
Sudah satu bulan berlalu, Ibu Kirana sudah pulih dan sudah kembali kerumahnya.
Dennis juga rutin mengunjungi ibu Kirana untuk memastikan keadaannya.
Sore itu Dennis baru saja keluar dari kantor dan berniat mengunjungi keluarga Kirana.
tiba-tiba seseorang mencegatnya di parkiran.
"Sepertinya anda terburu-buru..?"
Sapa orang tersebut.
Dennis menoleh dan ternyata orang yang mencegatnya adalah Raffi.
"Lurah karbitan, berkeliaran di jam kerja.. sepertinya Pak Lurah ini ada urusan yang sangat penting sampai meninggalkan pekerjaannya.."
Sindir Dennis dengan sarkas sambil menatap sinis pada Raffi.
"Saya hanya kebetulan lewat sini dan melihat anda."
jawab Raffi sambil tersenyum juga dengan wajah sinis.
"Oh ya..? Kebetulan yang disengaja mungkin maksudnya.."
balas Dennis.
"Terserahlah, tapi saya hanya ingin mengingatkan anda. Jauhi Kirana. dia calon istri saya."
Raffi menatap Dennis dengan tatapan tajam.
"Masih calon kan, sebelum janur kuning melengkung selama itu pula dia bukan milik siapa-siapa."
jawab Dennis yang juga menatap Raffi dengan tajam.
"Tapi jika anda adalah orang yang bijak, saya yakin anda tidak ingin ada masalah dengan pekerjaan anda kan.. Sepertinya anda perlu tahu, saya mempunyai banyak koneksi dari kalangan pengusaha dan pejabat penting."
Raffi tampak menyombongkan diri.
"Benarkah..? Sepertinya saya juga harus berkenalan dengan mereka kalau begitu, barangkali mereka justru memerlukan sokongan dari 'kami'."
Jawab Dennis santai dan menekankan kata 'kami'.
"Sombong sekali.. Anda merasa seperti sultan..?
saya yakin anda hanya staff biasa di kantor ini. jadi berhentilah bersikap seolah anda adalah bos besar."
"Wah, saya terkesan anda sampai mengetahui soal itu. tapi, sepertinya informasi yang anda dapatkan kurang valid ya. begini saja, ini kartu nama saya. berikan ini pada beberapa koneksi yang anda sebut pengusaha dan pejabat penting itu. saya rasa mereka lebih mengenal siapa saya."
Dennis menyerahkan tiga lembar kartu nama pribadi miliknya ke tangan Raffi, kemudian berlalu begitu saja.
"Oh iya, saya lupa. mungkin dalam waktu dekat saya akan segera membawa Kirana dan keluarganya untuk tinggal di Jepang. jadi saya harap anda tidak sampai frustasi karena tidak bisa menemui Kirana lagi dan menyebabkan anda kehilangan posisi anda sekarang."
Dennis tersenyum sinis, kemudian membalikkan badan.
"Dasar Lurah karbitan, dia kira sedang berbicara dengan siapa? Beraninya dia mengancamku.. Kita lihat saja, apa setelah ini dia masih bisa bersikap pongah seperti itu.."
Umpat Dennis sambil menyalakan mesin mobilnya.
Setibanya didepan rumah Kirana, Dennis melihat beberapa orang pria bertubuh tegap bertampang preman sedang mengacaukan warung kecil-kecilan milik ibunya.
Para tetangga yang melihat tidak berani membantu karena para perusuh itu membawa senjata tajam.
__ADS_1
Sedangkan Kirana dan keluarganha hanya bisa menangis di pojok warung.
"Astagaaa... apalagi sekarang.."
gerutu Dennis sambil meraih 'FN Five-seven' miliknya.
setelah memastikan pistolnya terisi peluru yang cukup, Dennis langsung keluar dari mobil dan menembakkan pistolnya ke udara untuk menggertak beberapa orang preman yang sedang berbuat onar dirumah Kirana.
"DUAARRR..!!"
Tembakan tersebut tampaknya berhasil mencuri perhatian banyak orang disana, bahkan beberapa orang diantaranya langsung menyelinap kerumah mereka masing-masing karena menduga Dennis adalah aparat keamanan.
"Kalau kalian masih sayang nyawa kalian, sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang."
Ancam Dennis sambil memainkan pistol kesayangannya dengan santai.
"Dasar bocah tengik.. Kau kira kami takut dengan pistol mainanmu itu hah.."
salah seorang preman tersebut menghardik Dennis.
