti baik-baik aja..
Mas tau harus cari dia dimana.. karena kalung yang mas berikan tadi pagi, ada alat pelacak khusus di sela liontinnya.
Dan mas sudah mendapatkan lokasi mereka."
Kirana tertegun, mencerna perkataan Dennis.
"Mas pergi dulu.. ingat, tetap didalam dan jangan pergi kemanapun.."
Kemudian Dennis meninggalkan rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor.
__ADS_1