"Duuaarrr..!!"
Dennis melayangkan pistolnya tepat di pergelangan kaki preman tersebut dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Wah, sepertinya kalian ingin berkenalan dengan FN Five-Seven milikku.. sekedar informasi, pistol ini bahkan sanggup menembus rompi anti peluru. Jadi, bisakah kalian bayangkan bagaimana jika peluru dari pistol ini bersarang di tubuh kalian?"
Preman yang lain tampak mulai ciut, terlebih saat melihat teman mereka yang sedang meronta kesakitan.
"Keroyok dia bodoh.. tunggu apalagi..!!"
bentak preman yang tertembak kakinya.
"Sepertinya kalian sedikit membangkang. Baiklah, resiko kalian tanggung sendiri.."
"Siap-siap, setelah ini mungkin aku akan membedil kepala salah satu dari kalian."
Ancam Dennis.
Melihat dua orang temannya yang sudah ambruk tak sadarkan diri, ketiga preman yang lain semakin ciut dan akhirnya lari tunggang langgang.
Dennis segera meminta salah satu warga untuk melaporkan kejadian tersebut kepada perangkat desa.
Kirana dan keluarganya masih terpaku di pojokan.
Mereka syok melihat peristiwa yang baru saja terjadi.
Bahkan mereka juga terkejut melihat Dennis yang menggunakan senjata.
Sungguh seperti bukan Dennis yang mereka kenal.
"Maaf, kalian harus melihat kejadian barusan. tapi aku gak punya pilihan lain. Jika aku tidak datang mungkin bukan hanya warung ini, tapi kalian juga bisa terluka."
Ujar Dennis.
Kirana menggeleng perlahan.
"Terimakasih mas.. terimakasih karena sudah menolong kami.."
Ucap Kirana yang masih sesegukan.
"Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan denganmu dan keluargamu hari ini, tapi sepertinya suasananya tidak tepat.
__ADS_1
untuk masalah disini biar aku yang membereskannya.
aku juga akan meminta beberapa orang bodyguard untuk berjaga disekitar sini."
"Maaf mas, kami jadi merepotkan. tapi aku rasa mas gak perlu ngelakuin itu.."
"Jelas itu perlu Kirana.. gimana kalau preman-preman itu kembali lagi kesini..?"
Kirana terdiam sesaat.
"Siapa mereka..?"
Tanya Dennis.
"Panjang ceritanya mas, aku akan menceritakannya lain waktu. tapi sepertinya sekarang kita harus membereskan perkara ini dulu. mungkin sebentar lagi perangkat desa akan datang bersama aparat keamanan."
wajah Kirana tampak cemas.
"Tenanglah, biar aku yang mengurus semuanya.
Kalau nanti aparat keamanan menginterogasimu, ceritakan yang sebenarnya. itu sudah cukup.
"Nak Dennis.. ibu gak tau gimana lagi harus berterimakasih. nak Dennis selalu membantu keluarga kami.."
Ucap ibu Kirana
"itu sudah menjadi tugas saya bu.. Karena Annisa sendiri yang meminta saya untuk membantu Kirana."
jawab Dennis sambil tersenyum.
"Mas.. apa mereka... tewas..?"
tanya Kirana dengan sangat hati-hati.
Dennis tertawa mendengarnnya.
"Mereka hanya pingsan karena obat bius.
Diujung peluru milikku, aku selalu menempelkan obat bius dosis tinggi. dan begitu mereka terbangun nanti, mereka sudah berada di jeruji besi. Kecuali, jika mereka bersedia bekerja sama dengan penyidik."
jawab Dennis dengan santai.
"Mas.. apakah ini sisi kamu yang sebenarnya..?"
tanya Kirana tiba-tiba.
Dennis tertegun mendengar pertanyaan Kirana.
"Inikah sisiku yang sebenarnya?"
Dennis menggumam mengulang pertanyaan Kirana.
"Nak Dennis.. kamu kenapa..?"
tanya ibu Kirana sambil menyentuh bahu Dennis
"Emm.. Gak bu, aku gak apa-apa.."
Namun tampaknya bahasa tubuhnya mengatakan yang berbeda.
Dia bergegas kembali ke mobilnya.
__ADS_1
*Ya Tuhan.. perasaan apa ini.. kenapa aku selalu ingat mama setiap kali melihat ibu Kirana..
Batin Dennis sambil menjatuhkan kepalanya diatas setir mobilnya.